Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Culture

Bukan Cuma Biar Cantik, Ternyata Ini Sejarah Panjang Lipstik dari Zaman Firaun hingga Jadi Simbol Kebebasan!

Admin WGM - Saturday, 07 February 2026 | 06:27 PM

Background
Bukan Cuma Biar Cantik, Ternyata Ini Sejarah Panjang Lipstik dari Zaman Firaun hingga Jadi Simbol Kebebasan!
Sejarah Lipstick Sampai Dipakai Sekarang (pexels.com/MART PRODUCTION/)

Salah satu kosmetik paling populer yaitu lipstik telah menjadi salah satu produk kecantikan paling personal dan universal. Hampir setiap perempuan, dari berbagai latar belakang budaya, setidaknya memiliki satu warna lipstik favorit. Namun, tahukah Anda bahwa di balik tabung mungil ini tersimpan sejarah ribuan tahun yang penuh dengan intrik, kekuasaan, pemberontakan, dan perubahan sosial? Lipstik bukan sekadar pewarna bibir; ia adalah cerminan peradaban, status, moralitas, dan kebebasan.

Awal Mula: Dari Serangga hingga Batu Mulia di Zaman Kuno

Sejarah lipstik dimulai jauh sebelum masehi. Bukti tertua ditemukan di peradaban Mesopotamia kuno (sekitar 5.000 tahun lalu), di mana perempuan dan laki-laki bangsawan menghancurkan permata semimulia dan mencampurkannya dengan minyak untuk menghias bibir mereka.

Namun, yang paling terkenal adalah Mesir Kuno. Firaun dan kaum elit, baik perempuan maupun laki-laki, menggunakan pewarna bibir yang terbuat dari campuran serangga carmine yang dihancurkan (memberikan warna merah tua), ochre merah (tanah liat), dan bahkan ganggang bromin. Menurut British Museum, lipstik pada masa itu bukan hanya untuk kecantikan, melainkan simbol status sosial, kekuasaan, dan bahkan perlindungan spiritual. Cleopatra dikenal sering menggunakan warna merah tua yang mencolok dari campuran kumbang cochineal.

Abad Pertengahan: Lipstik Dilarang, Simbol Dosa

Seiring datangnya agama Kristen ke Eropa, pandangan terhadap kosmetik, termasuk lipstik, berubah drastis. Gereja menganggap pewarna bibir sebagai upaya untuk menipu Tuhan dengan mengubah penampilan alami yang telah diberikan.

Pada abad pertengahan, lipstik bahkan sering dikaitkan dengan pelacuran dan sihir. Di beberapa negara, memakai lipstik dapat dihukum. Selama berabad-abad, penggunaan lipstik meredup, hanya digunakan secara sembunyi-sembunyi oleh para aktris teater atau pekerja seks komersial.

Kebangkitan di Era Ratu Elizabeth I dan Revolusi Prancis

Lipstik kembali populer secara sporadis. Di Inggris, Ratu Elizabeth I (abad ke-16) mempopulerkan bibir merah terang dengan wajah yang dipoles putih pucat. Namun, gaya ini terbatas pada kalangan bangsawan dan aktris, dan kembali meredup setelahnya.

Barulah pada akhir abad ke-18, dengan meletusnya Revolusi Prancis, lipstik kembali menemukan momentumnya. Meski awalnya masih kontroversial, revolusi ini membuka jalan bagi gagasan kebebasan berekspresi.

Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20: Dari Skandal ke Industri

Pada abad ke-19, lipstik masih dianggap tidak pantas bagi perempuan "terhormat". Namun, perubahan mulai terasa. Aktris teater seperti Sarah Bernhardt secara terbuka memakai lipstik, memicu skandal namun sekaligus menginspirasi banyak perempuan.

Titik balik sesungguhnya terjadi pada awal abad ke-20. Pada 1915, Maurice Levy memperkenalkan lipstik dalam kemasan tabung putar pertama, membuatnya lebih praktis dan higienis. Ini adalah revolusi bagi industri kecantikan.

Namun, yang paling penting adalah peran gerakan suffragette di Amerika Serikat pada tahun 1912. Ribuan perempuan berbaris di New York untuk menuntut hak pilih, dan banyak dari mereka memakai lipstik merah cerah sebagai simbol pemberontakan, keberanian, dan solidaritas. Lipstik merah menjadi pernyataan politik yang kuat.

Era Modern: Simbol Pemberdayaan dan Ekspresi Diri

Setelah Perang Dunia I dan II, lipstik semakin memantapkan posisinya sebagai produk kecantikan esensial. Ikon-ikon Hollywood seperti Marilyn Monroe dan Elizabeth Taylor menjadikan lipstik merah sebagai bagian tak terpisahkan dari glamor.

Di tahun 2026, lipstik telah melampaui sebatas tren. Ia menjadi simbol pemberdayaan perempuan untuk mendefinisikan kecantikan mereka sendiri. Dari warna-warna berani hingga formula yang ramah lingkungan dan vegan, lipstik kini merayakan keragaman dan individualitas. Laki-laki pun mulai mengeksplorasi gender-fluid makeup, menunjukkan bahwa batas-batas penggunaan lipstik semakin meluas.

Dari ritual spiritual kuno hingga menjadi pernyataan mode yang berani, sejarah lipstik adalah perjalanan yang tak terduga. Ia mengajarkan kita bahwa benda-benda sehari-hari sekalipun bisa memiliki makna yang dalam, mencerminkan nilai-nilai sebuah zaman, dan menjadi alat bagi individu untuk mengukir cerita mereka sendiri.