Kamis, 11 Juni 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Siap-Siap Kemarau Panjang, BMKG Sebut El Nino Bakal Bertahan Lebih Lama

Admin WGM - Thursday, 11 June 2026 | 11:00 AM

Background
Siap-Siap Kemarau Panjang, BMKG Sebut El Nino Bakal Bertahan Lebih Lama
Fenomena El Nino 2026 Berpotensi Awet hingga Awal 2027 (Kompas/)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan rilis peringatan dini mengenai perkembangan kondisi iklim global yang berdampak langsung pada wilayah kepulauan Indonesia. Berdasarkan hasil analisis data dinamika atmosfer dan pemantauan satelit terbaru, fenomena iklim El Nino yang melanda sepanjang tahun 2026 ini diprediksi memiliki intensitas yang cukup kuat dan berpotensi bertahan dalam durasi yang lebih panjang hingga memasuki awal tahun 2027.

Kepala BMKG dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa indikasi perpanjangan durasi fenomena ini didasarkan pada lonjakan anomali suhu muka laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang terus menunjukkan tren kenaikan. Angka indeks El Nino yang berada di atas ambang batas normal tersebut memicu terjadinya pergeseran angin pasat, yang pada gilirannya menjauhkan gumpalan awan pembawa hujan dari wilayah Indonesia. Akibatnya, sebagian besar wilayah tanah air akan mengalami penurunan curah hujan yang sangat drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Peta Wilayah Terdampak dan Potensi Risiko Kebakaran

Pihak BMKG telah memetakan sejumlah wilayah di Indonesia yang akan merasakan dampak paling signifikan dari anomali cuaca panas ekstrem ini. Wilayah-wilayah yang berada di selatan garis khatulistiwa diprediksi menjadi area yang paling rentan mengalami kekeringan ekstrem.

Selain ancaman kekeringan yang meluas, BMKG juga menyoroti peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara masif. Penurunan kelembapan udara dan mengeringnya vegetasi di lantai hutan menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut api. Sektor perkebunan dan kehutanan di wilayah Sumatra dan Kalimantan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dini serta menghentikan total aktivitas pembukaan lahan dengan metode pembakaran guna mencegah timbulnya bencana kabut asap lintas batas negara.

Dampak Sistemik pada Sektor Pertanian dan Pasokan Air

Perpanjangan masa aktif El Nino hingga awal tahun 2027 dipastikan akan memberikan tekanan berat pada sektor ketahanan pangan nasional. Siklus tanam komoditas utama seperti padi dan palawija terancam mengalami kemunduran atau bahkan kegagalan panen akibat minimnya pasokan air irigasi. Para petani diimbau untuk beralih ke varietas tanaman yang lebih toleran terhadap kondisi kering serta menerapkan sistem manajemen air yang efisien.

Di sisi lain, penurunan volume air di waduk-waduk utama dan sumber air tanah akan memengaruhi pasokan air bersih untuk kebutuhan domestik masyarakat perkotaan dan industri. Penurunan debit air ini juga berpotensi mengganggu kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang dapat berdampak pada stabilitas pasokan energi listrik nasional.

Rekomendasi Mitigasi dan Kesiapsiagaan Pemerintah Daerah

Merespons ancaman hidrometeorologi kering yang berkepanjangan ini, BMKG meminta pemerintah daerah di seluruh provinsi untuk segera mengambil langkah mitigasi taktis yang terintegrasi. Upaya pemanenan air hujan melalui optimalisasi waduk, embung, dan tandon air harus segera digalakkan sebelum masa pancaroba berakhir.

Selain itu, koordinasi lintas sektoral antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dinas pertanian, dan instansi terkait perlu diperketat untuk menyusun rencana kontinjensi. Langkah antisipatif yang terukur dan kesadaran masyarakat dalam menghemat penggunaan air harian diharapkan mampu meminimalkan dampak kerugian sosial-ekonomi yang ditimbulkan oleh fenomena El Nino berkepanjangan ini.