Sejarah Rijsttafel Tradisi Makan Mewah Hasil Perpaduan Budaya Belanda dan Indonesia
Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 10:50 AM


Dunia kuliner Indonesia memiliki jejak sejarah yang sangat panjang, termasuk dalam cara penyajian makanan. Salah satu yang paling ikonik namun sering kali terlupakan adalah Rijsttafel. Bagi sebagian orang, istilah ini mungkin terdengar asing, namun bagi pecinta sejarah kuliner, Rijsttafel adalah bukti nyata bagaimana budaya Eropa dan Nusantara pernah melebur dalam satu meja makan yang megah.
Secara harfiah, Rijsttafel berasal dari bahasa Belanda yang berarti Meja Nasi. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar makan nasi. Ini adalah sebuah konsep perjamuan formal yang menyajikan puluhan jenis hidangan dari berbagai daerah di Indonesia secara bersamaan.
Awal Mula Terciptanya Gaya Makan Bangsawan Kolonial
Rijsttafel muncul pada masa kolonial Hindia Belanda. Para pejabat dan pengusaha Belanda yang menetap di Indonesia kala itu merasa takjub dengan keberagaman kuliner lokal. Alih-alih hanya mencicipi satu atau dua menu, mereka menciptakan gaya makan baru untuk memamerkan kekayaan rempah-rempah dan variasi masakan Nusantara kepada para tamu.
Konsep ini menggabungkan etiket makan ala Eropa yang formal dengan kekayaan rasa masakan lokal. Biasanya, perjamuan dimulai dengan nasi putih yang diletakkan di tengah, kemudian dikelilingi oleh beragam lauk-pauk mulai dari rendang, sate, gado-gado, hingga berbagai jenis sambal dan kerupuk.
Simbol Status Sosial dan Kekuasaan Masa Lalu
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Rijsttafel bukan sekadar urusan perut. Tradisi ini menjadi simbol status sosial yang sangat tinggi. Semakin banyak jenis hidangan yang disajikan, semakin tinggi pula derajat tuan rumah yang mengadakan pesta tersebut.
Dalam acara-acara besar di hotel berbintang seperti Hotel Des Indes di Batavia, penyajian Rijsttafel dilakukan dengan sangat teatrikal. Puluhan pelayan pria berpakaian rapi akan berbaris masuk ke ruang makan, masing-masing membawa satu piring lauk yang berbeda. Pemandangan ini dirancang untuk menunjukkan betapa melimpahnya hasil alam tanah jajahan di bawah kendali penguasa saat itu.
Perpaduan Rasa yang Membentuk Identitas Baru
Meskipun konsepnya berasal dari Belanda, isi dari Rijsttafel adalah murni kekayaan lokal. Keunikan tradisi ini terletak pada keberanian menggabungkan rasa pedas dari Sumatera, rasa manis dari Jawa, hingga kelezatan rempah dari wilayah timur dalam satu kali duduk.
Beberapa menu yang wajib ada dalam Rijsttafel klasik antara lain adalah sayur lodeh, opor ayam, rendang daging, sambal goreng ati, telur balado, hingga pisang goreng sebagai penutup. Pengaruh Belanda terlihat pada penggunaan piring porselen dan peralatan makan perak, yang sebelumnya tidak umum digunakan oleh masyarakat lokal yang terbiasa makan menggunakan tangan atau alas daun pisang.
Nasib Rijsttafel Setelah Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia meraih kemerdekaan pada tahun 1945, popularitas Rijsttafel di tanah air sempat meredup karena dianggap sebagai simbol kolonialisme yang eksploitatif. Namun, hal sebaliknya terjadi di Belanda. Para tentara dan warga Belanda yang kembali dari Indonesia membawa tradisi ini pulang ke negara mereka.
Hingga saat ini, Rijsttafel justru menjadi salah satu menu paling populer di restoran-restoran Indonesia di Belanda. Di sana, Rijsttafel dianggap sebagai warisan budaya berharga yang menghubungkan sejarah kedua negara melalui rasa. Di Indonesia sendiri, gaya makan ini mulai kembali diminati di restoran-restoran bertema fine dining yang ingin mengangkat sisi historis dan kemewahan masa lalu.
Rijsttafel adalah bukti sejarah bahwa kuliner bersifat dinamis dan mampu melampaui batas politik. Meskipun lahir di masa yang penuh konflik, tradisi ini tetap meninggalkan warisan tentang keindahan berbagi makanan dan keragaman rasa Nusantara. Memahami Rijsttafel berarti menghargai bagaimana setiap bumbu dan teknik memasak telah membentuk identitas kuliner Indonesia yang mendunia seperti sekarang ini.
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
6 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
7 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
8 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
8 hours ago

Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
8 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
a day ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
a day ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
a day ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
a day ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
a day ago





