Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Science & Technology

Mitos dan Fakta Fenomena Gempa Awan Panas Jadi Pertanda Bencana

Admin WGM - Tuesday, 27 January 2026 | 10:15 AM

Background
Mitos dan Fakta Fenomena Gempa Awan Panas Jadi Pertanda Bencana
Foto Bangunan Setelah Gempa Bumi (pexels.com/Doğan Alpaslan/)

Indonesia kembali memasuki periode aktif secara tektonik pada awal tahun 2026. Di tengah rentetan guncangan yang melanda sejumlah wilayah, mulai dari Laut Maluku hingga Pulau Jawa, muncul kembali berbagai asumsi dan mitos di tengah masyarakat. Salah satu yang paling santer terdengar adalah kaitan antara cuaca panas yang ekstrem dengan potensi terjadinya gempa bumi besar.

Merujuk pada penjelasan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta berbagai literatur seismologi, penting bagi masyarakat untuk membedakan antara fenomena atmosfer dan aktivitas tektonik. Seputar mitos terjadinya gempa masih sering dipercayai oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Mitos : Mendeteksi dari Cuaca Gempa

Narasi mengenai cuaca gempa atau earthquake weather sebenarnya merupakan mitos yang telah ada sejak zaman Yunani Kuno. Di Indonesia, mitos ini sering muncul kembali saat suhu udara terasa sangat terik, yang kemudian diikuti oleh kejadian gempa bumi. Secara ilmiah, tidak ada kaitan antara suhu udara atau kondisi cuaca di permukaan bumi dengan pergerakan lempeng di kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer.

Gempa bumi adalah proses tektonik yang terjadi di dalam kerak bumi akibat akumulasi energi antar-lempeng. Sementara itu, cuaca panas yang kita rasakan adalah fenomena atmosfer. Keduanya berada pada sistem yang sepenuhnya berbeda dan tidak saling memengaruhi. Logikanya, jika cuaca panas adalah pemicu gempa, maka negara-negara gurun dengan suhu ekstrem akan diguncang gempa setiap hari. Kenyataannya, gempa bumi bisa terjadi kapan saja; saat hujan deras, tengah malam yang dingin, maupun siang hari yang terik.

Fenomena Awan Linier: Sinyal Alam atau Kebetulan

Selain suhu panas, mitos lain yang kerap menyesatkan masyarakat adalah bentuk awan yang memanjang secara linier, yang sering dijuluki sebagai awan gempa. Foto-foto awan ini kerap viral di media sosial sesaat sebelum atau sesudah gempa terjadi, disertai narasi peringatan dini yang tidak berdasar. Berdasarkan kajian meteorologi, awan berbentuk garis panjang tersebut biasanya merupakan contrail atau jejak kondensasi pesawat terbang, atau fenomena awan altocumulus yang terbentuk akibat dinamika angin di lapisan atas atmosfer. Hingga saat ini, para ilmuwan di seluruh dunia belum menemukan bukti empiris yang konsisten bahwa formasi awan tertentu dapat memprediksi lokasi atau waktu terjadinya gempa.

Fakta Ilmiah: Alasan Gempa Sering Terasa Beruntun

Masyarakat sering kali merasa ketakutan ketika terjadi gempa beruntun dalam satu bulan, seperti yang terjadi pada Januari 2026 ini. Namun, secara jurnalistik dan ilmiah, terdapat penjelasan rasional di balik frekuensi yang tampak meningkat ini:

  1. Pelepasan Energi Secara Bertahap: Gempa bumi sering kali tidak terjadi sekali. Ada fenomena gempa pendahuluan (foreshocks) dan gempa susulan (aftershocks) yang merupakan proses kerak bumi mencari kesetimbangan baru setelah pelepasan energi besar.
  2. Sensitivitas Alat dan Informasi: Saat ini, jaringan seismograf BMKG jauh lebih rapat dan canggih dibandingkan satu dekade lalu. Hal ini membuat gempa dengan magnitudo kecil sekalipun dapat terdeteksi dan diinformasikan ke publik secara real-time.
  3. Efek Amplifikasi Tanah: Fakta menunjukkan bahwa kerusakan akibat gempa tidak hanya bergantung pada magnitudo, tetapi juga jenis tanah. Tanah yang lunak akan memperkuat guncangan (amplifikasi), sehingga gempa kecil pun bisa terasa sangat merusak di permukaan.

Baca Juga : Daftar Wilayah yang Diguncang Gempa Sepanjang Januari 2026 dengan Magnitudo 5,0+ Papua hingga Pacitan 

Sejauh ini, ilmu pengetahuan dan teknologi paling mutakhir di dunia sekalipun belum mampu memprediksi dengan tepat kapan, di mana, dan berapa besar kekuatan gempa yang akan terjadi secara spesifik. Oleh karena itu, berita-berita yang menginformasikan terkait prediksi tanggal gempa dipastikan adalah kabar bohong atau hoaks.

Pentingnya memilah informasi yang kredibel bukan sekedar dari kabar burung yang menjadi benteng pertahanan pertama dalam mitigasi. Perubahan bumi yang terus bergerak mencari keseimbangan, menuntut manusia untuk terus beradaptasi dan paham cara mengatasinya. Persiapkan diri sedini mungkin melalui edukasi yang benar dan bangunan yang kokoh. Sebab pada setiap gempa yang terjadi, keselamatan bukan hanya soal keberuntungan, melainkan hasil dari pemahaman yang tepat atas fenomena alam yang dihadapi Indonesia akhir-akhir ini.