Retaknya Romantisasi Budaya: Mengapa Kamu Harus Berhenti Memuja Berlebihan dan Membandingkan Diri di Tengah Isu Rasisme Global
Admin WGM - Friday, 13 February 2026 | 03:50 PM


Gelombang budaya pop Korea Selatan telah lama menjadi kiblat standar kecantikan dan gaya hidup bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun, belakangan ini, keharmonisan digital tersebut terusik oleh mencuatnya berbagai narasi mengenai rasisme yang dilakukan oleh segelintir oknum warga Korea Selatan terhadap orang Indonesia. Ketegangan yang sering dijuluki sebagai "perang siber" ini tidak hanya memicu perdebatan panas, tetapi juga membuka mata banyak pihak mengenai pentingnya melepaskan diri dari belenggu romantisasi berlebihan terhadap bangsa lain serta berhenti membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis.
Konflik ini bermula dari berbagai unggahan di platform media sosial yang menunjukkan diskriminasi rasial, baik melalui konten video maupun komentar merendahkan terkait fisik dan status ekonomi. Fenomena ini menjadi momentum krusial bagi kita untuk merenungkan kembali alasan mengapa membandingkan diri dengan standar bangsa lain, terutama yang ditampilkan di layar gawai, dapat menjadi racun bagi kesehatan mental dan kedaulatan jati diri.
Alasan pertama adalah runtuhnya mitos kesempurnaan etnis. Selama bertahun-tahun, banyak orang Indonesia terjebak dalam rasa rendah diri (inferiority complex) karena membandingkan warna kulit atau standar fisik mereka dengan apa yang mereka lihat di drama Korea atau panggung musik K-pop. Ketika isu rasisme ini mencuat, kita diingatkan bahwa di balik polesan industri hiburan yang megah, terdapat realitas sosiologis yang tidak selalu indah.
Menghentikan perbandingan diri berarti mulai menghargai keunikan fisik dan keberagaman rasial yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia. Kita tidak perlu merasa kurang berharga hanya karena tidak memenuhi standar kecantikan satu bangsa tertentu yang, ironisnya, mungkin tidak menghargai keberagaman kita.
Kedua, terjebak dalam sentimen negatif di media sosial akibat rasisme global dapat menguras energi emosional secara sia-sia. Membaca komentar rasis atau terlibat dalam adu argumen lintas negara hanya akan meningkatkan tingkat stres dan kecemasan. Saat kita melihat orang lain dari negara maju tampak memiliki kehidupan yang lebih baik, lalu mereka merendahkan bangsa kita, sering kali muncul dorongan untuk memvalidasi diri secara berlebihan. Namun, cara terbaik untuk melawan rasisme bukanlah dengan membanding-bandingkan pencapaian bangsa secara destruktif, melainkan dengan fokus pada pengembangan potensi diri sendiri di dunia nyata.
Ketiga, fenomena ini mengajarkan kita tentang pentingnya literasi digital dan batasan emosional. Media sosial sering kali menggeneralisasi perilaku individu menjadi perilaku seluruh bangsa. Jika kita membiarkan diri kita terus-menerus membandingkan nasib bangsa atau diri sendiri dengan konten yang berseliweran di media sosial Korea, kita hanya akan memelihara rasa benci atau rasa rendah diri yang tidak produktif.
Berhenti membandingkan diri berarti menyadari bahwa setiap bangsa memiliki masalah internalnya masing-masing, termasuk isu diskriminasi dan tekanan sosial yang sangat tinggi di Korea Selatan sendiri.
Selanjutnya, memahami bahwa keberhasilan sebuah negara dalam industri kreatif tidak serta-merta menjadikan mereka lebih superior secara kemanusiaan adalah bentuk kedewasaan berpikir. Dengan berhenti menempatkan budaya lain di atas alas tiang yang tak terjangkau, kita dapat mulai membangun kepercayaan diri yang berbasis pada nilai-nilai lokal.
Rasa bangga terhadap identitas nasional akan menjadi perisai yang kuat saat kita berhadapan dengan narasi rasisme di ruang digital. Kita tidak lagi membutuhkan validasi dari bangsa lain untuk merasa cukup atau sukses.
Terakhir, melepaskan diri dari perbandingan sosial lintas negara ini memungkinkan kita untuk fokus pada kolaborasi yang lebih sehat di masa depan. Rasisme adalah musuh bersama, namun cara melawannya adalah dengan menunjukkan kualitas diri yang mumpuni, bukan dengan cara terpuruk dalam rasa minder atau membalas dengan kebencian yang sama.
Kesehatan batin kita jauh lebih berharga daripada memenangkan perdebatan di kolom komentar dengan orang-orang yang tidak mengenal nilai kemanusiaan.
Konflik siber ini harus menjadi titik balik bagi kita untuk lebih mencintai diri sendiri dan budaya sendiri. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah tercapai jika kita terus menggunakan kacamata orang lain untuk menilai kehidupan kita. Dengan berhenti membandingkan diri, kita tidak hanya menjaga kesehatan mental pribadi, tetapi juga memperkuat martabat bangsa di mata dunia.
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
6 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
7 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
7 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
8 hours ago

Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
8 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
a day ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
a day ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
a day ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
a day ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
a day ago





