Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
How's Going

NASA Cetak Sejarah! Misi Berawak Artemis II Tuntas, Perisai Panas Orion Teruji Ekstrem

Admin WGM - Saturday, 11 April 2026 | 11:00 AM

Background
NASA Cetak Sejarah! Misi Berawak Artemis II Tuntas, Perisai Panas Orion Teruji Ekstrem
Pendaratan Awak Kapsul Orion pada Misi Artemis II (NASA /)

Sejarah baru di bidang eksplorasi ruang angkasa tercipta setelah wahana antariksa Orion milik NASA berhasil melakukan pendaratan di laut (splashdown) dengan sempurna di Samudra Pasifik, Jumat (10/4/2026) waktu setempat. Keberhasilan ini menandai berakhirnya misi Artemis II selama sepuluh hari yang membawa empat astronaut melintasi sisi jauh Bulan, sekaligus menjadi misi berawak pertama ke satelit alami Bumi tersebut dalam lebih dari setengah abad.

Kapsul Orion yang membawa komandan Reid Wiseman, pilot Victor Glover, spesialis misi Christina Koch dari NASA, serta Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA), mendarat pada pukul 10.42 waktu Pasifik. Pendaratan ini disambut sorak sorai di pusat kendali misi di Houston serta kapal pemulihan Angkatan Laut AS yang telah bersiaga di lokasi.

Tahap paling kritis dalam misi hari ke-10 ini dimulai saat Orion memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan hampir 40.000 kilometer per jam. Pada fase tersebut, perisai panas Orion harus menghadapi suhu ekstrem yang mencapai 2.760 derajat Celsius sekitar setengah dari suhu permukaan Matahari akibat gesekan atmosfer yang sangat padat.

Sistem parasut Orion bekerja secara bertahap, mulai dari parasut pemandu hingga tiga parasut utama berwarna merah-putih yang mengembang sempurna untuk memperlambat laju wahana sebelum menyentuh permukaan air. Tim pemulihan melaporkan bahwa struktur wahana tetap stabil dan sistem komunikasi berfungsi dengan baik sepanjang proses re-entry hingga pendaratan.

"Ini adalah hari yang luar biasa bagi kemanusiaan. Kembalinya Orion bukan sekadar akhir dari sebuah misi, melainkan bukti bahwa sistem perlindungan termal dan navigasi kita siap untuk membawa manusia kembali menetap di Bulan," ujar Administrator NASA dalam konferensi pers sesaat setelah pendaratan terkonfirmasi.

Sesaat setelah pendaratan, tim medis dan penyelam dari Angkatan Laut AS bergerak cepat menuju kapsul yang mengapung. Keempat astronaut dilaporkan berada dalam kondisi sehat dan bersemangat. Mereka segera dievakuasi menggunakan helikopter menuju kapal induk untuk menjalani pemeriksaan kesehatan awal pascapenerbangan jarak jauh.

Selama sepuluh hari di luar angkasa, para awak Artemis II telah menempuh perjalanan lebih dari 1,4 juta mil. Mereka melakukan serangkaian uji coba sistem pendukung kehidupan, navigasi manual, dan komunikasi optik laser yang akan menjadi standar operasional untuk misi pendaratan di permukaan Bulan pada masa mendatang.

"Melihat Bumi dari kejauhan melampaui cakrawala Bulan memberikan perspektif baru bagi kami. Kami kembali dengan data yang sangat berharga untuk rekan-rekan kami yang akan mendarat di kutub selatan Bulan," ungkap Reid Wiseman dalam pesan singkatnya pasca-evakuasi.

Kesuksesan Artemis II merupakan validasi final bagi roket Space Launch System (SLS) dan wahana Orion sebelum NASA melangkah ke misi Artemis III yang jauh lebih ambisius. Misi berikutnya dijadwalkan akan mendaratkan manusia, termasuk perempuan pertama dan orang kulit berwarna pertama, di wilayah kutub selatan Bulan yang kaya akan es air.

Data telemetri yang dikumpulkan selama fase pendaratan Artemis II akan dianalisis secara mendalam dalam beberapa bulan ke depan. Para teknisi akan mengevaluasi integritas struktur perisai panas serta performa sistem pembersihan karbon dioksida di dalam kabin untuk memastikan keamanan maksimal bagi misi pendaratan yang lebih lama.

Dampak bagi Eksplorasi Global

Keberhasilan ini juga memperkuat posisi Amerika Serikat dan mitra internasionalnya dalam perlombaan ruang angkasa modern. Kolaborasi dengan Kanada dalam misi ini menjadi bukti bahwa eksplorasi luar angkasa masa kini dibangun di atas pondasi kerja sama multilateral.

Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari program Artemis. Dengan tuntasnya misi Artemis II, impian untuk membangun pangkalan permanen di Bulan sebagai batu loncatan menuju Mars kini bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan target yang semakin nyata dalam jangkauan teknologi manusia.