Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Jalan Martandu Lumpuh, Ditlantas Polda Sultra Alihkan Arus Lalu Lintas Kendari

Admin WGM - Monday, 11 May 2026 | 08:45 AM

Background
Jalan Martandu Lumpuh, Ditlantas Polda Sultra Alihkan Arus Lalu Lintas Kendari
Banjir Kendari (CNN Indonesia /)

Bencana banjir kembali melanda Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menyusul tingginya intensitas curah hujan yang memicu luapan Kali Wanggu sejak akhir pekan ini. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, ratusan rumah warga terendam air dengan ketinggian bervariasi, memaksa ribuan jiwa terdampak untuk mencari perlindungan. Kondisi ini juga melumpuhkan sejumlah akses jalan protokol, sehingga pihak kepolisian harus melakukan rekayasa lalu lintas guna menjamin keselamatan pengguna jalan.

Pemerintah kota kini telah menetapkan status tanggap darurat dan menyiagakan personel gabungan guna melakukan evakuasi serta penyaluran bantuan logistik di titik-titik pengungsian.

Ribuan Warga Terdampak dan Ratusan Rumah Terendam

Dampak banjir kali ini dilaporkan jauh lebih luas dibandingkan periode sebelumnya. Melansir laporan Antara News, BPBD Kota Kendari mencatat sedikitnya 657 unit rumah warga terendam banjir. Dampak sosial dari bencana ini mencapai angka yang signifikan, yakni sebanyak 2.985 jiwa terdampak secara langsung.

Warga yang terdampak mayoritas berada di pemukiman yang terletak di bantaran sungai dan dataran rendah. Banyak dari mereka harus menyelamatkan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi sementara air terus merangkak naik sejak Minggu malam. Petugas BPBD bersama relawan kini fokus pada pendataan kelompok rentan, seperti lansia dan balita, untuk diprioritaskan dalam proses evakuasi ke posko-posko darurat yang telah disediakan pemerintah.

Luapan Kali Wanggu Jadi Pemicu Utama

Penyebab utama banjir yang merendam ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara ini adalah ketidakmampuan daerah aliran sungai dalam menampung debit air kiriman. Melansir dokumentasi Antara Foto, banjir dipicu oleh luapan Kali Wanggu yang melimpah hingga ke pemukiman penduduk di sekitarnya. Debit air yang besar dari wilayah hulu diperparah dengan kondisi sistem drainase kota yang tersumbat, sehingga air tidak dapat mengalir dengan cepat menuju muara.

Beberapa kawasan langganan banjir, seperti Kelurahan Lepo-Lepo dan sekitarnya, tercatat mengalami dampak paling parah dengan ketinggian air yang mencapai pinggang orang dewasa di beberapa titik terdalam. Tim SAR menggunakan perahu karet untuk menyisir gang-gang sempit guna memastikan tidak ada warga yang terjebak di dalam rumah.

Pengalihan Arus di Jalan Martandu

Selain merendam pemukiman, banjir juga memutus akses transportasi di sejumlah ruas jalan utama. Melansir laporan resmi Tribratanews Polda Sultra, Sat PJR Ditlantas Polda Sultra telah mengambil langkah diskresi dengan melakukan pengalihan arus lalu lintas di Jalan Martandu. Langkah ini diambil karena genangan air di ruas jalan tersebut dinilai terlalu berisiko bagi kendaraan roda dua maupun roda empat.

Petugas kepolisian disiagakan di setiap persimpangan untuk mengarahkan pengendara menuju jalur alternatif yang lebih aman. "Pengalihan arus dilakukan guna menghindari kendaraan yang mogok di tengah banjir serta mencegah terjadinya kecelakaan akibat lubang yang tertutup air. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan," tulis keterangan resmi Polda Sultra.

Upaya Penanggulangan dan Kewaspadaan Lanjutan

Hingga Senin pagi (11/5/2026), proses evakuasi masih terus berlangsung. Pemerintah Kota Kendari melalui Dinas Sosial telah mendirikan dapur umum dan posko kesehatan di lokasi pengungsian utama. Fokus utama saat ini adalah pemenuhan kebutuhan dasar bagi ribuan warga yang kehilangan akses terhadap air bersih dan bahan pangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan di wilayah Sulawesi Tenggara. Masyarakat diminta untuk tetap siaga, terutama saat malam hari, guna mengantisipasi kenaikan debit air susulan. Penanganan banjir di hilir Kali Wanggu diharapkan segera mendapatkan solusi jangka panjang melalui normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.