Kebangkitan Barang Analog: Mengapa yang "Jadul" Kembali Jadi Primadona?
Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 06:09 PM


Di dunia di mana kamu bisa mengambil ribuan foto dengan sekali klik di iPhone, mengapa anak muda sekarang justru rela berburu digicam (kamera digital saku) tahun 2000-an yang hasilnya sedikit blur? Di era Spotify yang serba ada, kenapa penjualan piringan hitam (vinyl) justru melonjak tajam?
Fenomena ini bukan sekadar tren fashion atau gaya-gayaan "anak senja", Winners. Ini adalah sinyal bahwa kita mulai merindukan sesuatu yang nyata di tengah dunia yang semakin virtual. Mari kita bedah alasannya!
1. Merindukan Sesuatu yang Bisa Disentuh (Tangibility)
Segala sesuatu yang digital itu abstrak. Lagu di Spotify hanyalah data, foto di Instagram hanyalah piksel.
- Pengalaman Sensorik: Ada kepuasan tersendiri saat kamu membalik halaman buku fisik, mencium aroma kertasnya, atau merasakan beratnya sebuah kamera tua. Barang analog memberikan pengalaman sensorik yang tidak bisa diberikan oleh layar sentuh. Bagi kita, Winners, benda fisik terasa lebih "memiliki jiwa".
2. Estetika "Ketidaksempurnaan"
Kita sudah bosan dengan hasil foto yang terlalu tajam, terlalu bersih, dan terlalu diedit oleh AI.
- The Beauty of Flaws: Hasil foto digicam yang sedikit grainy atau suara "kresek-kresek" dari piringan hitam memberikan kesan yang lebih jujur dan manusiawi. Ketidaksempurnaan itulah yang justru menciptakan mood dan atmosfer unik yang kini sering disebut sebagai estetika retro atau vintage.
3. "Digital Detox" Terselubung
Menggunakan barang analog memaksa kita untuk melambat.
- Mindfulness: Saat menggunakan kamera analog atau mendengarkan satu album penuh di piringan hitam, kamu tidak bisa scrolling atau skipping dengan cepat. kamu dipaksa untuk hadir sepenuhnya pada momen tersebut. Ini adalah cara halus bagi kita untuk lepas sejenak dari kecanduan notifikasi dan kecepatan dunia internet yang melelahkan.
4. Proses adalah Bagian dari Kesenangan
Dunia digital menawarkan kecepatan, tapi dunia analog menawarkan proses.
- Menunggu hasil cetak foto, mencari koleksi piringan hitam di toko musik tua, atau sekadar pergi ke perpustakaan untuk membaca buku fisik adalah sebuah "ritual". Bagi banyak anak muda, proses yang memakan waktu ini justru memberikan rasa pencapaian (fulfillment) yang tidak didapatkan dari cara-cara instan.
Kebangkitan barang analog adalah bentuk perlawanan kita terhadap dunia yang serba virtual dan serba cepat. Kita tidak benar-benar ingin kembali ke masa lalu, tapi kita ingin membawa kembali "perasaan" nyata ke masa sekarang. Analog bukan berarti kuno; analog adalah cara kita untuk tetap membumi di tengah arus digital yang kencang.
Gimana menurut kamu, Winners? Apakah kamu juga mulai mengoleksi barang-barang "jadul" belakangan ini?
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
11 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
12 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
12 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
13 hours ago

Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
13 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
a day ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
a day ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
a day ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
a day ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
a day ago





