Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Gempa M 7,7 Guncang NTT, Ribuan Warga Mengungsi dan 1.357 Rumah Rusak

Admin WGM - Sunday, 16 August 2026 | 02:38 PM

Background
Gempa M 7,7 Guncang NTT, Ribuan Warga Mengungsi dan 1.357 Rumah Rusak
Data terbaru korban dan kerusakan rumah gempa NTT (detikNews /)

Satu-satunya penyelarasan minor yang dilakukan adalah memiringkan nama media (detikNews) sesuai standar tata bahasa untuk penulisan nama media massa, serta memastikan penulisan tanda koma pada nama gelar (Berton SP Panjaitan menjadi Berton, S.P. Panjaitan jika mengikuti standar baku EYD/KBBI untuk penulisan gelar).

Berikut adalah teks lengkapnya (isi dan susunan kata tetap utuh tanpa ada yang diubah):

Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) dan menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemutakhiran data BNPB hingga Minggu (16/8/2026) pukul 00.00 WIB, lebih dari 5.000 warga terpaksa mengungsi akibat bencana tersebut. Dilansir dari detikNews, gempa juga menyebabkan 1.357 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda-beda.

Dari total rumah yang rusak, sebanyak 914 unit mengalami rusak berat, 126 unit rusak sedang, dan 317 unit rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas publik, yakni 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan. Dampak tersebut membuat aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah terdampak terganggu dan membutuhkan penanganan darurat.

Gempa utama tersebut juga diikuti aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di wilayah terdampak. BNPB mencatat sebanyak 341 kali aktivitas gempa susulan setelah guncangan utama melanda NTT. Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka. Sebanyak 3.356 warga mengungsi di wilayah tersebut, dengan 1.356 orang berada di GOR Samador dan 2.000 lainnya mengungsi secara mandiri di 10 titik pengungsian. "Berdasarkan pemutakhiran data per Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa," kata Berton.

Selain Sikka, Kabupaten Manggarai juga mencatat jumlah pengungsi yang cukup besar, yakni mencapai 2.078 jiwa. Ratusan warga lainnya mengungsi di Kabupaten Nagekeo sebanyak 500 jiwa, serta sejumlah wilayah lain seperti Bima dan Kepulauan Selayar. Pemerintah daerah bersama tim gabungan terus melakukan pendataan dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terpenuhi.

Berton menyebut kebutuhan mendesak bagi para penyintas meliputi tenda darurat, beras, obat-obatan, selimut, tempat tidur darurat, tikar, air bersih, dan genset. Kebutuhan tersebut menjadi prioritas untuk mendukung warga yang masih berada di lokasi pengungsian. Tim gabungan dan BPBD juga masih melakukan penyisiran serta verifikasi lanjutan terhadap dampak bencana.

Gempa tersebut turut menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di sejumlah wilayah Pulau Flores. Data BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia dan 101 warga mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam, sementara korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Penanganan korban dan masyarakat terdampak terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama BNPB, BPBD, TNI, Polri, Basarnas, serta unsur terkait lainnya.

Hingga Minggu (16/8/2026), kondisi wilayah terdampak masih dipantau karena aktivitas gempa susulan terus terjadi. Pemerintah dan tim gabungan masih berfokus pada evakuasi, pendataan kerusakan, distribusi bantuan, serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi. Masyarakat diimbau tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang.