Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
Health

Jangan Sampai Buta! Ini Alasan Kenapa Lihat Gerhana Matahari Butuh Kacamata Khusus

Admin WGM - Thursday, 26 February 2026 | 05:30 PM

Background
Jangan Sampai Buta! Ini Alasan Kenapa Lihat Gerhana Matahari Butuh Kacamata Khusus
Fenomena astronomi (palopopos /)

Fenomena gerhana, baik itu matahari maupun bulan, selalu berhasil menarik ribuan orang untuk mendongak ke langit. Namun, di balik keindahannya, terdapat risiko kesehatan yang sangat kontras di antara keduanya. Sering kali muncul pertanyaan: "Mengapa kita harus memakai kacamata hitam khusus saat gerhana matahari, tapi boleh melihat gerhana bulan dengan mata telanjang?" Jawaban dari pertanyaan ini melibatkan prinsip dasar fisika cahaya dan bagaimana anatomi mata manusia merespons radiasi sisa. Memahami perbedaan keamanan ini bukan hanya soal kenyamanan, melainkan langkah krusial untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen yang disebut solar retinopati.

Mari kita mulai dengan fenomena yang paling aman: Gerhana Bulan. Saat gerhana bulan terjadi, bulan tidak memancarkan cahayanya sendiri. Ia hanyalah sebuah benda langit yang memantulkan sinar matahari. Ketika bumi menutupi matahari, cahaya yang sampai ke permukaan bulan menjadi sangat redup dan berubah warna menjadi kemerahan. Intensitas cahaya bulan saat gerhana bahkan lebih rendah daripada bulan purnama biasa. Oleh karena itu, melihat gerhana bulan secara langsung sama amannya dengan melihat pemandangan malam hari. Anda tidak memerlukan filter, kacamata khusus, atau alat pelindung apa pun. Mata Anda akan tetap aman meski menatapnya selama berjam-jam.

Kondisi sebaliknya berlaku sepenuhnya pada Gerhana Matahari. Meski matahari tertutup oleh piringan bulan (bahkan hingga 99% pada gerhana parsial), sisa cahaya yang terlihat tetap sangat intens. Masalah utamanya bukanlah cahaya tampak yang menyilaukan, melainkan radiasi ultraviolet (UV) dan inframerah yang tidak terlihat. Saat Anda menatap matahari, lensa mata Anda akan memfokuskan cahaya tersebut tepat ke makula, bagian paling sensitif dari retina. Radiasi ini secara harfiah dapat "membakar" sel-sel fotoreseptor di mata Anda tanpa Anda sadari, karena retina tidak memiliki saraf perasa sakit. Kerusakan ini sering kali bersifat permanen dan tidak dapat diobati.

Penting untuk ditekan bahwa kacamata hitam biasa, meski sangat gelap, tidak cukup kuat untuk melindungi mata saat gerhana matahari. Kacamata hitam standar hanya mengurangi cahaya tampak, namun tetap membiarkan radiasi UV dan inframerah menembus masuk. Untuk melihat gerhana matahari dengan aman, Anda wajib menggunakan kacamata khusus yang memenuhi standar internasional ISO 12312-2. Filter ini mampu mereduksi cahaya matahari hingga 100.000 kali lebih kuat dibandingkan kacamata hitam biasa.

Satu-satunya waktu di mana mata telanjang dianggap "aman" saat gerhana matahari adalah pada fase Totalitas (ketika matahari tertutup 100% oleh bulan dan hanya menyisakan korona putih). Namun, fase ini biasanya hanya berlangsung selama beberapa detik hingga menit. Begitu piringan matahari muncul kembali sedikit saja, kacamata khusus harus segera dipakai kembali. Bagi masyarakat awam, sangat disarankan untuk tetap menggunakan pelindung sepanjang waktu guna menghindari risiko kesalahan prediksi waktu totalitas.

Mempelajari perbedaan ini adalah bentuk literasi sains yang sederhana namun vital. Gerhana bulan adalah pesta visual bagi siapa saja, sementara gerhana matahari adalah laboratorium alam yang menuntut kedisiplinan dan alat pelindung yang tepat. Dengan memahami risiko masing-masing, kita tetap bisa menikmati keajaiban alam semesta tanpa harus mengorbankan kesehatan indra penglihatan kita.

Hingga saat ini, edukasi mengenai penggunaan kacamata filter ISO tetap menjadi prioritas utama setiap kali fenomena gerhana matahari diumumkan, karena satu detik kecerobohan bisa berakibat pada kegelapan seumur hidup.