Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Sumber Air Menyusut, BNPB Ungkap Pemadaman Karhutla Makin Sulit

Admin WGM - Monday, 24 August 2026 | 12:33 PM

Background
Sumber Air Menyusut, BNPB Ungkap Pemadaman Karhutla Makin Sulit
BNPB ungkap kendala penanganan karhutla di 6 provinsi prioritas akibat minimnya sumber air dan angin kencang. Simak strategi pemadaman darat dan udaranya di sini. (Kompas.com/)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap sejumlah kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Salah satu kendala utama adalah sumber air yang mulai menyusut di sejumlah lokasi kebakaran. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman, terutama dari darat, menjadi semakin sulit.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pemerintah terus mengoptimalkan operasi darat dan udara di enam provinsi prioritas. Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan. Pernyataan itu disampaikan Berton dalam rilis pers BNPB pada Minggu (23/8/2026).

"Pemerintah terus mengoptimalkan operasi darat dan udara di 6 provinsi prioritas adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan," kata Berton.

BNPB menyebut kondisi di sejumlah wilayah masih menghadapi tantangan berbeda dalam proses pemadaman. Jarak titik api dari sumber air menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petugas.

Di Kalimantan Tengah, misalnya, BNPB mencatat 2.479 hotspot dengan tingkat kepercayaan medium hingga tinggi berdasarkan pemantauan satelit hingga pukul 16.00 WIB. Luas lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai 7.634 hektare. Selain jumlah titik api yang tinggi, petugas juga menghadapi persoalan ketersediaan air untuk pemadaman.

"Titik api jauh dari sumber air. Dapat kami sampaikan bahwa beberapa titik api jauh dari sumber air, dan sumber air yang digunakan untuk pemadaman mulai kering," kata Berton.

Kondisi tersebut membuat petugas harus menghadapi keterbatasan pasokan air ketika melakukan pemadaman di lapangan. Situasi serupa juga menjadi kendala dalam penanganan karhutla di Kalimantan Selatan.

Di Kalimantan Selatan, BNPB mencatat luas lahan terbakar mencapai 8.620 hektare dan operasi Satgas Darat melibatkan 9.800 personel. Selain keterbatasan sumber air, angin kencang menjadi kendala karena dapat membuat api cepat meluas. Sebagian besar titik karhutla di wilayah tersebut juga berada di lahan gambut yang membuat pemadaman lebih sulit.

"Kendala yang lain adalah angin kencang sehingga membuat api cepat meluas dan sumber air terbatas," kata Berton.

Untuk mengatasi keterbatasan air, BNPB berencana menambah sumber air melalui pembangunan sumur dengan bantuan TNI. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman dari darat.

BNPB menegaskan pemadaman melalui jalur darat tetap menjadi strategi utama dalam penanganan karhutla. Sementara itu, pengerahan helikopter untuk water bombing digunakan sebagai pendukung ketika kondisi lapangan membutuhkan penanganan dari udara.

"Yang utama adalah dari darat. Udara adalah pendukung," ujar Berton.

Selain pembangunan sumur, normalisasi kanal juga dinilai diperlukan untuk mendukung ketersediaan air, terutama di wilayah dengan lahan gambut. Pemerintah terus melakukan operasi darat dan udara untuk mengendalikan kebakaran di enam provinsi prioritas. BNPB juga memantau perkembangan titik panas dan kondisi lapangan sebagai bagian dari penanganan karhutla.