Jumat, 22 Mei 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Bukan Minyak, Urat Nadi Internet Dunia di Selat Hormuz Kini Berada dalam Kendali Iran

Admin WGM - Monday, 18 May 2026 | 12:00 PM

Background
Bukan Minyak, Urat Nadi Internet Dunia di Selat Hormuz Kini Berada dalam Kendali Iran
Sabotase Kabel Internet Bawah Laut Selat Hormuz (Sindo News /)

Ekskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memasuki babak baru yang tidak lagi hanya bertumpu pada konfrontasi militer konvensional atau jalur logistik minyak mentah. Pemerintah Iran dilaporkan tengah menjalankan strategi geopolitik mutakhir dengan memanfaatkan titik krusial di Selat Hormuz. Langkah ini diprediksi dapat mengguncang stabilitas digital global, sekaligus memicu kekhawatiran mendalam dari negara-negara Barat terkait keamanan jalur komunikasi internasional yang melintasi kawasan tersebut.

Penguasaan terhadap infrastruktur strategis nontradisional ini menempatkan Teheran dalam posisi tawar yang jauh lebih kuat, sekaligus memaksa komunitas internasional untuk merumuskan ulang peta risiko keamanan siber global.

Sumber Kekayaan Baru Selain Minyak Bumi

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai urat nadi distribusi energi dunia, namun kini wilayah perairan strategis tersebut menyimpan potensi lain yang jauh lebih bernilai di era digital. Melansir laporan CNBC Indonesia, para pakar mengonfirmasi bahwa bukan minyak, melainkan sumber duit baru Iran di Selat Hormuz yang dinilai bisa mengguncang dunia. Sumber daya baru tersebut merujuk pada dominasi geografis Iran atas jalur lintas kabel serat optik bawah laut (submarine communications cable) yang menghubungkan lalu lintas data internet antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Ketergantungan global yang sangat tinggi terhadap koridor data ini membuat kendali fisik maupun siber yang dimiliki Iran atas wilayah perairan tersebut menjadi instrumen ekonomi dan politik yang sangat diperhitungkan.

Fakta di Balik "Harta Karun" Selat Hormuz

Geografi Selat Hormuz memberikan keuntungan strategis yang luar biasa bagi Teheran dalam memetakan kekuatan barunya. Melansir laporan Sindonews, terdapat 4 fakta Iran punya harta karun di bawah Selat Hormuz, di mana salah satunya bisa menjadi bencana besar di Timur Tengah jika terjadi salah kalkulasi politik. Fakta-fakta tersebut mencakup posisi dangkal selat yang mempermudah akses sabotase, besarnya volume data global yang melintas, keterlibatan konsorsium internasional, hingga potensi pemutusan arus internet total (blackout) yang dapat melumpuhkan transaksi finansial antarbenua.

Jika ketegangan bersenjata pecah, kerusakan pada infrastruktur bawah laut ini akan memicu kekacauan ekonomi yang dampaknya diprediksi jauh lebih merusak daripada sekadar kelangkaan pasokan minyak bumi mentah.

Instrumen Tekanan Diplomatik Terhadap Barat

Langkah pemanfaatan jalur siber ini secara terbuka digunakan sebagai instrumen geopolitik untuk mengimbangi sanksi ekonomi yang bertubi-tubi dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Melansir laporan Kompas.com, pengamat internasional mendeteksi adanya upaya baru Iran untuk tekan negara Barat dengan memanfaatkan kabel bawah laut. Dengan memegang kendali atas titik transit data tersebut, Teheran memiliki kemampuan untuk melakukan pengawasan lalu lintas data (data interception) atau bahkan mengancam akan memutus konektivitas sebagai respons terhadap tekanan eksternal.

Strategi ini dinilai sebagai bentuk diplomasi koersif modern yang memanfaatkan ketergantungan mutlak negara-negara maju terhadap stabilitas jaringan internet global.

Menundukkan Raksasa Teknologi Dunia

Dampak dari manuver geopolitik ini tidak hanya menyasar pada kebijakan luar negeri pemerintahan Barat, melainkan langsung menghantam jantung industri teknologi dunia di Lembah Silikon. Melansir laporan Tribun Surabaya, implementasi strategi baru Iran untuk tekan AS dan negara Barat ini diklaim bisa menundukkan perusahaan raksasa seperti Google hingga Microsoft. Perusahaan-perusahaan teknologi multinasional tersebut sangat bergantung pada keamanan kabel bawah laut di Selat Hormuz untuk mengoperasikan pusat data (data center) dan layanan awan (cloud computing) mereka di kawasan Asia dan Timur Tengah.

Ancaman gangguan pada koridor ini memaksa korporasi teknologi global untuk membuka ruang negosiasi atau setidaknya mempertimbangkan tuntutan regulasi kedaulatan data yang diajukan oleh Teheran demi mengamankan kelangsungan bisnis digital mereka.