Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Masa Depan Pangan: Mungkinkah Kita Berhenti Bertani secara Tradisional?

Admin WGM - Thursday, 19 February 2026 | 09:17 AM

Background
Masa Depan Pangan: Mungkinkah Kita Berhenti Bertani secara Tradisional?
(rri.co.id/)

Di tengah hiruk-pikuk disrupsi teknologi, sebuah pertanyaan fundamental muncul ke permukaan: Masihkah cangkul dan bajak memiliki tempat di masa depan pangan kita? Seiring dengan menyusutnya lahan produktif dan krisis iklim yang kian tidak terprediksi, sektor pertanian global sedang berada di persimpangan jalan antara tradisi yang diwariskan turun-temurun dan inovasi teknologi yang melampaui batas logika konvensional.

Paradoks Lahan dan Perut Bumi

Selama berabad-abad, bertani secara tradisional—yang mengandalkan siklus musim, kesuburan tanah alami, dan tenaga manusia—menjadi tulang punggung peradaban. Namun, data terkini menunjukkan bahwa model ini mulai menemui jalan buntu. Pertumbuhan populasi manusia yang diprediksi menembus angka 9 miliar pada tahun 2050 menuntut produksi pangan naik hingga 70 persen.

Di Indonesia, fenomena alih fungsi lahan menjadi ancaman nyata. Sawah-sawah produktif di Jawa kini bersalin rupa menjadi kawasan industri dan perumahan. Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya minat generasi muda untuk turun ke lumpur. Menjadi petani sering kali dianggap sebagai profesi "berisiko tinggi dengan imbal hasil rendah," sebuah persepsi yang tidak sepenuhnya keliru mengingat ketergantungan penuh pada cuaca yang kian ekstrem.

Revolusi di Dalam Ruangan: Vertical Farming dan Hidroponik

Sebagai jawaban atas keterbatasan lahan, muncul konsep pertanian vertikal (vertical farming). Di kota-kota besar seperti Singapura dan Tokyo, sayuran tidak lagi tumbuh di bawah terik matahari, melainkan di dalam gedung-gedung tinggi dengan lingkungan yang terkendali sepenuhnya.

Teknologi ini menggunakan lampu LED sebagai pengganti spektrum matahari dan sistem nutrisi cair yang presisi. Keunggulannya tidak main-main:

  • Efisiensi Air: Menghemat hingga 95 persen penggunaan air dibandingkan pertanian lahan terbuka.
  • Tanpa Pestisida: Lingkungan yang steril meminimalisir serangan hama.
  • Panen Sepanjang Tahun: Tidak terikat musim, sehingga stabilitas harga pangan lebih terjaga.

Namun, apakah ini berarti kita akan berhenti bertani secara tradisional? Tidak semudah itu. Biaya investasi awal untuk teknologi ini sangatlah mahal, dan hingga saat ini, baru tanaman hortikultura (sayuran dan buah kecil) yang sukses dibudidayakan. Tanaman pangan pokok seperti padi, jagung, dan gandum masih memerlukan hamparan lahan yang luas untuk mencapai skala ekonomis.

Kecerdasan Buatan di Balik Kemudi Traktor

Selain sistem tanam, cara kita mengelola lahan tradisional pun sedang mengalami transformasi. Era Pertanian Presisi (Precision Agriculture) telah tiba. Dengan bantuan sensor IoT (Internet of Things) dan kecerdasan buatan (AI), petani kini tidak lagi menebar pupuk secara buta.

Drone yang dilengkapi kamera multispektral dapat memetakan kesehatan tanaman dari udara. AI akan menganalisis bagian mana yang kekurangan air atau terserang penyakit, sehingga pemberian input kimiawi menjadi sangat efisien dan ramah lingkungan. Di sini, peran petani bergeser dari sekadar pekerja fisik menjadi "manajer data" di lapangan.

Tantangan Ketahanan dan Kedaulatan

Berhenti bertani secara tradisional membawa risiko sosiologis yang besar. Pertanian bukan sekadar urusan perut, melainkan juga bagian dari identitas budaya dan tatanan sosial masyarakat perdesaan. Jika seluruh produksi pangan beralih ke laboratorium atau pabrik-pabrik milik korporasi teknologi, bagaimana nasib jutaan petani kecil?

Kedaulatan pangan menjadi taruhan. Ketergantungan pada benih hibrida dan infrastruktur teknologi tinggi berpotensi menciptakan monopoli baru. Oleh karena itu, para ahli menyarankan model Hibridasi Pertanian. Artinya, metode tradisional tetap dipertahankan namun diperkuat dengan sentuhan mekanisasi dan digitalisasi.

Menuju Simbiosis Baru

Masa depan pangan tampaknya tidak akan sepenuhnya meninggalkan tanah. Sebaliknya, kita sedang menuju era di mana garis pemisah antara "tradisional" dan "modern" menjadi kabur. Kita mungkin akan melihat sawah-sawah tetap membentang, namun dikelola dengan traktor otonom tanpa pengemudi. Kita akan melihat dapur-dapur di apartemen kota memiliki unit tanam sendiri untuk kebutuhan harian.

Kesimpulannya, kita mungkin tidak akan berhenti bertani secara tradisional dalam arti harfiah, namun cara kita mendefinisikan "tradisional" akan berubah total. Keberlanjutan pangan global bergantung pada kemampuan kita untuk mengawinkan kearifan lokal dengan ketepatan teknologi.