Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Ancaman Maut di Balik Cangkang Mosaik, Mengenal Devil Crab dan Kandungan Racun Neurotoksin yang Mematikan

Admin WGM - Friday, 13 February 2026 | 05:31 PM

Background
Ancaman Maut di Balik Cangkang Mosaik, Mengenal Devil Crab dan Kandungan Racun Neurotoksin yang Mematikan
Kepiting iblis atau zosimus aeneus (reeflex.com/)

Keindahan terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik sering kali menyimpan rahasia kelam yang mematikan. Salah satunya adalah keberadaan Zosimus aeneus atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dunia sebagai "kepiting iblis" (devil crab). Meski memiliki tampilan fisik yang menarik dengan pola mosaik bintik cokelat kemerahan pada cangkangnya, krustasea ini diklasifikasikan sebagai salah satu biota laut paling beracun di planet bumi. Tragedi kematian yang menimpa sejumlah warga dan pelancong kuliner belakangan ini menjadi bukti nyata bahwa kepiting ini bukanlah bahan pangan, melainkan pemangsa yang membawa maut.

Bahaya utama dari kepiting iblis tidak terletak pada capitnya, melainkan pada akumulasi racun saraf (neurotoksin) yang terkandung di dalam jaringan tubuh, daging, hingga cangkangnya. Berbeda dengan spesies kepiting konsumsi seperti kepiting bakau, kepiting iblis mengandung dua jenis racun mematikan sekaligus, yakni saxitoxin dan tetrodotoxin. Dua zat ini merupakan racun yang sama yang ditemukan pada ikan buntal dan beberapa jenis kerang beracun.

Tetrodotoxin dikenal sebagai racun saraf yang sangat poten, dengan tingkat kekuatan ribuan kali lebih mematikan daripada sianida. Cara kerjanya adalah dengan memblokir saluran natrium pada sel saraf secara cepat. Akibatnya, transmisi sinyal dari otak ke otot terputus total. Sementara itu, saxitoxin bertanggung jawab atas kelumpuhan otot pernapasan. Kombinasi kedua zat ini menciptakan "bom waktu" biologis bagi siapa pun yang nekat mengonsumsinya.

Salah satu fakta yang paling mengerikan adalah ketahanan racun ini terhadap suhu panas. Banyak orang salah kaprah dengan menganggap bahwa merebus atau membakar kepiting dalam waktu lama akan menetralkan racunnya. Secara medis, saxitoxin dan tetrodotoxin bersifat stabil terhadap panas. Artinya, meskipun kepiting telah dimasak hingga matang sempurna, struktur kimia racun tersebut tetap utuh dan siap menyerang sistem saraf manusia seketika setelah masuk ke saluran pencernaan.

Gejala keracunan kepiting iblis biasanya muncul sangat cepat, mulai dari hitungan menit hingga beberapa jam pascakonsumsi. Gejala awal ditandai dengan sensasi kesemutan atau mati rasa (parestesia) pada bibir, lidah, dan ujung jari. Kondisi ini kemudian berkembang menjadi kesulitan berbicara, hilangnya koordinasi tubuh, hingga mual hebat. Pada tahap lanjut, korban akan mengalami kelumpuhan otot diafragma yang menyebabkan gagal napas. Karena hingga saat ini belum ditemukan penawar racun (antidote) yang spesifik untuk kedua jenis toksin tersebut, tindakan medis hanya bersifat suportif, seperti penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator) untuk menjaga kelangsungan hidup pasien.

Kepiting iblis sendiri sebenarnya tidak memproduksi racun ini secara mandiri. Mereka memperoleh zat berbahaya tersebut dari simbiosis dengan bakteri serta konsumsi alga beracun di habitat aslinya. Oleh karena itu, tingkat toksisitas satu ekor kepiting dapat bervariasi, namun dosis pada satu individu dewasa dilaporkan cukup untuk membunuh beberapa orang sekaligus.

Para ahli kelautan dan otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk memiliki kewaspadaan tinggi dan tidak sembarangan mengambil hasil laut yang tidak dikenal. Identifikasi visual melalui pola cangkang yang menyerupai mosaik harus menjadi peringatan utama bagi siapa pun untuk menjauhi biota ini. Edukasi mengenai keamanan pangan laut menjadi kunci utama agar petualangan kuliner tidak berujung pada tragedi pemakaman.