Kamis, 26 Februari 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Fenomena Blood Moon Hiasi Malam Suci Ramadan di Seluruh Indonesia

Admin WGM - Thursday, 26 February 2026 | 11:21 AM

Background
Fenomena Blood Moon Hiasi Malam Suci Ramadan di Seluruh Indonesia
Gerhana Bulan Total (Wahana News /)

Fenomena alam luar biasa akan menghiasi langit nusantara pada hari Selasa, 3 Maret 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan gerhana bulan total yang berlangsung bertepatan dengan malam ke-14 bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Masyarakat dapat menyaksikan scara daring melalui laman siaran langsung BMKG https://gerhana.bmkg.go.id/livestream. Peristiwa astronomi ini menjadi salah satu momen yang paling dinantikan karena hampir seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati keindahan fenomena tersebut sejak bulan terbit di ufuk timur.

Gerhana bulan total terjadi ketika posisi matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus yang sejajar secara sempurna. Kondisi ini menyebabkan cahaya matahari yang seharusnya menyinari bulan terhalang sepenuhnya oleh bayangan inti bumi yang disebut sebagai umbra. Menariknya, bulan tidak akan hilang sepenuhnya dari pandangan, melainkan berubah warna menjadi merah tembaga atau sering disebut sebagai fenomena "Blood Moon". Perubahan warna ini disebabkan oleh proses pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi yang menyaring spektrum warna biru dan membiarkan cahaya merah sampai ke permukaan bulan.

Rangkaian fase gerhana akan dimulai dengan tahap penumbra sejak sore hari pukul 15.42 WIB atau 16.42 WITA. Namun, fase signifikan yang dapat dilihat dengan mata telanjang adalah fase gerhana sebagian yang dimulai pada pukul 16.49 WIB. Memasuki puncak keindahan, fase gerhana total diprediksi berlangsung mulai pukul 18.03 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 18.33 WIB. Durasi totalitas gerhana diperkirakan bertahan selama kurang lebih 58 menit, memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk mengamati perubahan warna bulan yang dramatis.

Masyarakat di wilayah Indonesia bagian barat, seperti Jakarta dan Sumatra, akan melihat bulan terbit dalam kondisi sudah mengalami gerhana. Fenomena ini disebut sebagai "Moonrise Eclipse", di mana pengamat bisa langsung melihat fase totalitas sesaat setelah bulan muncul di cakrawala timur. Sementara itu, warga di wilayah tengah dan timur Indonesia akan mendapatkan durasi pengamatan yang lebih panjang karena posisi bulan sudah lebih tinggi di langit saat fase puncak berlangsung.

Keistimewaan gerhana kali ini juga terletak pada aspek religius bagi umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan maklumat mengenai pelaksanaan shalat gerhana bulan atau shalat khusuf bagi umat Islam. Ibadah tersebut dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah sebagai bentuk rasa syukur atas tanda-tanda kebesaran Tuhan melalui keteraturan benda-benda langit. Selain shalat, masyarakat juga didorong untuk memperbanyak doa dan sedekah selama fenomena berlangsung.

Pengamatan gerhana bulan total ini sangat aman dilakukan secara langsung tanpa memerlukan alat bantu khusus seperti kacamata pelindung. Masyarakat cukup mencari lokasi yang terbuka dengan pandangan yang tidak terhalang oleh gedung tinggi atau pohon ke arah timur. Penggunaan teleskop atau binokular tetap disarankan bagi mereka yang ingin melihat detail permukaan bulan dan perubahan bayangan bumi secara lebih tajam. Kelancaran pengamatan tentu akan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kejernihan langit di masing-masing daerah.