Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Ngaliwet Eksis Terus! Tradisi Orang Sunda yang Tak Lekang Zaman dan Umur

Admin WGM - Wednesday, 11 February 2026 | 09:50 AM

Background
Ngaliwet Eksis Terus! Tradisi Orang Sunda yang Tak Lekang Zaman dan Umur
Ngaliwet Tradisi Khas Sunda, Jawa Barat (Gora Juara /)

Indonesia memang gudangnya tradisi unik yang selalu berhasil bikin dunia terpana. Salah satu yang paling melegenda adalah tradisi Lompat Batu dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Bagi masyarakat lokal, tradisi ini dikenal dengan sebutan Fahombo. Pemandangan seorang pemuda yang melayang di atas tumpukan batu setinggi dua meter mungkin sering kita lihat di buku pelajaran atau uang kertas zaman dulu, namun maknanya jauh lebih dalam dari sekadar aksi akrobatik.

Fahombo bukan sekadar olahraga atau ajang pamer ketangkasan. Ini adalah sebuah ritual sakral yang menjadi tolok ukur apakah seorang pemuda sudah layak disebut sebagai pria dewasa dan ksatria sejati.

Jejak sejarah Lompat Batu tidak bisa dilepaskan dari budaya perang masyarakat Nias di masa lampau. Pada zaman dahulu, desa-desa di Nias dikelilingi oleh pagar bambu atau benteng batu yang tinggi sebagai pertahanan dari serangan musuh. Untuk bisa menembus pertahanan lawan, para prajurit dituntut memiliki kemampuan melompat yang luar biasa.

Dari kebutuhan militer inilah, Fahombo lahir. Para pemuda dilatih sejak dini untuk melompati rintangan tinggi agar siap menjadi petarung yang handal di medan perang. Seiring berakhirnya era peperangan antar desa, fungsi Fahombo bergeser menjadi tradisi uji kedewasaan yang tetap dipertahankan hingga saat ini sebagai identitas budaya masyarakat Nias, khususnya di wilayah Nias Selatan seperti Desa Bawomataluo.

Batu yang digunakan dalam tradisi ini bukanlah batu sembarangan. Tumpukan batu berbentuk piramida terpangkas ini memiliki ketinggian sekitar 2 meter dengan ketebalan mencapai 40 centimeter. Di bagian atasnya, terkadang diletakkan batu runcing atau penanda tambahan yang menambah tingkat kesulitan.

Filosofi di balik tumpukan batu ini adalah "ambang batas". Melompati batu tersebut melambangkan kemampuan seorang pria untuk melewati rintangan besar dalam hidupnya. Jika seorang pemuda berhasil melampauinya tanpa menyentuh permukaan batu sedikit pun, ia dianggap sudah memiliki fisik yang kuat dan mental yang matang untuk memikul tanggung jawab sebagai orang dewasa, termasuk untuk menikah atau maju ke medan perang (di masa lalu).

Keberhasilan melompati batu setinggi dua meter tidak datang dalam semalam. Para anak laki-laki di Nias sudah mulai berlatih sejak usia 7 tahun. Mereka biasanya memulai dengan melompati tali, lalu berpindah ke tumpukan bambu, hingga akhirnya berani mencoba batu yang sesungguhnya.

Uniknya, masyarakat Nias percaya bahwa faktor keberhasilan Fahombo tidak hanya ditentukan oleh latihan fisik, tetapi juga faktor keturunan dan restu leluhur. Ada kepercayaan lokal bahwa jika seseorang memiliki darah pelompat dari ayahnya, ia akan lebih mudah menaklukkan batu tersebut. Sebelum melompat, para pemuda biasanya melakukan ritual tertentu untuk memohon keselamatan dan kekuatan kepada para leluhur.

Melakukan Fahombo membutuhkan teknik yang sangat presisi. Pelompat harus mengambil ancang-ancang lari yang tepat, lalu menginjak sebuah batu tumpuan kecil (fatu titi) sebelum melenting ke udara. Saat berada di titik tertinggi, pelompat harus melipat kakinya agar tidak menyentuh ujung batu.

Pendaratan adalah bagian yang paling berisiko. Salah posisi kaki sedikit saja bisa menyebabkan cedera serius atau patah tulang. Itulah mengapa keberhasilan seorang pemuda melakukan Fahombo selalu disambut dengan sorak-sorai meriah dan pesta adat. Keluarga pemuda tersebut biasanya akan menyembelih ternak sebagai bentuk syukur atas keberhasilan sang putra menjadi "pria sejati".

Kini, Lompat Batu telah menjadi magnet utama pariwisata di Pulau Nias. Wisatawan dari berbagai belahan dunia rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk menyaksikan secara langsung kegagahan para pemuda Nias mengenakan pakaian adat hitam-emas sambil melayang di udara.

UNESCO bahkan melirik kekayaan budaya Nias ini sebagai bagian dari warisan dunia yang harus dilindungi. Bagi masyarakat Nias, perhatian dunia ini menjadi suntikan semangat untuk terus melestarikan Fahombo. Mereka ingin menunjukkan bahwa di tengah gempuran modernitas, nilai-nilai ksatria dan kerja keras yang diajarkan oleh leluhur melalui batu tetap kokoh berdiri.

Tradisi Lompat Batu Nias adalah bukti nyata betapa kayanya sejarah Indonesia yang penuh dengan nilai keberanian. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan tentang bagaimana seorang pria harus menempa dirinya agar kuat menghadapi tantangan. Selama batu-batu di desa adat Nias masih tegak berdiri, selama itu pula semangat ksatria pemuda Nusantara akan terus bergema hingga ke ujung dunia.