Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Fenomena Cahaya Misterius di Langit Lampung dan Sumbar, Pakar Bilang Bukan Meteor

Admin WGM - Sunday, 05 April 2026 | 11:45 AM

Background
Fenomena Cahaya Misterius di Langit Lampung dan Sumbar, Pakar Bilang Bukan Meteor
Heboh Benda Bercahaya Jatuh di Lampung dan Sumbar (Kumparan /)

Masyarakat di wilayah Lampung dan Sumatra Barat (Sumbar) dikejutkan oleh penampakan benda bercahaya misterius yang melintasi langit pada akhir pekan ini. Fenomena yang sempat viral di media sosial tersebut memicu beragam spekulasi, mulai dari anggapan jatuhnya meteor hingga benda terbang tak dikenal (UFO). Namun, para pakar astronomi dan lembaga riset nasional segera memberikan klarifikasi untuk meredam kekhawatiran publik.

Berdasarkan analisis teknis, benda bercahaya tersebut dipastikan sebagai sampah antariksa yang kembali memasuki atmosfer Bumi (re-entry), bukan fenomena alamiah seperti batuan luar angkasa atau meteor.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan mendalam mengenai asal-usul objek tersebut. Objek yang tampak terbakar dan pecah di langit Lampung diidentifikasi sebagai sisa-sisa bagian roket milik Tiongkok yang sudah tidak berfungsi. Roket tersebut mengalami peluruhan orbit sehingga jatuh kembali menuju Bumi.

"Cahaya yang terlihat sangat terang dan bergerak lambat dengan ekor api tersebut adalah ciri khas sampah antariksa yang terbakar saat bersentuhan dengan atmosfer. Setelah kami lacak datanya, ini adalah bekas roket asal China," ujar peneliti BRIN dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).

Pihak BRIN juga menekankan bahwa fenomena ini tidak berbahaya bagi masyarakat. Sebagian besar material sampah antariksa tersebut diprediksi habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan tanah. Jika pun ada sisa yang jatuh, biasanya berupa fragmen kecil yang mendarat di area perairan atau hutan yang jauh dari pemukiman.

Senada dengan BRIN, pakar astronomi dari Institut Teknologi Sumatera (Itera) juga mengonfirmasi bahwa objek tersebut bukan merupakan meteor. Ahli astronomi Itera menjelaskan bahwa terdapat perbedaan visual yang signifikan antara sampah antariksa dan meteorit.

Meteor biasanya bergerak sangat cepat, hanya terlihat dalam hitungan detik, dan cenderung memancarkan cahaya putih atau kehijauan yang singkat. Sebaliknya, sampah antariksa seperti yang terlihat di langit Lampung bergerak lebih lambat, pecah menjadi beberapa bagian (fragmentasi), dan sering kali memancarkan cahaya kemerahan atau jingga karena proses pembakaran logam buatan manusia.

"Kecepatan jatuhnya menunjukkan bahwa ini adalah benda buatan manusia yang mengorbit rendah. Masyarakat tidak perlu panik karena ini adalah kejadian yang cukup sering terjadi dalam dinamika aktivitas antariksa global," jelas pakar dari Itera.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Sumatra Barat yang juga menerima laporan serupa dari masyarakat memberikan imbauan agar warga tetap tenang. BMKG memastikan bahwa alat pendeteksi gempa atau sensor meteorologi tidak mencatat adanya dampak fisik dari benda tersebut di permukaan bumi wilayah Sumbar.

"Kami memantau adanya laporan cahaya misterius dari warga di beberapa kabupaten di Sumbar. Penjelasan astronomis dari lembaga terkait sudah cukup jelas bahwa ini adalah fenomena orbit antariksa dan tidak terkait dengan gangguan cuaca ekstrem atau aktivitas seismik lokal," ujar perwakilan BMKG Sumbar.

Fenomena ini menjadi pengingat mengenai kian padatnya populasi sampah antariksa di orbit Bumi. Meskipun secara visual terlihat dramatis dan menghebohkan, para ahli memastikan bahwa sistem pemantauan global terus bekerja untuk memprediksi jatuhnya objek-objek tersebut guna menjamin keamanan penduduk di permukaan Bumi.

Pemerintah melalui lembaga terkait mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi hoaks yang mengaitkan fenomena ini dengan hal-hal mistis atau ancaman bencana luar angkasa yang tidak berdasar secara ilmiah.