Pantas Panjang Umur, Ternyata Penduduk Okinawa Terapkan Prinsip Hidup Ini
Admin WGM - Wednesday, 18 February 2026 | 03:30 PM


Bagi masyarakat Jepang, setiap orang memiliki Ikigai di dalam dirinya, namun mencapainya memerlukan pencarian yang sabar dan mendalam. Ikigai sering kali divisualisasikan sebagai sebuah diagram Venn yang terdiri dari empat lingkaran utama yang saling beririsan. Untuk menemukan titik tengah yang sempurna, seseorang harus mampu menjawab empat pertanyaan mendasar dalam hidupnya:
1. Apa yang Disukai? (Passion)
Lingkaran pertama berkaitan dengan apa pun yang memberikan kegembiraan murni saat dilakukan. Ini bisa berupa hobi, aktivitas kreatif, atau bidang ilmu tertentu. Di sini, waktu seolah berhenti saat sedang mengerjakannya karena adanya rasa cinta yang mendalam terhadap aktivitas tersebut.
2. Apa yang Dikuasai? (Mission)
Lingkaran kedua menantang seseorang untuk melihat ke dalam diri mengenai bakat atau keahlian yang dimiliki. Apakah itu kemampuan memecahkan masalah, memasak, menulis kode, atau sekadar menjadi pendengar yang baik? Mengasah keahlian hingga tingkat mahir adalah bagian dari perjalanan menemukan makna.
3. Apa yang Dibutuhkan Dunia? (Vocation)
Ikigai tidak hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang hubungan dengan lingkungan sekitar. Dunia membutuhkan banyak hal: keindahan, inovasi, kedamaian, atau layanan kesehatan. Mengetahui bahwa apa yang dilakukan memberikan dampak positif bagi orang lain akan memberikan rasa kepuasan batin yang luar biasa.
4. Apa yang Bisa Menghasilkan Uang? (Profession)
Agar hidup tetap realistis dan berkelanjutan, aspek ekonomi tidak boleh diabaikan. Lingkaran terakhir berkaitan dengan hal yang dikerjakan dan bisa memberikan imbalan finansial. Pendapatan yang stabil memungkinkan seseorang untuk terus menjalankan tujuannya tanpa harus terbebani oleh kebutuhan dasar.
Menemukan Titik Tengah: Irisan Kehidupan
Titik temu dari keempat lingkaran itulah yang disebut sebagai Ikigai. Jika hanya memiliki rasa cinta dan bakat tanpa dibayar, seseorang mungkin akan merasa bahagia namun tidak memiliki kemapanan finansial. Sebaliknya, jika hanya bekerja demi uang tanpa rasa cinta, hidup akan terasa kosong meskipun secara materi berkecukupan.
Ikigai bertindak sebagai penyeimbang. Dengan menemukan irisan tersebut, stres dalam bekerja cenderung menurun, kesehatan mental lebih terjaga, dan secara fisik tubuh menjadi lebih bugar karena adanya hormon kebahagiaan yang diproduksi secara alami oleh otak setiap hari.
Langkah Sederhana Memulai Ikigai
Mencari Ikigai tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Di Okinawa, Ikigai bisa sesederhana merawat kebun kecil, berbagi teh dengan tetangga, atau mengajar cucu keterampilan tradisional. Kuncinya adalah memulai dari hal kecil, menerima diri sendiri, dan menghargai keberadaan di saat ini (mindfulness).
Ikigai bukanlah sebuah garis finis, melainkan sebuah perjalanan harian. Dengan memahami apa yang dicintai, dikuasai, dibutuhkan dunia, dan dihargai secara finansial, hidup tidak lagi hanya tentang bertahan dari hari Senin ke Jumat. Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap detik kehidupan memiliki nilai, dan kebahagiaan sejati ditemukan saat kita mampu menyelaraskan niat hati dengan tindakan nyata di dunia.
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
7 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
7 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
8 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
8 hours ago

Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
9 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
a day ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
a day ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
a day ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
a day ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
a day ago





