Selasa, 25 Agustus 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Aksi Moshing di Pendopo Ageng ISI Solo Diakui Kecolongan, Kampus Siapkan Evaluasi

Admin WGM - Sunday, 23 August 2026 | 11:22 AM

Background
Aksi Moshing di Pendopo Ageng ISI Solo Diakui Kecolongan, Kampus Siapkan Evaluasi
Moshing pendopo ageng isi solo (detik.news/)

Aksi sejumlah mahasiswa berjoget hingga moshing di Pendopo Ageng Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menjadi sorotan setelah videonya viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi saat penutupan Expo UKM ISI Solo pada Jumat (21/8/2026) malam. Dilansir dari Detikcom, pihak kampus kemudian memberikan klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.

Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan ISI Solo, Esha Karwinarno, yang juga menjadi ketua panitia, membenarkan aksi tersebut berlangsung di Pendopo Ageng. Menurut Esha, kejadian muncul pada penghujung acara setelah rangkaian pertunjukan seni tradisi selesai. Sejumlah mahasiswa kemudian spontan naik ke panggung saat sesi penutupan berlangsung.

"Itu acara anak-anak closing, joget-joget karena musik. Mungkin ada yang merekam hal-hal yang bukan performing-nya, malah hal-hal sampingannya," ujar Esha, Sabtu (22/8/2026). 

Ia menjelaskan video yang beredar menampilkan bagian sampingan dari acara, bukan pertunjukan utama. Pihak penyelenggara kemudian menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.

Sebelum sesi penutupan, Pendopo Ageng digunakan untuk sajian seni tradisi seperti tari dan karawitan. Namun, pada bagian akhir acara, sejumlah mahasiswa naik ke panggung dan berjoget hingga melakukan moshing. Penggunaan area tersebut kemudian dipersoalkan karena Pendopo Ageng memiliki nilai tradisi dan budaya Jawa.

Esha menegaskan aksi mahasiswa tersebut tidak berkaitan dengan minuman beralkohol. 

"Tidak (mabuk). Itu murni anak bersuka ria. Jika kita tarik garis kalau kita samakan seperti nonton konser. Tapi kami salahnya memang tempatnya di Pendopo," kata dia.

Ia mengakui persoalan utama dalam kejadian tersebut adalah penggunaan tempat yang tidak sesuai peruntukannya.

Pihak kampus juga menyoroti adanya mahasiswa yang melakukan moshing sambil memegang gamelan. Menurut Esha, secara keseluruhan gamelan tetap diperlakukan sebagaimana mestinya dan Pendopo digunakan untuk pertunjukan tradisi. Namun, bagian penutupan yang berlangsung spontan menimbulkan visual yang dinilai tidak tepat oleh sejumlah pihak.

"Pendopo itu memang tempat untuk sajian yang sesuai peruntukannya, misal tari, karawitan. Pendopo itu sendiri konsep Jawa, berarti sajian yang tepat di situ tradisi dan budaya Jawa," jelas Esha. 

Ia mengatakan aksi moshing dengan memegang gamelan dapat menimbulkan anggapan bahwa penggunaan ruang tersebut tidak sesuai. Karena itu, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pihak penyelenggara.

Pihak ISI Solo menyadari adanya perbedaan pemahaman mahasiswa mengenai nilai dan budaya, termasuk tata krama menggunakan ruang kampus. Kampus berencana memberikan pengetahuan tambahan mengenai kebudayaan agar mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih seragam. Langkah tersebut diharapkan mencegah penggunaan ruang tradisi secara tidak tepat pada kegiatan berikutnya.

"Kita sudah ada standarisasi. Tapi itu moment di akhir, jadi agak kecolongan juga. Sebenarnya di Pendopo kita peruntukan untuk hal-hal yang formal," ungkap Esha. 

Ia mengatakan aturan ke depan akan membuat panitia lebih selektif dalam melihat susunan kegiatan mahasiswa. Menurutnya, kejadian tersebut muncul spontan dan berada di luar kendali berdasarkan rundown yang sebelumnya terlihat normal.

"Bukan sesuatu dalam acara," pungkasnya. 

Esha menegaskan pihak panitia akan memperketat seleksi kegiatan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Evaluasi dilakukan setelah aksi mahasiswa di Pendopo Ageng menuai sorotan publik di media sosial.