Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Rupiah Tembus Rekor Terendah, BI Guyur Pasar Obligasi Guna Tahan Depresiasi

Admin WGM - Tuesday, 19 May 2026 | 05:00 PM

Background
Rupiah Tembus Rekor Terendah, BI Guyur Pasar Obligasi Guna Tahan Depresiasi
Bank Indonesia Beli Obligasi SBN (Antara /)

Tekanan terhadap mata uang rupiah belum menunjukkan tanda-tanda mereda di pasar valuta asing internasional. Melemahnya nilai tukar mata uang garuda hingga menembus level psikologis terendah baru telah memicu respons cepat dari otoritas moneter tertinggi di tanah air. Guna menahan depresiasi yang terlalu dalam dan menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, Bank Indonesia mengambil langkah taktis dengan memperluas skala operasinya di pasar modal. Di sisi lain, pucuk pimpinan pemerintahan meminta para pelaku usaha dan masyarakat untuk menyikapi fluktuasi harian ini secara proporsional.

Langkah-langkah stabilitas yang agresif kini menjadi fokus utama otoritas kebijakan ekonomi nasional demi mencegah dampak rambatan (spillover effect) yang lebih luas terhadap sektor riil.

Intervensi Masif di Pasar Surat Berharga Negara

Menghadapi guncangan hebat di pasar keuangan global, Bank Indonesia tidak tinggal diam dan langsung meluncurkan bauran strategi intervensi berlapis. Melansir laporan Antara News, demi menstabilkan nilai tukar nasional, Indonesia meningkatkan intervensi di pasar obligasi (bond market) untuk menstabilkan rupiah. Otoritas moneter melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menyerap tekanan jual yang masif dari investor asing serta menjaga agar imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tetap kompetitif dan tidak melonjak terlalu tinggi.

Intervensi di pasar obligasi ini melengkapi operasi rutin Bank Indonesia yang juga dilakukan di pasar spot valuta asing dan pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Rupiah Cetak Rekor Terendah Baru dan Sikap Istana

Tekanan yang bertubi-tubi dari penguatan dolar Amerika Serikat akhirnya membawa mata uang domestik ke titik terlemahnya dalam sejarah. Melansir laporan Reuters, pergerakan nilai tukar mencatat bahwa rupiah Indonesia mencetak rekor terendah baru, namun presiden memilih untuk mengecilkan dampak harian (day-to-day impact) dari pelemahan tersebut. Kepala negara menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional seperti angka inflasi dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) masih berada dalam kondisi yang sehat, sehingga pelemahan harian ini dinilai lebih mencerminkan dinamika sentimen pasar jangka pendek.

Presiden mengimbau publik untuk tidak panik secara berlebihan, mengingat cadangan devisa negara masih sangat mumpuni untuk meredam volatilitas global yang sedang terjadi.

Analisis Ekonom: Adanya Faktor Risiko Fiskal

Meskipun otoritas moneter berfokus pada instrumen pasar uang, sejumlah pengamat ekonomi melihat adanya indikator lain di luar kebijakan suku bunga yang turut memengaruhi sentimen para investor. Melansir ulasan Jakarta Globe, seorang ekonom terkemuka memaparkan analisis bahwa merosotnya nilai tukar rupiah hingga melewati level 17.600 mencerminkan adanya risiko fiskal (fiscal risks), bukan semata-mata karena tekanan moneter (monetary pressure).

Para investor global diduga mulai mencermati postur anggaran belanja negara, proyeksi defisit APBN, serta beban pembiayaan utang luar negeri ke depan, yang dinilai memberikan sentimen tambahan terhadap persepsi risiko berinvestasi di Indonesia.

Sinergi Kebijakan Ekonomi Menghadapi Volatilitas

Guna merespons catatan kritis mengenai risiko fiskal tersebut, Kementerian Keuangan bersama dengan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi tata kelola keuangan negara. Pemerintah berjanji akan tetap menjaga kedisiplinan fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah batas aman undang-undang, sekaligus mengoptimalkan pendapatan negara di tengah ketidakpastian ekonomi global sisa tahun 2026 ini.

Dengan kombinasi intervensi pasar obligasi yang kuat oleh Bank Indonesia dan komitmen transparansi fiskal dari pemerintah, diharapkan kepercayaan investor asing dapat segera pulih, sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali bergerak stabil menuju level fundamentalnya yang aman bagi roda perekonomian nasional.