Senin, 27 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Peta Politik Israel Berubah, Dua Mantan PM Bersatu Lawan Kepemimpinan Netanyahu

Admin WGM - Monday, 27 April 2026 | 05:00 PM

Background
Peta Politik Israel Berubah, Dua Mantan PM Bersatu Lawan Kepemimpinan Netanyahu
Kondisi Kesehatan Benjamin Netanyahu Terbaru (CNN Indonesia/)

Peta politik Israel mengalami guncangan hebat pada pengujung April 2026. Dua mantan Perdana Menteri, Naftali Bennett dan Yair Lapid, secara resmi mengumumkan penggabungan kekuatan politik mereka dengan membentuk partai baru bernama "Beyahad". Langkah strategis ini diambil dengan tujuan tunggal untuk menumbangkan dominasi Benjamin Netanyahu dari kursi kekuasaan. Situasi politik semakin memanas mengingat Perdana Menteri petahana, Benjamin Netanyahu, dilaporkan tengah menghadapi krisis ganda, yakni ancaman pelengseran politik dan kondisi kesehatan yang memburuk akibat penyakit kanker.

Konsolidasi oposisi ini dipandang sebagai tantangan paling serius bagi pemerintahan koalisi sayap kanan Netanyahu dalam satu dekade terakhir.

Pembentukan Partai Beyahad: Aliansi Penantang Utama

Pengumuman pembentukan partai "Beyahad" (yang berarti "Bersama" dalam bahasa Ibrani) menjadi sorotan utama media internasional. Melansir laporan Tribun Banyumas, Naftali Bennett dan Yair Lapid sepakat untuk menepikan perbedaan ideologi mereka demi satu visi untuk memulihkan stabilitas nasional. Partai ini dirancang untuk menarik basis pemilih moderat dan kanan-tengah yang mulai jenuh dengan kebijakan keras pemerintahan saat ini.

Berdasarkan laporan Bloomberg Technoz, bersatunya para mantan perdana menteri ini didorong oleh kekhawatiran mendalam atas arah kebijakan luar negeri dan keamanan Israel. Aliansi ini mengeklaim telah mendapatkan dukungan dari sejumlah tokoh militer dan intelijen veteran yang menginginkan perubahan kepemimpinan di tengah ketegangan regional yang terus meningkat di Timur Tengah.

Krisis Kesehatan Benjamin Netanyahu

Di saat oposisi menggalang kekuatan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu harus menghadapi kenyataan pahit terkait kondisi fisiknya. Melansir laporan CNN Indonesia, Netanyahu dikonfirmasi mengidap penyakit kanker pada awal tahun 2026. Meski kantor Perdana Menteri menyatakan bahwa ia tetap menjalankan tugas secara penuh, spekulasi mengenai kemampuan fisiknya untuk memimpin negara dalam jangka panjang mulai dipertanyakan oleh publik dan jajaran parlemen (Knesset).

Kondisi kesehatan ini menjadi titik lemah yang dimanfaatkan oleh lawan politik untuk mendorong percepatan pemilihan umum atau mosi tidak percaya. Tekanan terhadap Netanyahu tidak hanya datang dari luar koalisi, tetapi juga dari internal pemerintahan yang mulai mengkhawatirkan terjadinya kekosongan kekuasaan jika kondisi kesehatan sang pemimpin terus merosot.

Ambisi Menumbangkan Status Quo

Partai Beyahad secara terbuka menyatakan bahwa mereka adalah jawaban atas kebuntuan politik yang dialami Israel selama beberapa tahun terakhir. Mengutip ulasan Harian Basis, Bennett dan Lapid telah menyusun platform yang fokus pada pemulihan ekonomi dan perbaikan hubungan diplomatik dengan negara-negara Barat yang sempat menegang. Mereka menuding pemerintahan Netanyahu terlalu fokus pada kelangsungan politik pribadi di tengah krisis nasional yang mendesak.

Tantangan bagi Beyahad adalah menyatukan berbagai faksi dalam masyarakat Israel yang terpolarisasi. Namun, dengan latar belakang Bennett yang kuat di sektor keamanan dan Lapid yang memiliki basis massa perkotaan yang luas, partai baru ini diprediksi akan menjadi kekuatan dominan dalam pemilu mendatang.

Respons Pemerintahan dan Proyeksi Politik

Menanggapi pembentukan aliansi tersebut, pihak Likud—partai pimpinan Netanyahu—menuding gerakan tersebut sebagai upaya oportunistik yang dapat membahayakan keamanan nasional di masa perang. Mereka menegaskan bahwa stabilitas kepemimpinan tetap berada di tangan koalisi yang ada saat ini. Kendati demikian, tekanan massa yang menuntut reformasi pemerintahan terus meluas di jalanan Tel Aviv dan Yerusalem.

Hingga Senin (27/4/2026), situasi di Knesset tetap tegang. Jika aliansi Bennett-Lapid berhasil menarik dukungan dari partai-partai kecil dalam koalisi Netanyahu, maka pemerintahan saat ini terancam runtuh lebih cepat dari perkiraan semula. Dunia kini menanti apakah "Beyahad" akan benar-benar mampu mengakhiri era Netanyahu atau justru terjebak dalam dinamika politik Israel yang sering kali penuh dengan kejutan di menit-menit terakhir.