Gelar Sidang Isbat, Kemenag Pantau Hilal di 117 Titik Seluruh Indonesia
Admin WGM - Thursday, 19 March 2026 | 03:30 PM


Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) di 117 titik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia pada Kamis sore (19/03/2026). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari rangkaian Sidang Isbat untuk menetapkan awal 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2026.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, menyatakan bahwa ratusan titik pantau tersebut melibatkan kantor wilayah Kemenag provinsi, kabupaten/kota, pengadilan agama, organisasi kemasyarakatan Islam, hingga instansi terkait seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Riset Antariksa BRIN.
Posisi Hilal di Bawah Ambang Batas MABIMS
Berdasarkan data astronomis (hisab) yang dirilis oleh Tim Panel Ahli Kemenag, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia pada saat matahari terbenam tanggal 19 Maret 2026 berada pada rentang ketinggian 0° 54' hingga 3° 7' di atas ufuk. Sementara itu, sudut elongasi tercatat berkisar antara 4° 32' hingga 6° 6'.
Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, menjelaskan bahwa secara teknis posisi hilal kali ini masih berada di bawah kriteria baru yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
BMKG Terjunkan Tim di 37 Lokasi
Secara terpisah, BMKG juga mengerahkan tim observasi di 37 titik strategis mulai dari Aceh hingga Papua. BMKG melaporkan bahwa meskipun di titik paling barat (Banda Aceh) ketinggian hilal hampir menyentuh 3 derajat, namun sudut elongasinya masih tertahan di angka 6,1 derajat, yang berarti belum memenuhi syarat kumulatif MABIMS.
Kondisi cuaca di beberapa titik pantau utama, seperti Jawa Tengah dan sebagian Sumatera, dilaporkan berawan tebal, yang semakin memperkecil peluang hilal untuk teramati secara visual. BMKG menegaskan bahwa peran mereka adalah memberikan data saintifik pendukung bagi Sidang Isbat.
Potensi Perbedaan dan Istikmal
Dengan posisi hilal yang berada di bawah ambang batas visibilitas, para pakar falak memprediksi adanya langkah istikmal, yakni penggenapan bulan Ramadan menjadi 30 hari. Jika hingga akhir waktu magrib tidak ada laporan penampakan hilal yang valid dan disumpah, maka pemerintah diprediksi menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 melalui laman Youtube Kemennag.
Kondisi ini memicu potensi perbedaan hari raya, mengingat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Perbedaan ini didasari oleh penggunaan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah yang berbeda dengan kriteria Imkanur Rukyat pemerintah.
Hasil akhir dari pemantauan lapangan akan dilaporkan dalam sidang pleno tertutup dan diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama pada Kamis malam pukul 19.30 WIB.
Next News

Jajaran Kejaksaan Negeri Karo Diperiksa Kejagung Imbas Dugaan Pelanggaran Kode Etik Perkara Amsal Sitepu
7 hours ago

Fenomena Langit April: Komet Paskah C/2026 A1 Mendekati Matahari, Berpotensi Terlihat dengan Mata Telanjang
10 hours ago

Fenomena Cahaya Misterius di Langit Lampung dan Sumbar, Pakar Bilang Bukan Meteor
12 hours ago

Viral Seruan Saiful Mujani Jatuhkan Pemerintahan Prabowo: Pengamat Sebut Langkah Absurd
14 hours ago

Capai Pilar Ketahanan Pangan Nasional, Bulog Siap Bangun 100 Gudang Panen di Seluruh Indonesia
a day ago

Andrie Yunus Terancam Buta Permanen, Proses Hukum Berjalan Lambat dan Tidak Transparan
a day ago

Bertahan Hidup 7 Hari di Hutan, Molly si Border Collie Ditemukan Selamat
a day ago

Berkas Lengkap! KPK Limpahkan Kasus Korupsi Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko ke PN
a day ago

KPK Beri Peringatan Keras! Bos Rokok Muhammad Suryo Diminta Kooperatif Penuhi Panggilan
a day ago

Banjir Terjang Desa Labean Sulawesi Selatan, Puluhan Rumah Warga Terendam Lumpur dan Air
a day ago





