Gak Seromantis Bayanganmu, Sejarah Valentine Ternyata Penuh Tragedi dan Eksekusi Martir
Admin WGM - Saturday, 14 February 2026 | 12:58 PM


Bagi masyarakat modern, tanggal 14 Februari identik dengan gestur romantis, pertukaran kartu ucapan berwarna merah jambu, dan makan malam mewah di bawah temaram lilin. Namun, jika kita menanggalkan lapisan komersialisme yang menyelimutinya, sejarah Hari Valentine menyimpan narasi yang jauh dari kesan manis. Alih-alih bermula dari sebuah kisah cinta yang bahagia, akar dari perayaan ini tertanam dalam tanah sejarah yang penuh dengan darah, eksekusi martir, hingga tradisi pagan yang brutal dan kelam.
Memahami asal-usul Hari Valentine menuntut kita untuk kembali ke masa kekuasaan Kekaisaran Romawi. Terdapat beberapa versi mengenai siapa sebenarnya sosok Santo Valentinus yang menjadi nama dari hari tersebut. Salah satu legenda yang paling masyhur menyebutkan bahwa Valentinus adalah seorang pendeta yang hidup pada abad ke-3 Masehi di bawah kepemimpinan Kaisar Claudius II. Pada masa itu, Sang Kaisar mengeluarkan kebijakan yang sangat kontroversial: melarang pernikahan bagi para tentara muda. Claudius II meyakini bahwa pria lajang merupakan prajurit yang lebih tangguh dibandingkan mereka yang memiliki istri dan keluarga.
Pemberontakan demi Cinta dan Hukuman Mati
Di tengah larangan yang tidak berperikemanusiaan tersebut, Pendeta Valentinus tampil sebagai sosok pembangkang yang didasari rasa kasih sayang. Ia secara sembunyi-sembunyi tetap menikahkan pasangan muda di hadapan Tuhan. Namun, aktivitas bawah tanah ini terendus oleh otoritas Romawi. Valentinus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sejarah mencatat bahwa ia dipukul dengan tongkat, dirajam, dan akhirnya dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya pada tanggal 14 Februari sekitar tahun 270 Masehi.
Versi lain menyebutkan bahwa selama di dalam penjara, Valentinus jatuh cinta pada putri sang sipir penjara yang sering mengunjunginya. Sebelum dieksekusi, ia konon menulis sepucuk surat perpisahan yang ditandatangani dengan kalimat "From your Valentine". Kalimat inilah yang diyakini menjadi cikal bakal tradisi kartu ucapan yang kita kenal sekarang. Meski narasi ini memberikan sentuhan romantis, esensi utamanya tetap merupakan sebuah tragedi eksekusi yang mengerikan terhadap seorang martir agama.
Akar Pagan: Lupercalia dan Ritual Brutal
Namun, jauh sebelum Gereja Katolik menetapkan 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentinus, bangsa Romawi kuno telah merayakan sebuah festival pagan bernama Lupercalia pada tanggal 13 hingga 15 Februari. Jika hari kasih sayang saat ini melambangkan kelembutan, Lupercalia justru merupakan perayaan kesuburan yang penuh dengan kekerasan dan pengorbanan hewan.
Dalam festival Lupercalia, para imam Romawi yang disebut Luperci akan mengurbankan seekor kambing untuk kesuburan dan seekor anjing untuk penyucian. Mereka kemudian akan menguliti hewan-hewan tersebut, memotong kulitnya menjadi helaian panjang, dan berlari mengelilingi kota sambil mencambuk para wanita dengan kulit hewan yang masih bersimbah darah. Alih-alih ketakutan, para wanita Romawi justru menyambut cambukan tersebut karena dipercaya dapat meningkatkan kesuburan dan mempermudah proses persalinan. Tradisi ini juga melibatkan proses perjodohan acak, di mana para pria akan mengambil nama wanita dari dalam kotak untuk menjadi pasangan mereka selama festival berlangsung.
Kristenisasi dan Komersialisasi
Baru pada akhir abad ke-5, Paus Gelasius I secara resmi melarang festival Lupercalia dan menggantinya dengan perayaan Hari Santo Valentinus. Langkah ini merupakan bagian dari upaya gereja untuk mengkristenkan tradisi-tradisi pagan Romawi. Meski demikian, konotasi kasih sayang pada hari tersebut baru benar-benar menguat pada abad ke-14 dan ke-15 melalui karya-karya sastra penyair besar seperti Geoffrey Chaucer dan William Shakespeare, yang mulai meromantisasi hari tersebut melalui puisi-puisi bertema musim semi dan perjodohan burung.
Seiring berjalannya waktu, revolusi industri mengubah Hari Valentine menjadi mesin komersial yang masif. Penjualan kartu ucapan yang diproduksi secara massal pada abad ke-19 menjadi titik awal transformasi perayaan ini menjadi fenomena pasar global. Nilai-nilai pengorbanan nyawa dan ritual kesuburan kuno perlahan memudar, digantikan oleh citra Cupid yang lucu dan kotak cokelat berbentuk hati.
Mempelajari sejarah kelam di balik Hari Valentine memberikan perspektif baru bahwa kasih sayang sering kali lahir dari keberanian dan pengorbanan yang ekstrem. Fakta bahwa hari ini bermula dari darah martir dan ritual pagan yang keras menjadi pengingat bagi kita semua bahwa makna cinta jauh lebih dalam daripada sekadar pertukaran hadiah material.
Saat Anda merayakan hari ini, ingatlah bahwa di balik setiap kuntum bunga mawar, terdapat jejak sejarah panjang mengenai perjuangan hak untuk mencintai dan dicintai. Sejarah Valentine mungkin tidak seromantis bayangan kita, namun justru melalui sisi kelam itulah kita bisa menghargai cahaya kasih sayang yang kita rasakan dengan lebih tulus dan bijaksana di masa kini.
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
6 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
7 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
7 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
8 hours ago

Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
8 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
a day ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
a day ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
a day ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
a day ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
a day ago





