Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Demi MBG, Pemerintah Pertaruhkan Ambang Defisit APBN 3% di Tengah Badai Rupiah

Trista - Tuesday, 10 March 2026 | 03:08 PM

Background
Demi MBG, Pemerintah Pertaruhkan Ambang Defisit APBN 3% di Tengah Badai Rupiah
Mentri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (Antara Foto /)

Lonjakan harga minyak mentah dunia telah melampaui perkiraan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang menekan ruang fiskal pemerintah RI secara signifikan. Kenaikan harga komoditas energi turut memberi dampak terhadap pembekakan beban subsidi yang akan melebar hingga lebih dari 3 persen.  

Sementara itu, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) akan mempertahankan kelanjutan program Makan Bergizi Gratis di tengah ekonomi dunia yang mengalami penurunan. Penyaluran anggaran untuk MBG akan dipastikan efektif dan efisien tanpa ada pemangkasan yang signifikan. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hanya akan melakukan penyesuaian anggaran terhadap belanja nonproduktif seperti pengadaan motor atau komputer untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).  

"Jadi MBG enggak akan dipotong, kecuali yang enggak produktif. Kita lihat aja. Kalau dia ngajuin beli motor lagi, coret. Beli komputer lagi, coret. Yang enggak perlu-perlu, yang enggak berhubungan dengan makanan," jelas Purbaya di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, dilansir dari laman Tirto.id (9/3/2026). 

Sebelumnya, Purbaya akan melakukan opsi untuk meredam dampak lonjakan minyak dunia dengan realokasi belanja negara yang dinilai memiliki tingkat urgensi rendah. Beliau mencontohkan program MBG yang masih memiliki ruang untuk efisiensi dalam kegiatan operasional pendukung seperti penyediaan kendaraan bermotor bagi SPPG. 

"Kalau itu kita akan melakukan langkah-langkah upaya itu tidak terjadi. Bisa penghematan di mana? misalnya penghematan di MBG," ungkap Purbaya dalam acara buka bersama di Kementerian Keuangan, dilansir dari laman Tirto.id (6/3/2026). 

Sementara itu, harga minyak mentah pada Senin kemarin (9/3/2026) mencapai level tertinggi sebesar USD 119,50 untuk jenis minyak Brent per barel sejak pertengahan 2022. Hal ini terjadi karena pengurangan pasokan minyak dari Arab Saudi selama perang AS-Israel terhadap Iran yang meluas hingga gangguan pasokan energi global. 

Melansir dari laman Metronews (10/3/2026), perang yang telah berlangsung selama empat hingga lima minggu ini menyebabkan produsen minyak Teluk, yakni Irak mulai memangkas produksi sebesar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari. Sementara itu, Kuwait Petroleum Corporation juga mengurangi produksi dan menyatakan keadaan kahar terhadap konflik ini.

Dampak bagi Indonesia semakin parah mengingat nilai tukar rupiah mengalami lonjakan yang sangat tinggi dengan besaran 1 dolar AS setara Rp17.000 pada perdagangan, Senin (10/3/2026). Pelemahan kurs berpotensi memicu kenaikan harga barang impor serta bahan baku industri yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan sebelumnya. 

"Ini akan meningkatkan kecenderungan capital outflow dari negara-negara berkembang kepada negara-negara yang lebih aman, termasuk safe haven. Sehingga yang tadinya sudah hampir Rp 17.000 sekarang sudah tembus Rp 17.000," ungkap Muhammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia, dilansir dari laman Kompas.com (9/3/2026). 

Faisal menilai Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah ekstra guna menjaga stabilitas rupiah demi melindungi daya beli masyarakat. Pelemahan nilai tukar yang terjadi dalam jangka panjang berpotensi memicu lonjakan biaya hidup. BI diprediksi akan terus mempertahankan suku bunga tinggi sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas kurs, meskipun langkah tersebut memberikan tekanan besar pada kebijakan fiskal nasional.