Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Hormuz Mereda, Kospi Korea Selatan Meledak ke Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Admin WGM - Thursday, 07 May 2026 | 04:00 PM

Background
Hormuz Mereda, Kospi Korea Selatan Meledak ke Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Rekor Kospi Korea Selatan (Korea.net /)

Pasar ekuitas global dan regional Asia mencatatkan penguatan signifikan pada pembukaan perdagangan pekan pertama Mei 2026. Sentimen positif ini dipicu oleh keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menjeda operasi militer di Selat Hormuz, yang segera direspons pasar sebagai sinyal deeskalasi ketegangan di Timur Tengah. Langkah tersebut memicu gelombang optimisme di kalangan investor, yang mendorong indeks saham utama di kawasan Asia Pasifik bergerak kompak di zona hijau, dengan bursa Korea Selatan memimpin penguatan melalui capaian rekor sejarah baru.

Kenaikan ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi global yang sebelumnya sempat tertekan oleh kekhawatiran gangguan rantai pasok energi dunia.

Jeda Operasi Hormuz dan Gairah Bursa Global

Keputusan Washington untuk menghentikan sementara pengawalan kapal di jalur maritim paling krusial dunia menjadi katalisator utama pergerakan pasar. Melansir laporan Bloomberg Technoz, jeda operasi di Selat Hormuz memberikan harapan akan terciptanya perdamaian jangka panjang dan stabilitas harga energi. Investor yang sebelumnya bersikap defensif kini mulai kembali masuk ke aset berisiko (risk-on), yang secara langsung mendongkrak kinerja bursa saham di New York hingga London.

Pasar menilai bahwa pengurangan kehadiran militer di wilayah tersebut akan menurunkan biaya asuransi pengiriman global dan menekan premi risiko pada komoditas minyak mentah. Dampaknya, optimisme ini menjalar cepat ke bursa-bursa di kawasan Asia yang memiliki ketergantungan tinggi pada stabilitas arus perdagangan internasional.

Rekor Baru Kospi dan Dominasi Saham Teknologi

Di Asia, bursa Korea Selatan tampil sebagai bintang utama. Melansir laporan CNBC Indonesia, indeks Kospi mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa setelah dibuka melesat tajam pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Penguatan ini didorong oleh aksi beli masif pada saham-saham sektor teknologi dan manufaktur semikonduktor yang diproyeksikan akan diuntungkan oleh penurunan biaya logistik global.

Selain Korea Selatan, bursa Jepang dan Hong Kong juga terpantau konsisten bergerak di jalur penguatan. "Kombinasi antara deeskalasi di Hormuz dan rilis kinerja emiten yang solid telah memberikan tenaga tambahan bagi bursa Asia untuk terus merangkak naik," tulis laporan pasar modal tersebut. Semangat bullish ini mencerminkan kepercayaan investor bahwa ekonomi global sedang menuju fase pemulihan yang lebih stabil.

Kontradiksi Rupiah dan Kekuatan Saham Taiwan

Namun, di tengah meriahnya zona hijau di Asia, terdapat dinamika yang kontradiktif pada pasar mata uang domestik Indonesia. Melansir laporan Kontan, meski indeks Kospi dan saham-saham di Taiwan melejit hingga ke level tertinggi, nilai tukar rupiah justru bergerak mendekati rekor terlemahnya terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah ini disebabkan oleh masih tingginya permintaan terhadap safe haven dolar AS di pasar valuta asing, meskipun pasar saham sedang bergairah.

Para analis menyebutkan bahwa aliran modal asing cenderung lebih deras mengalir ke pasar saham Taiwan dan Korea Selatan karena didorong oleh sentimen industri cip global yang sedang meledak. Indonesia, di sisi lain, masih berjuang menyeimbangkan arus modal keluar (capital outflow) di pasar obligasi yang menekan mata uang Garuda ke level psikologis yang rawan.

Proyeksi Pasar Hingga Akhir Kuartal

Otoritas bursa dan para pengamat ekonomi mengimbau investor untuk tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin timbul dari rilis data inflasi AS dalam waktu dekat. Meski sentimen damai di Hormuz saat ini mendominasi, arah kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi faktor penentu jangka panjang.

Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, mayoritas indeks di Asia Pasifik tetap bertahan di zona hijau. Keberhasilan Kospi mencetak rekor baru diharapkan dapat menjadi motor penggerak bagi bursa-bursa lain, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), untuk ikut terkerek naik seiring dengan membaiknya persepsi risiko global dan meredanya ancaman krisis energi di Timur Tengah.