Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Gak Langsung Ada, Begini Perjalanan Panjang Sejarah Uang dari Sistem Barter hingga Munculnya Crypto!

Admin WGM - Saturday, 07 February 2026 | 05:25 PM

Background
Gak Langsung Ada, Begini Perjalanan Panjang Sejarah Uang dari Sistem Barter hingga Munculnya Crypto!
Tradisi Barter (Kumparan.com/)

Di tahun 2026, kita mungkin sudah sangat terbiasa melakukan pembayaran hanya dengan memindai kode QR atau menempelkan ponsel pada mesin pembaca. Uang kini terasa abstrak, berupa angka-angka digital yang berpindah secara instan di ruang siber. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat sejarah panjang selama ribuan tahun yang melibatkan transformasi radikal dalam cara manusia mendefinisikan "nilai" dan "kepercayaan".

Sejarah uang bukan sekadar tentang benda fisik, melainkan sejarah tentang bagaimana manusia mencoba memecahkan masalah efisiensi dalam bekerja sama.

Masa Sebelum Uang: Dilema Barter dan Uang Komoditas

Jauh sebelum sistem perbankan ada, manusia memenuhi kebutuhannya melalui sistem barter—pertukaran barang dengan barang. Namun, barter memiliki kelemahan besar yang disebut para ekonom sebagai double coincidence of wants. Jika Anda memiliki seekor kambing tetapi membutuhkan sekarung gandum, Anda harus menemukan petani gandum yang secara bersamaan juga membutuhkan seekor kambing. Jika petani tersebut justru membutuhkan kain, transaksi tidak akan terjadi.

Untuk mengatasi kebuntuan ini, manusia mulai menggunakan "uang komoditas". Benda-benda yang dianggap berharga oleh semua orang digunakan sebagai perantara. Di berbagai belahan dunia, benda ini bervariasi: mulai dari kerang cowrie di Afrika dan Asia, garam di Romawi (yang menjadi asal kata salary atau gaji), hingga biji kakao di peradaban Maya. Namun, uang komoditas memiliki masalah pada daya tahan, standarisasi ukuran, dan sulit untuk dibawa dalam jumlah besar.

Revolusi Logam: Lahirnya Koin Pertama di Dunia

Sekitar tahun 600 SM, terobosan besar terjadi di Kerajaan Lydia (sekarang wilayah Turki). Raja Alyattes mencetak koin resmi pertama yang terbuat dari electrum—campuran alami emas dan perak. Berbeda dengan koin-koin sebelumnya, koin Lydia memiliki cap resmi kerajaan sebagai jaminan atas berat dan kemurnian logamnya.

Langkah ini mengubah wajah perdagangan dunia. Manusia tidak perlu lagi menimbang bongkahan logam setiap kali bertransaksi; mereka cukup menghitung jumlah koin. Penggunaan koin logam emas dan perak kemudian menyebar ke Yunani, Persia, hingga Romawi, dan menjadi standar alat tukar global selama berabad-abad.

Lahirnya Uang Kertas: Inovasi dari Timur

Membawa ribuan koin emas untuk perdagangan jarak jauh di Jalur Sutra adalah hal yang sangat berisiko dan melelahkan secara fisik. Pada era Dinasti Tang di Tiongkok (abad ke-7), para pedagang mulai menitipkan koin emas mereka kepada agen tepercaya dan menerima selembar surat bukti simpanan sebagai gantinya. Surat ini dapat ditukarkan kembali menjadi koin di tempat lain.

Pemerintah Dinasti Song kemudian melihat potensi ini dan menerbitkan uang kertas resmi pertama di dunia yang disebut Jiaozi. Inilah awal mula manusia mulai menukarkan benda berharga (emas) dengan benda yang secara fisik tidak berharga (kertas), namun memiliki nilai karena janji dan jaminan pemerintah. Penjelajah Marco Polo yang mengunjungi Tiongkok pada abad ke-13 membawa kabar mengenai "kertas ajaib" ini ke Eropa, meski orang Eropa baru mulai mengadopsi uang kertas secara luas ratusan tahun kemudian.

Dari Standar Emas Menuju Uang Fiat

Hingga awal abad ke-20, sebagian besar negara menggunakan "Standar Emas", di mana setiap uang kertas yang beredar harus dijamin oleh cadangan emas fisik di bank sentral. Namun, seiring meningkatnya kompleksitas ekonomi global dan kebutuhan biaya perang dunia, sistem ini menjadi sangat kaku.

Puncaknya terjadi pada tahun 1971, ketika Presiden AS Richard Nixon secara resmi mengakhiri konvertibilitas dolar terhadap emas (Nixon Shock). Sejak saat itu, dunia beralih sepenuhnya ke sistem Uang Fiat. Nilai uang tidak lagi dijamin oleh komoditas fisik, melainkan murni oleh kepercayaan masyarakat terhadap kestabilan pemerintah yang menerbitkannya.

Era Digital dan Munculnya Mata Uang Kripto

Memasuki abad ke-21 dan mencapai puncaknya di tahun 2026, kita menyaksikan pergeseran terbesar sejak penemuan uang kertas: desentralisasi. Pada 2009, sosok anonim bernama Satoshi Nakamoto memperkenalkan Bitcoin, mata uang digital pertama yang menggunakan teknologi blockchain.

Bitcoin menantang otoritas bank sentral dengan menawarkan sistem uang yang tidak dapat dipalsukan, jumlahnya terbatas (hanya 21 juta), dan tidak dikendalikan oleh negara mana pun. Meskipun fluktuatif, teknologi di baliknya telah memicu lahirnya ribuan aset kripto lainnya dan mendorong bank sentral di berbagai negara untuk menciptakan mata uang digital mereka sendiri (Central Bank Digital Currency atau CBDC).

Dari kerang yang dikumpulkan di pantai hingga kode enkripsi di dompet digital, satu hal yang tidak pernah berubah dalam sejarah uang adalah aspek kepercayaan. Uang hanya bekerja jika kita semua sepakat bahwa benda tersebut memiliki nilai. Sejarah panjang ini mengajarkan kita bahwa bentuk uang akan terus berevolusi seiring dengan kemajuan teknologi, namun fungsinya tetap sama: sebagai jembatan untuk menghubungkan kebutuhan manusia satu sama lain.