Dari Kumuh ke Estetik: Menakar Dampak Menjamurnya Coffee Shop di Kawasan Urban
Admin WGM - Sunday, 08 February 2026 | 10:04 PM


Pernahkah kamu mengunjungi sebuah kawasan yang dulunya dikenal kusam dan tertinggal, namun tiba-tiba berubah menjadi deretan bangunan minimalis dengan kopi susu kekinian di setiap sudutnya? Fenomena ini sering kita sebut sebagai gentrifikasi.
Mengubah kawasan kumuh menjadi area yang "Instagrammable" memang membawa kesegaran visual. Namun, di balik dinding-dinding kafe yang estetik itu, ada cerita yang lebih kompleks dari sekadar urusan dekorasi. Mari kita lihat sisi baik dan buruknya, Winners.
Sisi Terang: Napas Baru bagi Ekonomi Lokal
Tidak bisa dipungkiri, perubahan kawasan menjadi area "estetik" membawa dampak positif yang instan:
- Peningkatan Keamanan dan Kebersihan: Kawasan yang dulunya gelap dan terabaikan biasanya mulai diperbaiki infrastrukturnya, lebih terang, dan lebih bersih karena tuntutan kenyamanan pengunjung.
- Peluang Lapangan Kerja: Munculnya coffee shop dan unit usaha kreatif lainnya membuka lowongan kerja bagi warga sekitar dan menggerakkan roda ekonomi lokal yang sempat lesu.
- Revitalisasi Budaya: Seringkali, bangunan tua yang bersejarah diselamatkan dari kerusakan karena dialihfungsikan menjadi ruang kreatif tanpa merobohkan strukturnya.
Sisi Gelap: Ketika Warga Lokal Terasingkan
Namun, Winners, keindahan visual ini seringkali menuntut harga yang mahal bagi penghuni asli:
- Kenaikan Biaya Hidup: Saat sebuah kawasan jadi "hits", harga sewa tanah dan pajak bangunan melonjak drastis. Hal ini sering kali memaksa warga lokal yang tidak mampu bersaing untuk pindah ke pinggiran kota.
- Hilangnya Identitas Asli: Karakter asli sebuah pemukiman bisa hilang tertutup oleh estetika seragam yang itu-itu saja. Kedai kopi yang estetik terkadang terasa asing bagi warga yang sudah tinggal di sana selama puluhan tahun.
- Eksklusivitas Sosial: Terjadi sekat yang tidak terlihat. Area tersebut mungkin terbuka untuk umum, namun harga segelas kopi yang setara dengan upah harian warga lokal menciptakan batasan psikologis bahwa tempat tersebut bukan untuk mereka.
Mencari Titik Tengah
Lantas, apakah kita harus menolak perubahan? Tentu tidak. Kuncinya ada pada inklusivitas. Perubahan yang baik adalah perubahan yang melibatkan warga lokal, bukan sekadar menyingkirkan mereka demi estetika visual semata.
Sebagai konsumen, kamu juga bisa berperan dengan mendukung usaha-usaha yang tetap menghargai komunitas sekitarnya atau yang dimiliki oleh warga asli kawasan tersebut.
Perubahan kawasan kumuh menjadi area estetik adalah bukti dinamika kota yang terus tumbuh. Namun, sebuah kawasan disebut sukses bukan hanya karena ia bagus saat difoto, melainkan karena ia bisa memberikan manfaat bagi semua orang yang tinggal di dalamnya, bukan hanya bagi para pengunjung sesaat.
Bagaimana pendapat kamu mengenai fenomena ini, Winners? Apakah kawasan favorit kamu juga sedang mengalami perubahan serupa?
Next News

Lebih dari Sekadar Garwa, Inilah Peran K.R.M. Adipati Ario Singgih dalam Mendukung Cita-cita Kartini
8 hours ago

Mengapa Kartini Dipingit? Memahami Simbol Status dan Norma Gender dalam Sejarah Jawa
9 hours ago

Berhenti Sekadar Berkebaya! Mari Bedah Substansi Pemikiran Kartini yang Belum Selesai
10 hours ago

Jejak Perjuangan Sekolah Kartini: Dari Jepara Hingga Menyebar ke Seluruh Pelosok Nusantara
11 hours ago

Lebih dari Sekadar Surat, Inilah Peran Estella Zeehandelaar dalam Pemikiran Revolusioner Kartini
12 hours ago

Kartini Si Jaran Kore
14 hours ago

Dulu Simbol Bangsawan, Kini Jadi Ajang Adu Gengsi Fashion: Simak Sejarah Red Carpet di Award Show
2 days ago

Seni Menciptakan Kerak Nasi Emas yang Paling Diperebutkan dalam Jamuan Persia
3 days ago

Karpet Persia Jadi Seni Tradisional yang Mengalahkan Laju Inflasi
3 days ago

Garuda Wisnu Kencana, Taman Budaya Ikonik Bali yang Mendunia
4 days ago





