Gak Cuma Satu Tempat, Ternyata Begini Cara Unik Otak Kita Menyimpan Memori!
Admin WGM - Saturday, 14 February 2026 | 04:35 PM


Setiap detik, otak manusia dibombardir oleh jutaan informasi dari lingkungan sekitar, mulai dari aroma kopi di pagi hari hingga deretan angka pada laporan keuangan. Namun, tidak semua informasi tersebut menetap dalam ingatan kita. Kemampuan otak untuk memilah, menyimpan, dan memanggil kembali informasi adalah salah satu keajaiban biologis yang paling rumit. Memahami cara kerja memori bukan hanya memuaskan rasa ingin tahu ilmiah, tetapi juga membantu kita memahami identitas diri, karena pada dasarnya, kita adalah kumpulan dari memori yang kita simpan.
Dalam dunia neurosains, sistem penyimpanan informasi ini secara garis besar dibagi menjadi dua kategori utama: memori jangka pendek (short-term memory) dan memori jangka panjang (long-term memory). Keduanya bekerja dalam sebuah harmoni yang memungkinkan manusia untuk belajar, beradaptasi, dan merencanakan masa depan.
Memori Jangka Pendek: Meja Kerja Mental yang Terbatas
Memori jangka pendek sering kali diibaratkan sebagai "meja kerja" atau memori kerja (working memory). Kapasitas penyimpanan ini sangat terbatas dan bersifat sementara. Secara rata-rata, manusia hanya mampu menyimpan sekitar lima hingga sembilan informasi sekaligus dalam durasi 15 hingga 30 detik.
Secara anatomis, proses ini melibatkan korteks prefrontal, area otak yang terletak tepat di belakang dahi. Saat Anda mengingat nomor telepon yang baru saja disebutkan seseorang sebelum sempat mencatatnya, korteks prefrontal bekerja ekstra keras untuk menjaga informasi tersebut agar tetap aktif melalui sinyal elektrik antar-neuron. Jika informasi tersebut tidak segera diproses atau diulang, sinyal listrik tersebut akan memudar, dan informasi pun akan hilang selamanya untuk memberi ruang bagi stimulasi baru.
Konsolidasi: Jembatan Menuju Keabadian
Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana sebuah informasi berpindah dari penyimpanan sementara menuju memori jangka panjang? Proses ini disebut dengan konsolidasi. Peran utama dalam fase ini dipegang oleh hipokampus, sebuah struktur kecil berbentuk kuda laut yang terletak di dalam lobus temporal.
Hipokampus bertindak sebagai "petugas arsip" yang memutuskan apakah sebuah informasi cukup penting untuk disimpan secara permanen. Proses konsolidasi biasanya diperkuat oleh dua faktor utama: pengulangan dan emosi. Informasi yang memiliki keterikatan emosional kuat, baik itu kebahagiaan luar biasa maupun trauma, akan diprioritaskan oleh amigdala (pusat emosi) untuk segera dikonsolidasi oleh hipokampus. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa proses pemindahan memori ini paling aktif terjadi saat kita sedang tidur nyenyak.
Memori Jangka Panjang: Perpustakaan Tanpa Batas
Setelah melalui proses konsolidasi, memori tidak lagi menetap di hipokampus, melainkan disebar dan disimpan di berbagai bagian korteks serebral (lapisan luar otak). Inilah yang disebut memori jangka panjang. Kapasitas penyimpanan ini secara teoritis tidak terbatas dan dapat bertahan selama seumur hidup.
Memori jangka panjang terbagi lagi menjadi dua jenis:
- Memori Deklaratif (Eksplisit): Berisi fakta, peristiwa, dan pengetahuan (misalnya, mengingat tanggal kemerdekaan atau nama guru sekolah dasar).
- Memori Prosedural (Implisit): Berisi keterampilan fisik yang dilakukan secara otomatis (misalnya, cara mengendarai sepeda atau mengetik tanpa melihat papan ketik). Memori jenis ini melibatkan bagian otak lain, yaitu serebelum (otak kecil) dan basal ganglia.
Keajaiban memori jangka panjang terletak pada plastisitas sinaptik. Setiap kali kita memanggil kembali sebuah ingatan, hubungan antar-neuron yang menyimpan memori tersebut akan semakin kuat. Fenomena ini dikenal dalam neurosains dengan istilah Long-Term Potentiation (LTP).
Otak manusia bukanlah sekadar "cakram keras" statis seperti pada komputer, melainkan jaringan dinamis yang terus berubah. Kemampuan kita untuk mengingat adalah hasil dari sinkronisasi rumit antara aktivitas listrik jangka pendek di korteks prefrontal dan perubahan struktural jangka panjang di seluruh korteks serebral. Dengan menjaga kesehatan otak melalui nutrisi yang tepat, tidur yang cukup, dan terus melatih kognisi, kita secara langsung memelihara perpustakaan ingatan yang membentuk jati diri kita.
Next News

Masa Depan Pangan: Mungkinkah Kita Berhenti Bertani secara Tradisional?
6 hours ago

Quantum-Supremacy di Genggaman: Gimana Chip Kuantum Pertama di Laptop 2026 Ubah Cara Kita Kerja?
3 days ago

Kenalan Sama Tetangga Bumi, Ini Karakteristik Unik Tiap Planet dari yang Panas Sampai Beku
5 days ago

Bukan Sekadar Manja, Ini Alasan Ilmiah Mengapa Kantuk Menyerang Usai Makan Siang dan Strategi Jitu Mengatasinya
5 days ago

Wajib Tahu! Begini Cara Aman Transaksi Digital Tanpa Harus Kena Intai Hacker WiFi
5 days ago

Jangan Kaget, Begini Penjelasan Ahli Kenapa Suara Kita di Rekaman Beda Jauh Sama Aslinya
5 days ago

Ancaman Maut di Balik Cangkang Mosaik, Mengenal Devil Crab dan Kandungan Racun Neurotoksin yang Mematikan
6 days ago

Mitos "Algoritma Kuping": Benarkah HP Kita Mendengarkan Percakapan Rahasia buat Kasih Iklan di 2026?
6 days ago

AI Wingman: Gimana Aplikasi Kencan di 2026 Pakai Bot Buat Bantu Lo Ngobrol Biar Nggak Awkward sama Gebetan?
7 days ago

Bocoran PS6: Spesifikasi Monster dan Estimasi Harga Konsol Masa Depan Sony yang Siap Rilis 2027
7 days ago





