Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Bukan Sekadar Manja, Ini Alasan Ilmiah Mengapa Kantuk Menyerang Usai Makan Siang dan Strategi Jitu Mengatasinya

Admin WGM - Saturday, 14 February 2026 | 03:30 PM

Background
Bukan Sekadar Manja, Ini Alasan Ilmiah Mengapa Kantuk Menyerang Usai Makan Siang dan Strategi Jitu Mengatasinya
Penjelasan ilmiah mengapa suka mengantuk selepas makan (pexels.com/cottonbro studio/)

Bagi para pekerja kantoran maupun pelajar, pukul dua siang sering kali menjadi waktu yang paling menantang dalam sehari. Fenomena rasa kantuk yang luar biasa, penurunan konsentrasi, hingga rasa lemas yang menyerang tepat setelah makan siang dikenal dalam dunia medis sebagai postprandial somnolence, atau yang secara populer disebut dengan istilah food coma. Kondisi ini sering kali dianggap sebagai bentuk kemalasan, padahal secara biologis, terdapat mekanisme kompleks yang terjadi di dalam tubuh yang memicu penurunan energi tersebut.

Memahami mengapa tubuh bereaksi demikian bukan hanya soal pengetahuan medis, melainkan juga kunci untuk mengatur ritme kerja agar tetap produktif. Penyebab kantuk setelah makan siang melibatkan interaksi antara sistem pencernaan, hormon, hingga jam biologis manusia.

Mekanisme Internal: Pergeseran Aliran Darah dan Hormon

Salah satu alasan utama di balik fenomena ini berkaitan dengan sistem saraf parasimpatis. Saat makanan masuk ke dalam lambung, tubuh secara otomatis mengaktifkan mode "istirahat dan cerna". Untuk mendukung proses pemecahan nutrisi, tubuh mengalihkan sebagian aliran darah menuju sistem pencernaan. Meskipun teori mengenai penurunan drastis aliran darah ke otak telah banyak diperdebatkan, pergeseran fokus sirkulasi ini tetap berkontribusi pada rasa rileks yang berlebihan.

Selain sirkulasi, peran hormon sangatlah krusial. Konsumsi makanan, terutama yang tinggi karbohidrat dan gula, memicu peningkatan kadar insulin. Insulin membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk energi, namun di sisi lain, proses ini juga mempermudah masuknya asam amino triptofan ke dalam otak. Di dalam otak, triptofan diubah menjadi serotonin—hormon yang memberikan efek tenang dan bahagia dan kemudian menjadi melatonin, yakni hormon utama yang mengatur sinyal tidur. Inilah alasan mengapa setelah menyantap sepiring nasi atau makanan manis, kelopak mata terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Pengaruh Ritme Sirkadian

Selain faktor nutrisi, jam biologis atau ritme sirkadian manusia memang secara alami mengalami penurunan kewaspadaan sekitar 7 hingga 9 jam setelah terbangun di pagi hari. Bagi sebagian besar orang, titik terendah ini jatuh pada interval pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Jadi, rasa kantuk tersebut sebenarnya adalah kombinasi antara proses pencernaan yang sedang berlangsung dan sinyal istirahat alami dari otak.

Strategi Mengatasi Kantuk Pascamakan

Agar produktivitas tidak terjun bebas, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan untuk meminimalkan efek food coma:

  • Atur Komposisi Menu Makan Siang: Hindari konsumsi karbohidrat sederhana secara berlebihan, seperti nasi putih dalam porsi besar atau minuman manis. Pilihlah menu yang kaya akan protein, serat, dan lemak sehat yang dicerna lebih lambat, sehingga kadar gula darah tetap stabil.
  • Perhatikan Porsi Makan: Makan dalam porsi besar memaksa tubuh bekerja ekstra keras untuk mencerna. Cobalah prinsip makan secukupnya agar energi tidak terkuras habis hanya untuk urusan perut.
  • Tetap Terhidrasi: Dehidrasi sering kali disalahartikan sebagai rasa kantuk. Pastikan asupan air putih tercukupi selama dan setelah makan siang untuk menjaga kelancaran metabolisme.
  • Aktivitas Fisik Ringan: Jalan santai selama 10 hingga 15 menit setelah makan dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah dan sensitivitas insulin, sehingga oksigen kembali terdistribusi dengan baik ke seluruh tubuh.
  • Manfaatkan Cahaya Matahari: Paparan sinar matahari membantu menekan produksi melatonin dan meningkatkan serotonin, yang secara alami memberikan sinyal pada otak bahwa waktu istirahat belum tiba.

Rasa kantuk setelah makan siang adalah respons biologis yang normal, namun bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Dengan memahami bahwa apa yang kita konsumsi sangat memengaruhi performa kognitif, kita dapat lebih bijak dalam memilih asupan harian. Keseimbangan antara nutrisi yang tepat dan kesadaran akan ritme tubuh akan membantu Anda melewati "jam-jam kritis" sore hari dengan semangat yang tetap terjaga.