RUU Perampasan Aset Tak Cuma Bidik Korupsi, 13 Kejahatan Masuk Sasaran
Admin WGM - Sunday, 30 August 2026 | 12:00 PM


JAKARTA — Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset tidak hanya diarahkan untuk menangani tindak pidana korupsi, tetapi juga sejumlah kejahatan lain yang dinilai bermotif ekonomi dan berdampak luas terhadap masyarakat. Komisi III DPR RI kini memasukkan 13 jenis tindak pidana yang dapat dikenai mekanisme perampasan aset dalam rancangan regulasi tersebut.
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mengatakan daftar tersebut disusun setelah pihaknya melakukan pendalaman serta mempertimbangkan masukan dari para ahli hukum dan masyarakat. Menurutnya, tindak pidana yang masuk dalam ruang lingkup RUU sebaiknya memiliki motif ekonomi, merugikan negara dan masyarakat luas, atau memiliki tingkat keseriusan tinggi serta berdampak terhadap kepentingan publik.
Sebanyak 13 tindak pidana yang masuk dalam pembahasan meliputi korupsi, narkotika dan psikotropika, terorisme, penyelundupan manusia, serta penyelundupan senjata, amunisi, dan bahan berbahaya. Selain itu, cakupannya mencakup tindak pidana di bidang kehutanan, lingkungan hidup, perpajakan, perbankan, perasuransian, pertambangan, kelautan dan perikanan, serta perdagangan orang atau TPPO.
Perluasan cakupan tersebut membuat RUU Perampasan Aset memiliki jangkauan lebih luas dibandingkan anggapan publik yang selama ini kerap mengaitkannya dengan pemberantasan korupsi. Mekanisme perampasan aset nantinya diharapkan dapat digunakan untuk mengejar hasil kejahatan sekaligus mencegah pelaku menikmati keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana.
Komisi III juga melakukan studi perbandingan terhadap sejumlah negara yang telah menerapkan mekanisme perampasan aset tanpa melalui putusan pidana atau non-conviction based forfeiture. Negara yang menjadi bahan perbandingan antara lain Selandia Baru, Singapura, Italia, Amerika Serikat, Australia, Inggris, hingga Thailand.
Dalam sejumlah negara tersebut, mekanisme perampasan aset tanpa putusan pidana umumnya diarahkan pada tindak pidana serius atau kejahatan tertentu dengan nilai ekonomi signifikan. Perbandingan itu menjadi salah satu bahan pertimbangan DPR dalam merumuskan batasan dan mekanisme yang akan diterapkan di Indonesia.
Habiburokhman menegaskan Komisi III ingin memastikan RUU Perampasan Aset dapat berjalan efektif, proporsional, berkeadilan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Masukan masyarakat serta para ahli juga disebut akan menjadi bagian penting dalam penyusunan regulasi agar aturan tersebut tidak hanya cepat disahkan, tetapi memiliki dasar hukum yang kuat.
Pembahasan RUU Perampasan Aset kini menjadi perhatian publik karena menyangkut kewenangan negara dalam mengambil aset yang berkaitan dengan tindak pidana. Karena itu, kejelasan definisi, prosedur perampasan, perlindungan hak warga negara, serta mekanisme pengawasan menjadi aspek penting yang perlu dipastikan sebelum regulasi tersebut disahkan.
Next News

Mantan Calon Bupati Deli Serdang Jadi Otak Pengiriman Uang Palsu Rp 980 Juta untuk Demo di Jakarta
in 5 hours

Kayuh Sepeda Pekalongan-Jakarta Berujung Tersangka, Bareskrim Polri Periksa Keluarga Pedagang Singkong
in an hour

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Tegaskan Indonesia Belum Bisa Ekspor Listrik ke Singapura
16 hours ago

Pemerintah Siapkan Pajak Digital untuk Transfer Bank demi Genjot Penerimaan Negara
20 hours ago

Titik Api Masih Muncul, Kebakaran TPA Degayu Pekalongan Landa Area Seluas 1,5 Hektar
a day ago

Pembatalan Suket Ijazah Gibran Berpotensi Merembet ke Presiden Prabowo
2 days ago

Polda Metro Jaya Minta Maaf Soal Polemik Deklarasi Mahasiswa di Bundaran HI
2 days ago

Melestarikan Warisan Budaya, Parade Kain Batik 116 Meter Bentang Pewarna Alami di Kota Pekalongan
2 days ago

Gelombang Pengunduran Diri Musisi dan UMKM Warnai Rencana Penyelenggaraan RANS Carnival di Sleman
3 days ago

Putusan Kasasi Mahkamah Agung Batalkan Surat Penyetaraan Ijazah Gibran Rakabuming Raka
3 days ago


