Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Rupiah Berdarah! Tembus Rp17.420 per Dolar AS, Terburuk dalam Sejarah Nasional

Admin WGM - Tuesday, 05 May 2026 | 08:30 PM

Background
Rupiah Berdarah! Tembus Rp17.420 per Dolar AS, Terburuk dalam Sejarah Nasional
Nilai Tukar Rupiah Semakin Melonjak (RM.ID /)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Mata uang Garuda dilaporkan mencapai level terendah sepanjang sejarah setelah menembus ambang psikologis baru di angka Rp17.400 per dolar AS. Gejolak pasar global dan ketidakpastian sentimen ekonomi domestik memicu aksi jual aset berisiko, yang mengakibatkan rupiah terpuruk ke zona merah sejak pembukaan pasar hingga penutupan perdagangan sore ini.

Dinamika ini menjadi alarm bagi stabilitas moneter nasional, mengingat pelemahan yang terjadi berlangsung cukup agresif dalam kurun waktu yang singkat.

Tekanan Sejak Pembukaan Pasar

Tekanan terhadap mata uang dalam negeri sudah terasa sejak pasar keuangan dibuka pada Selasa pagi. Melansir laporan Bloomberg Technoz, rupiah dibuka langsung di zona merah dan mencatatkan rekor terlemahnya di posisi Rp17.420 per dolar AS. Posisi ini mencerminkan tingginya premi risiko yang dibebankan investor terhadap aset-aset berbasis rupiah di tengah penguatan indeks dolar global yang kian tak terbendung.

Melansir CNBC Indonesia, pelemahan ini dikategorikan sebagai kondisi darurat pasar atau breaking news karena laju depresiasi yang melampaui ekspektasi banyak analis. Rupiah yang sempat bertahan di level Rp16.000-an pada bulan sebelumnya, kini harus mengakui keunggulan greenback yang terus mendapatkan sokongan dari kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Titik Terendah Sepanjang Sejarah

Sepanjang hari perdagangan, fluktuasi rupiah terus bergerak liar. Melansir data dari IDN Financials, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh rekor terendah baru di angka Rp17.394 per dolar AS sebelum kembali mengalami tekanan ke arah Rp17.400-an. Angka ini secara resmi memecahkan rekor pelemahan rupiah sebelumnya, menandai periode paling menantang bagi nilai tukar nasional sejak krisis moneter beberapa dekade silam.

Hingga penutupan sore hari, kondisi rupiah belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Melansir laporan Metro TV, nilai tukar rupiah akhirnya "mendarat" atau ditutup di posisi Rp17.394 per dolar AS pada sesi perdagangan sore. Meski terjadi sedikit penguatan dari posisi pembukaan pagi hari, level ini tetap dianggap sangat rawan bagi struktur impor dan beban utang luar negeri Indonesia.

Analisis dan Prediksi Pasar

Merespons kejatuhan rupiah yang menyentuh angka Rp17.427 per dolar AS di pertengahan hari, sejumlah analis ekonomi memberikan pandangan mengenai prospek ke depan. Melansir ulasan Kumparan, para analis menilai bahwa faktor eksternal berupa data inflasi AS yang masih membandel serta tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama pelarian modal (capital outflow) dari pasar negara berkembang.

"Pasar sedang merespons ketidakpastian global dengan mencari perlindungan pada dolar AS. Jika Bank Indonesia tidak melakukan intervensi yang agresif baik di pasar spot maupun domestik non-deliverable forward (DNDF), tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut hingga kuartal ketiga tahun ini," tulis laporan tersebut dalam sesi analisis pasar sore ini.

Dampak Terhadap Perekonomian Nasional

Pelemahan rupiah yang menembus Rp17.400 per dolar AS ini diprediksi akan memberikan dampak domino pada harga barang kebutuhan pokok dan biaya energi, terutama bahan bakar yang masih memiliki komponen impor tinggi. Sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku luar negeri juga diperkirakan akan melakukan penyesuaian harga jual guna menjaga margin keuntungan di tengah kenaikan biaya produksi.

Hingga berita ini diturunkan, Bank Indonesia dipastikan terus memantau pergerakan pasar secara intensif guna memastikan volatilitas rupiah tetap berada dalam batas yang dapat ditoleransi. Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tetap waspada dan melakukan mitigasi risiko keuangan terhadap aset-aset mereka di tengah tren penguatan dolar AS yang masih berlangsung kuat per Mei 2026.