Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Mengapa Kita Sering Merasa Terjatuh saat Baru Mulai Tidur? Mengenal Fenomena Hypnic Jerk

Admin WGM - Thursday, 26 February 2026 | 07:00 PM

Background
Mengapa Kita Sering Merasa Terjatuh saat Baru Mulai Tidur? Mengenal Fenomena Hypnic Jerk
Hypnic Jerk (Health /)

Bayangkan Anda baru saja merebahkan tubuh setelah hari yang melelahkan. Mata mulai terpejam, kesadaran perlahan memudar, dan tubuh mulai rileks. Namun, tiba-tiba sebuah sensasi mengejutkan muncul: Anda merasa seolah-olah kaki melangkah ke ruang hampa atau terjatuh dari ketinggian yang sangat jauh. Secara refleks, kaki atau tangan Anda tersentak hebat, jantung berdegup kencang, dan Anda pun terbangun dalam keadaan terkejut.

Fenomena ini bukanlah pertanda gangguan mistis atau penyakit saraf yang mematikan. Dalam dunia medis, sensasi sentakan tiba-tiba saat mulai tertidur ini dikenal dengan istilah hypnic jerk atau sleep start.

Apa Itu Hypnic Jerk?

Secara teknis, hypnic jerk adalah bentuk dari mioklonus, yaitu kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak disengaja. Fenomena ini biasanya terjadi pada fase hypnagogic, yakni masa transisi antara kondisi terjaga (bangun) menuju tahap tidur yang paling ringan.

Statistik menunjukkan bahwa sekitar 60 hingga 70 persen penduduk dunia pernah mengalami fenomena ini setidaknya sekali dalam hidup mereka. Meski sering kali disertai dengan mimpi singkat seperti terpeleset, jatuh, atau tersandung, para ahli menekankan bahwa ini adalah peristiwa fisiologis yang normal dan umumnya tidak memerlukan penanganan medis khusus.

Mengapa Otot Tersentak? Dua Teori Utama

Hingga saat ini, para ilmuwan saraf masih mendiskusikan penyebab pasti mengapa otak memerintahkan otot untuk tersentak saat kita mulai terlelap. Namun, terdapat dua teori utama yang paling banyak diterima:

1. Pertarungan antara Kesadaran dan Relaksasi Teori pertama menyebutkan adanya "pertempuran" di dalam otak antara sistem pengaktif retikular (yang menjaga kita tetap bangun) dan inti preoptik ventrolateral (yang menginduksi tidur). Saat tubuh mulai beralih ke fase tidur, kendali otak terhadap otot melemah. Namun, jika sistem yang menjaga kita tetap terjaga masih cukup aktif, ia akan melakukan "serangan balik" berupa sentakan otot yang tidak sinkron, sehingga menciptakan reaksi fisik yang mendadak.

2. Mekanisme Evolusi Purba Teori kedua bersifat evolusioner. Beberapa peneliti berpendapat bahwa hypnic jerk adalah sisa-sisa mekanisme pertahanan nenek moyang manusia purba yang tidur di atas pohon. Saat otot-otot menjadi terlalu rileks saat mulai tidur, otak salah menginterpretasikan relaksasi tersebut sebagai tanda bahwa tubuh akan jatuh dari pohon. Akibatnya, otak memicu sentakan otot secara instan agar individu tersebut terbangun dan memperbaiki posisinya supaya tidak benar-benar jatuh.

Faktor Pemicu yang Memperparah Sentakan

Meskipun hypnic jerk adalah hal yang normal, frekuensi dan intensitasnya dapat meningkat akibat gaya hidup tertentu. Jika Anda merasa terlalu sering mengalami sensasi "terjatuh" ini, beberapa faktor berikut mungkin menjadi penyebabnya:

  • Kelelahan Ekstrem: Saat tubuh terlalu lelah, otak sering kali ingin memasuki fase tidur lebih cepat dari biasanya. Ketidaksinkronan antara proses tidur otak dan relaksasi fisik ini sering memicu sentakan.
  • Konsumsi Kafein dan Nikotin: Zat stimulan seperti kafein dapat membuat otak tetap waspada meskipun tubuh sudah lelah. Hal ini menciptakan hambatan pada transisi tidur yang mulus.
  • Stres dan Kecemasan: Pikiran yang cemas membuat sistem saraf tetap dalam kondisi "siaga". Kondisi mental yang tegang menyulitkan tubuh untuk rileks secara total, sehingga memicu reaksi kejut saat mulai terlelap.
  • Kekurangan Nutrisi: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan magnesium, kalsium, atau zat besi dapat memengaruhi cara otot berkontraksi dan meningkatkan kemungkinan mioklonus saat tidur.

Dampak dan Kapan Harus Waspada

Pada umumnya, hypnic jerk tidak berbahaya. Dampak paling nyata biasanya hanyalah rasa terkejut sesaat atau gangguan tidur bagi pasangan tidur yang mungkin terkena tendangan refleks. Namun, fenomena ini dapat menjadi masalah jika frekuensinya sangat sering hingga menyebabkan insomnia atau kecemasan untuk mulai tidur (sleep onset anxiety).

Anda disarankan berkonsultasi dengan dokter jika sentakan tersebut disertai dengan gerakan yang sangat keras hingga menyebabkan cedera, atau jika sentakan terjadi berkali-kali sepanjang malam (bukan hanya saat baru mulai tertidur). Kondisi tersebut mungkin merupakan indikasi dari gangguan tidur lain, seperti Restless Legs Syndrome (RLS) atau gangguan gerakan tungkai periodik.

Cara Mengurangi Frekuensi Hypnic Jerk

Bagi Anda yang sering merasa terganggu dengan fenomena ini, langkah-langkah sleep hygiene atau kebersihan tidur berikut dapat membantu:

  1. Atur Jadwal Tidur yang Konsisten: Tidur dan bangun pada jam yang sama membantu otak mengelola transisi fase tidur dengan lebih baik.
  2. Batasi Kafein di Sore Hari: Hindari konsumsi kopi, teh, atau minuman berenergi setidaknya enam jam sebelum waktu tidur.
  3. Teknik Relaksasi: Melakukan meditasi, membaca buku, atau mandi air hangat sebelum tidur dapat menurunkan tingkat stres dan menenangkan sistem saraf.
  4. Cukupi Kebutuhan Mineral: Pastikan asupan makanan Anda kaya akan magnesium dan kalsium untuk menjaga kesehatan fungsi saraf dan otot.

Fenomena merasa terjatuh saat mulai tidur atau hypnic jerk adalah pengingat unik tentang betapa kompleksnya cara kerja otak manusia. Meskipun mengejutkan, hal ini hanyalah tanda bahwa tubuh Anda sedang berusaha beralih dari dunia terjaga menuju alam mimpi. Dengan mengelola stres dan menjaga gaya hidup sehat, sentakan misterius ini tidak akan menjadi penghalang bagi Anda untuk mendapatkan istirahat yang berkualitas.