Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Karhutla Kalsel Meluas, 6.029 Hektare Terbakar dan Ganggu Penerbangan

Admin WGM - Friday, 21 August 2026 | 02:21 PM

Background
Karhutla Kalsel Meluas, 6.029 Hektare Terbakar dan Ganggu Penerbangan
Kebakaran lahan Banjarbaru (Media Center /)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) terus meluas sepanjang 2026, dengan ribuan hektare lahan terdampak dan kabut asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Dilansir dari Kalselmaju.com, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat 1.552 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 18 Agustus 2026. Total luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 6.029,67 hektare.

Tiga wilayah yang tercatat paling terdampak ialah Kabupaten Banjar, Tanah Laut, dan Banjarbaru. Kabupaten Banjar mencatat 286 kejadian dengan luas terdampak 1.347,62 hektare, sedangkan Tanah Laut mengalami 263 kejadian dengan luas 1.244,08 hektare. Sementara itu, Banjarbaru mencatat 322 kejadian dengan luas lahan terdampak sekitar 1.029,7 hektare.

Besarnya kejadian karhutla tersebut kemudian memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah. Banjarbaru, Banjar, dan Tanah Laut dilaporkan mengalami kabut asap tebal setiap pagi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai berdampak pada sektor transportasi udara.

Gangguan penerbangan terjadi di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, pada 19 Agustus 2026. Sedikitnya 12 penerbangan dan kedatangan dilaporkan terdampak akibat kondisi kabut asap pada pagi hari tersebut. Informasi itu dikonfirmasi oleh General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor, Sthepanus Millyas.

Dampak terhadap penerbangan menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menjadi persoalan kebakaran lahan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas transportasi ketika kabut asap memengaruhi jarak pandang. Kondisi serupa menjadi perhatian karena kabut asap masih dilaporkan terjadi hingga pagi 20 Agustus 2026 di Banjarbaru, Banjar, dan Tanah Laut. Dengan demikian, penanganan karhutla perlu dilakukan untuk mencegah dampak yang semakin meluas.

Saat ini, tujuh kabupaten/kota di Kalsel telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla, yakni Banjarbaru, Banjar, Tapin, Barito Kuala, Tanah Bumbu, Hulu Sungai Selatan, dan Hulu Sungai Utara. Pemerintah Provinsi Kalsel juga menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla tingkat provinsi yang berlaku sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. Selain itu, Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla telah diaktifkan sejak 7 Juli 2026 untuk mempercepat penanganan di lapangan.

Penanganan karhutla dilakukan oleh personel BPBD Kalsel bersama TNI/Polri dan para relawan yang terus melakukan pemadaman di sejumlah titik. Upaya tersebut dilakukan karena asap dan api masih menjadi persoalan di wilayah terdampak. Pemerintah juga mendorong masyarakat ikut mencegah munculnya titik kebakaran baru.

Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. "Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, jangan membuang puntung rokok sembarangan, dan bersihkan lahan masing-masing," pesannya, Kamis (20/8/2026).

Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla di Kalsel hingga pertengahan Agustus 2026 telah berdampak cukup luas, terutama di Banjar, Tanah Laut, dan Banjarbaru. Selain menyebabkan kabut asap, kondisi tersebut telah memengaruhi aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Penanganan bersama antara pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat menjadi bagian penting untuk mengendalikan kebakaran yang masih berlangsung.