Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Gak Melulu Bunga, Ini Tradisi Valentine Paling Romantis di Dunia, Kamu Mau Coba yang Mana?

Admin WGM - Saturday, 14 February 2026 | 12:17 PM

Background
Gak Melulu Bunga, Ini Tradisi Valentine Paling Romantis di Dunia, Kamu Mau Coba yang Mana?
Tradisi valentine tidak hanya bunga dan coklat (CNN Indonesia/Dimitar DILKOFF/APV)

Setiap tanggal 14 Februari, atmosfer dunia seolah berubah menjadi lebih hangat dengan nuansa merah jambu yang mendominasi ruang-ruang publik. Hari Kasih Sayang, atau yang dikenal secara global sebagai Valentine's Day, telah lama menjadi momen universal untuk merayakan cinta. Namun, jika kita menelisik lebih dalam ke berbagai penjuru bumi, perayaan ini tidak selalu bermanifestasi dalam bentuk pemberian cokelat atau makan malam romantis standar. Di balik modernitas yang seragam, terdapat tradisi-tradisi unik yang berakar pada sejarah, mitologi, dan kearifan lokal yang mampu membuat siapa pun takjub akan keberagaman ekspresi kasih sayang manusia.

Perspektif mengenai cinta sering kali dibentuk oleh lanskap budaya tempat seseorang berpijak. Dari pegunungan di Eropa hingga pesisir Asia, setiap bangsa memiliki cara tersendiri dalam menerjemahkan rasa asmara menjadi sebuah ritual tahunan. Mengetahui tradisi-tradisi ini bukan hanya menambah wawasan internasional, tetapi juga memperkaya pemahaman kita bahwa kasih sayang adalah bahasa universal yang memiliki ribuan dialek unik.

Salah satu tradisi yang paling menarik perhatian dunia berasal dari Jepang. Berbeda dengan tradisi Barat di mana pria biasanya lebih aktif memberikan hadiah, di Negeri Matahari Terbit, para wanita justru memegang peranan utama. Pada tanggal 14 Februari, para wanita memberikan cokelat kepada pria, baik itu pasangan, rekan kerja, maupun atasan. Menariknya, terdapat dua jenis cokelat: Giri-choco (cokelat wajib) untuk relasi sosial dan Honmei-choco (cokelat perasaan tulus) untuk pasangan romantis. Tradisi ini kemudian berlanjut pada "White Day" tanggal 14 Maret, di mana para pria diwajibkan membalas pemberian tersebut dengan nilai yang sering kali lipat lebih tinggi.

Bergeser ke Korea Selatan, tradisi serupa Jepang juga dipraktikkan, namun dengan tambahan yang cukup unik bagi mereka yang tidak memiliki pasangan. Setelah perayaan Februari dan Maret berlalu, muncul sebuah momen bernama "Black Day" pada tanggal 14 April. Pada hari tersebut, para lajang yang tidak menerima hadiah pada dua bulan sebelumnya berkumpul di kedai-kedai untuk menyantap Jajangmyeon—mi hitam yang melambangkan kesedihan sekaligus solidaritas antarsesama lajang. Ini adalah bentuk perayaan kasih sayang yang inklusif, membuktikan bahwa kesendirian pun layak mendapatkan ruang untuk dirayakan.

Di Eropa, tepatnya di Wales, Inggris Raya, terdapat tradisi yang jauh lebih kuno dan sangat artistik. Masyarakat setempat merayakan St. Dwynwen's Day setiap tanggal 25 Januari. Alih-alih memberikan bunga, para pria Wales secara tradisional mengukir sendok kayu yang rumit untuk diberikan kepada wanita yang mereka cintai. Sendok yang dikenal sebagai "Lovespoons" ini memiliki ukiran simbolis; misalnya, simbol kunci melambangkan kunci menuju hati pria tersebut. Tradisi ini merupakan warisan keterampilan kriya yang terus dijaga untuk menunjukkan bahwa cinta membutuhkan dedikasi dan ketelatenan.

Tak kalah menakjubkan, Denmark menawarkan tradisi yang penuh dengan misteri dan humor yang disebut Gaekkebrev. Para pria di Denmark menulis puisi atau surat cinta yang lucu dan anonim untuk dikirimkan kepada wanita. Uniknya, surat tersebut tidak ditandatangani dengan nama, melainkan dengan titik-titik yang jumlahnya sesuai dengan jumlah huruf dalam nama pengirim. Jika sang wanita berhasil menebak siapa pengirimnya, ia akan mendapatkan telur cokelat pada perayaan Paskah di tahun yang sama. Jika gagal, sang wanita-lah yang harus memberikan telur cokelat kepada sang pria.

Di belahan dunia lain, Filipina merayakan hari kasih sayang dengan skala yang masif. Dalam beberapa dekade terakhir, tradisi "Pernikahan Massal" telah menjadi fenomena nasional di negara tersebut setiap tanggal 14 Februari. Ratusan hingga ribuan pasangan berkumpul di ruang terbuka atau aula besar untuk mengucapkan janji suci secara bersamaan. Pemerintah setempat sering kali mensponsori acara ini untuk membantu pasangan yang kurang mampu secara finansial agar tetap bisa meresmikan hubungan mereka secara legal dan religius dalam suasana yang meriah.

Sementara itu, di Slovenia, Hari Kasih Sayang justru berkaitan erat dengan alam dan pertanian. Menurut kepercayaan setempat, Santo Valentinus adalah salah satu santo pelindung musim semi. Pada tanggal 14 Februari, masyarakat Slovenia turun ke ladang dan kebun untuk mulai bekerja kembali setelah musim dingin yang panjang. Ada sebuah pepatah lokal yang menyebutkan bahwa pada hari itu, burung-burung di hutan saling melamar satu sama lain dan melangsungkan pernikahan. Tradisi ini menunjukkan bahwa cinta adalah bagian integral dari siklus kehidupan alam semesta.

Sebagai penutup, berbagai tradisi unik ini memberikan pesan kuat bahwa cinta tidak memiliki satu wajah yang tunggal. Baik itu melalui mi hitam di Korea, sendok kayu di Wales, maupun pernikahan massal di Filipina, inti dari perayaan hari kasih sayang adalah penghargaan terhadap koneksi antarmanusia. Memahami keberagaman ini membuat kita sadar bahwa setiap tindakan perhatian, sekecil apa pun, memiliki nilai yang agung jika didasari oleh ketulusan budaya dan kemurnian hati.