Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Gebrakan Kebaya Klasik yang Kini Jadi Tren Streetwear Paling Edgy di Kalangan Gen Z

Admin WGM - Wednesday, 11 February 2026 | 10:30 AM

Background
Gebrakan Kebaya Klasik yang Kini Jadi Tren Streetwear Paling Edgy di Kalangan Gen Z
Padu Padan Kebaya dengan Jeans Membuat Tampilan lebih Modern (Pinterest/Dhara/)

Siapa sangka pakaian yang dulu identik dengan acara formal nan kaku kini bisa terlihat begitu "liar" di jalanan ibu kota? Kebaya, yang selama puluhan tahun terkunci dalam pakem busana pesta, kini sedang mengalami revolusi besar-besaran. Bukan lagi soal sanggul dan kain lilit yang membatasi gerak, kebaya masa kini justru tampil berani berdampingan dengan sepatu sneakers, celana kargo, hingga jaket denim.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Pergeseran dari kebaya klasik ke gaya ready-to-wear yang dipadukan dengan estetika streetwear adalah simbol bagaimana generasi muda Indonesia mendefinisikan ulang identitas nasional mereka dengan cara yang jauh lebih santai dan relevan.

Evolusi Berani dari Pakem Tradisional ke Gaya Urban

Awalnya, kebaya adalah busana yang penuh dengan aturan. Ada pakem tentang jenis potongan, bahan, hingga cara pemakaian yang harus sempurna. Namun, di tangan para desainer muda dan kreator konten fashion, kebaya "dipaksa" keluar dari zona nyamannya. Bahan-bahan berat seperti beludru atau brokat yang gatal mulai digantikan dengan katun ringan, linen, hingga material sintetis yang nyaman untuk dipakai seharian.

Transformasi ini membuat kebaya menjadi lebih inklusif. Kamu tidak lagi butuh waktu berjam-jam untuk bersiap. Cukup ambil kebaya kutubaru pendek, pasangkan dengan celana baggy atau rok mini, dan kamu siap untuk nongkrong di kafe estetik atau menghadiri konser musik. Inilah yang disebut dengan era "Kebaya Goes Streetwear".

Pengaruh Gerakan Berkebaya yang Menembus Batas Usia

Meledaknya tren ini tidak lepas dari berbagai gerakan sosial di media sosial, seperti kampanye kebaya goes to UNESCO atau gerakan harian berkebaya. Generasi Z dan Milenial tidak lagi melihat kebaya sebagai "seragam nenek-nenek", melainkan sebagai fashion item yang sangat versatile.

Banyak anak muda kini bangga memamerkan OOTD (Outfit of the Day) mereka dengan menyisipkan elemen kebaya dalam gaya berpakaian sehari-hari. Mereka membuktikan bahwa mencintai budaya tidak harus terlihat kuno. Dengan memadukan kebaya dan elemen fashion jalanan yang modern, mereka menciptakan sebuah kontradiksi visual yang justru terlihat sangat edgy dan berkarakter.

Padu Padan Unik yang Mendobrak Batas Gender dan Fungsi

Salah satu alasan mengapa kebaya streetwear begitu diminati adalah kebebasan dalam melakukan eksperimen. Tidak ada lagi batasan yang mengharuskan kebaya dipakai dengan kain jarik. Sekarang, jangan kaget jika melihat seseorang memakai kebaya kutubaru sebagai outer yang dipadukan dengan kaos polos di dalamnya dan sepatu bot yang tebal.

Bahkan, beberapa desainer mulai menciptakan potongan kebaya yang lebih netral secara gender atau unisex, memperluas jangkauan pemakainya. Fungsi kebaya pun bergeser. Dari yang tadinya hanya untuk acara pernikahan atau upacara adat, kini kebaya menjadi pilihan utama untuk pergi ke kantor, kampus, atau sekadar jalan-jalan sore di area pusat kota.

Kebangkitan Brand Lokal yang Memahami Selera Pasar

Transformasi gila ini juga didorong oleh munculnya brand lokal yang sangat peka terhadap selera pasar anak muda. Mereka tidak lagi memproduksi kebaya yang sulit dipakai. Mereka menciptakan kebaya dengan fitur kancing depan yang simpel, ukuran yang lebih longgar (oversized), dan warna-warna yang lebih berani seperti neon atau pastel.

Brand-brand ini berhasil menerjemahkan kerumitan kebaya menjadi bahasa visual yang mudah dimengerti oleh penikmat streetwear. Mereka menggabungkan teknik bordir tradisional dengan potongan yang sangat modern. Hasilnya? Produk mereka selalu ludes terjual dalam hitungan menit setiap kali melakukan peluncuran koleksi baru.

Tantangan Antara Modernitas dan Pelestarian Makna

Tentu saja, setiap perubahan besar pasti mengundang perdebatan. Sebagian pecinta budaya klasik mungkin merasa bahwa tren streetwear ini menghilangkan kesakralan kebaya. Namun, dari sudut pandang perkembangan budaya, adaptasi adalah kunci agar sebuah warisan tidak mati ditelan zaman.

Menjadikan kebaya sebagai bagian dari tren harian justru merupakan cara paling efektif untuk menjaga keberlangsungannya. Dengan dipakai secara luas di jalanan, kebaya tetap "hidup" dan tidak hanya menjadi barang pajangan di museum atau lemari pakaian yang hanya dibuka setahun sekali. Generasi muda menunjukkan bahwa mereka tidak meninggalkan tradisi, mereka justru membawanya berlari mengikuti perkembangan zaman.

Kebaya yang kini merambah dunia streetwear adalah bukti nyata bahwa busana tradisional Indonesia punya fleksibilitas yang luar biasa. Ia mampu tampil elegan di istana, namun juga tetap terlihat sangar dan cool di aspal jalanan. Tren ini bukan hanya soal pakaian, tapi soal keberanian anak muda Indonesia untuk bangga dengan identitasnya tanpa harus merasa terkekang oleh masa lalu. Jadi, jangan heran kalau ke depannya, kebaya akan terus berevolusi dan tetap menjadi raja di panggung fashion jalanan kita.