Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Cara Sensor BMKG Bekerja Mendeteksi Gelombang Gempa Hanya dalam Lima Detik

Admin WGM - Tuesday, 27 January 2026 | 10:50 AM

Background
Cara Sensor BMKG Bekerja Mendeteksi Gelombang Gempa Hanya dalam Lima Detik
Foto Alat Pendeteksi Gempa dan Tsunami (Popularitas.com/)

Di tengah frekuensi aktivitas tektonik yang fluktuatif di sepanjang awal tahun 2026, kecepatan informasi menjadi kunci utama keselamatan. Banyak masyarakat bertanya-tanya, bagaimana mungkin Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mampu menyebarkan informasi gempa bumi hanya dalam hitungan detik setelah guncangan pertama terjadi? Jawaban dari pertanyaan tersebut terletak pada sistem canggih bernama Indonesia Early Warning System (InaTEWS).

Teknologi ini bukan sekadar alat pelapor, melainkan jaring pengaman nasional yang bekerja nonstop 24 jam untuk memantau setiap denyut di bawah kerak bumi nusantara.

Prinsip dasar deteksi dini gempa bumi terletak dapat dideteksi melalui kecepatan cahaya saat gelombang gempa. Perbedaan kecepatan antara gelombang seismik dan gelombang elektromagnetik. Saat patahan bumi bergeser terdapat dua jenis gelombang utama yakni gelombang primer (P-Wave) yang bergerak lebih cepat namun tidak merusak, dan gelombang sekunder (S-Wave) yang lebih lambat tetapi membawa energi destruktif yang besar.

Baca juga: Mitos dan Fakta Fenomena Gempa Awan Panas Jadi Pertanda Bencana 

Sensor-sensor seismograf yang tersebar di ribuan titik di seluruh Indonesia bertugas menangkap Gelombang P ini. Begitu sensor menangkap getaran awal, data tersebut dikirimkan via satelit menggunakan gelombang elektromagnetik ke pusat pengolahan data di Jakarta. Karena gelombang elektromagnetik bergerak secepat cahaya, data sampai ke server BMKG jauh lebih cepat daripada gelombang S yang merusak merambat di daratan. Dalam hitungan kurang dari lima detik, sistem pengolahan otomatis kami mampu menentukan lokasi pusat gempa, kedalaman, hingga amplitudonya.

Setelah data diterima, sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) di pusat Earthquake Repository BMKG melakukan pengolahan untuk menentukan apakah gempa tersebut berpotensi tsunami atau tidak. Namun, BMKG tidak melepaskan kontrol sepenuhnya pada mesin. Terdapat tim analis seismologi yang bersiaga 24 jam untuk melakukan verifikasi akhir sebelum informasi disebarluaskan ke publik.

Kecepatan ini sangat krusial. Dalam skenario gempa besar, selisih waktu 15 hingga 30 detik yang didapat dari peringatan dini bisa memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan tindakan penyelamatan diri, seperti berlindung di bawah meja atau menjauhi bangunan kaca, sebelum guncangan utama yang merusak tiba.

Di era digital ini, akses informasi tidak lagi terbatas pada sirene desa atau siaran radio. BMKG telah mengintegrasikan sistem peringatan dini ini ke dalam aplikasi atau laman resmi bmkg.go.id/gempabumi.

Laman ini menjadi jembatan langsung antara sensor di dasar laut dengan genggaman masyarakat. Keunggulan utama dari teknologi ini adalah fitur notifikasi berbasis lokasi (GPS). Jika terjadi gempa di dekat titik koordinat pengguna, ponsel akan memberikan peringatan instan sesuai dengan intensitas guncangan yang diperkirakan.

Baca juga: Daftar Wilayah yang Diguncang Gempa Sepanjang Januari 2026 dengan Magnitudo 5,0+ Papua hingga Pacitan 

Masyarakat sangat disarankan untuk sering memantau laman BMKG yang tidak hanya informasi gempa, terdapat panduan mitigasi interaktif yang mengajarkan langkah-langkah penyelamatan diri berdasarkan posisi pengguna, baik saat berada di dalam gedung bertingkat, di pinggir pantai, maupun saat berkendara.

Keberadaan teknologi peringatan dini pada akhirnya hanyalah satu bagian dari rantai keselamatan yang panjang. Secanggih apa pun sistem yang dibangun, efektivitasnya tetap bertumpu pada kesadaran setiap individu untuk membekali diri dengan literasi kebencanaan yang mumpuni.

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi komunikasi pada tahun 2026 ini, integrasi perangkat pintar seharusnya menjadi pengingat bagi kita untuk lebih proaktif dalam memperkuat kapasitas diri. Keselamatan bersama bermula dari kemauan setiap warga untuk tidak hanya menjadi penerima informasi pasif, tetapi juga menjadi penyaring informasi guna memutus rantai hoaks di lingkungan sekitar. Dengan tetap tenang dan menjadikan data resmi sebagai satu-satunya rujukan, kita telah mengambil langkah nyata dalam menghargai nyawa karena di hadapan kekuatan alam, kesiapan mental dan ketepatan bertindak adalah teknologi pertahanan yang paling hakiki.