Fakta Menarik Angklung Warisan Budaya Bambu Indonesia yang Mendunia
Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 11:47 AM


Indonesia sangat kaya akan warisan budaya, dan salah satu yang paling membanggakan adalah Angklung. Alat musik yang terbuat dari bambu ini bukan hanya sekadar instrumen pengiring lagu, melainkan simbol persatuan dan filosofi hidup masyarakat Nusantara, khususnya Sunda. Ketukan bambu yang menghasilkan nada harmoni ini telah melintasi batas negara hingga akhirnya resmi diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 16 November 2010.
Namun, di balik suara gemerincingnya yang merdu, tersimpan perjalanan panjang tentang bagaimana sepotong bambu bisa menjadi identitas bangsa yang sangat dihargai di mata internasional.
Akar Tradisi sebagai Bentuk Penghormatan pada Dewi Sri
Jejak sejarah Angklung bisa ditarik jauh hingga masa kerajaan di Jawa Barat. Pada awalnya, Angklung digunakan dalam upacara ritual keagamaan yang berkaitan dengan pertanian. Masyarakat agraris di Jawa Barat memainkan Angklung sebagai musik pengiring untuk mengundang Dewi Sri (Dewi Padi) agar turun ke bumi dan memberikan kesuburan pada hasil panen mereka.
Getaran suara bambu diyakini sebagai simbol kehidupan dan pertumbuhan. Tradisi ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu, Angklung telah menjadi jembatan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual yang mereka yakini.
Filosofi Gotong Royong dalam Satu Nada
Berbeda dengan alat musik seperti gitar atau piano yang bisa memainkan banyak nada sekaligus oleh satu orang, Angklung memiliki keunikan tersendiri. Satu alat Angklung hanya mewakili satu nada. Hal inilah yang membuat Angklung disebut sebagai alat musik paling demokratis di dunia.
Untuk menciptakan sebuah lagu yang indah, diperlukan kerja sama dari banyak orang yang memegang nada berbeda. Jika satu orang saja tidak menggoyangkan Angklungnya di waktu yang tepat, maka melodi lagu tersebut akan rusak. Inilah alasan mengapa Angklung menjadi simbol kuat bagi nilai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan masyarakat Indonesia.
Transformasi dari Alat Ritual Menjadi Instrumen Modern
Perkembangan Angklung mengalami lompatan besar berkat jasa Daeng Soetigna pada tahun 1938. Sebelum masa itu, Angklung hanya menggunakan tangga nada pentatonis (pelog dan salendro) yang sifatnya tradisional. Daeng Soetigna melakukan inovasi berani dengan mengubahnya ke tangga nada diatonis (do-re-mi-fa-so-la-si).
Berkat inovasi tersebut, Angklung tidak lagi hanya terbatas pada lagu daerah, tetapi mulai bisa memainkan lagu-lagu populer, musik klasik, hingga musik internasional. Inovasi inilah yang kemudian membuka jalan bagi Angklung untuk tampil di panggung-panggung bergengsi di seluruh dunia.
Mengapa UNESCO Memberikan Pengakuan Resmi
Pengakuan UNESCO terhadap Angklung pada tahun 2010 bukan tanpa alasan kuat. UNESCO menilai bahwa Angklung memiliki nilai-nilai pendidikan dan pembentukan karakter yang luar biasa. Proses pembuatannya yang rumit—mulai dari pemilihan bambu yang harus berusia minimal 4 tahun hingga proses pengeringan yang alami—menunjukkan kearifan lokal yang tinggi dalam menjaga keseimbangan alam.
Selain itu, eksistensi Saung Angklung Udjo di Bandung menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya ini dilakukan secara turun-temurun dengan melibatkan masyarakat luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Upaya Menjaga Warisan Bambu di Era Digital
Di era modern, tantangan pelestarian Angklung beralih ke tangan generasi muda. Untungnya, Angklung tetap eksis melalui berbagai komunitas musik di sekolah dan universitas. Bahkan, pemecahan rekor dunia permainan Angklung massal sering kali digelar untuk membangkitkan rasa nasionalisme.
Mengenal Angklung berarti mengenal jati diri kita sebagai bangsa yang harmonis dalam perbedaan. Melalui getaran bambunya, kita diingatkan bahwa untuk menciptakan keindahan, kita tidak perlu menjadi sama, namun kita perlu berjalan beriringan dalam irama yang serasi.
Angklung adalah warisan luhur yang membuktikan bahwa kesederhanaan bahan alam bisa bertransformasi menjadi mahakarya dunia. Sebagai pemilik budaya, sudah sepatutnya kita terus menjaga dan membunyikan nada-nada bambu ini agar tidak pernah padam ditelan zaman. Pengakuan UNESCO hanyalah sebuah awal, tanggung jawab sesungguhnya ada pada kita untuk memastikan Angklung tetap bergema di telinga generasi mendatang.
Next News

Rahasia di Balik Layar Industri K-Pop: Antara Obsesi Kesempurnaan dan Dominasi Global
12 hours ago

Bukan Sekadar Mentah, Ini Rahasia Teknik Ikejime yang Bikin Ikan Jepang Sangat Nikmat
12 hours ago

Lebih dari Sekadar Estetika, Ini Alasan Merah dan Emas Jadi 'Warna Wajib' Tradisi Tionghoa
13 hours ago

Hargai Tradisi! Ini Daftar Pamali yang Tak Boleh Dilanggar Saat Traveling di Indonesia
13 hours ago

Bukan Sekadar Pasrah, Intip Kekuatan Mental di Balik Filosofi Nrimo Ing Pandum
14 hours ago

Lebih Mahal dari Emas, Intip Sejarah Kelam di Balik Harumnya Rempah Nusantara
a day ago

Lebih dari Sekadar Dongeng, Ini Rahasia di Balik Seragamnya Nilai Moral Cerita Rakyat Indonesia
a day ago

Mengenal Arti 'Pitu' di Nasi Tumpeng, Rahasia Angka 7 yang Penuh Doa dan Pertolongan
a day ago

Gak Nyangka! 5 Makanan Enak Ini Ternyata 'Anak Kandung' Akulturasi Tiongkok dan Belanda
a day ago

Ternyata Bukan Asli Indonesia! Simak Sejarah Panjang Cabai Sampai Jadi Raja Kuliner Kita
a day ago





