Jumat, 20 Februari 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Memecah Keheningan: Mengapa Kita Tidak Boleh Lagi Menoleransi Pelecehan Seksual?

Admin WGM - Tuesday, 10 February 2026 | 06:37 PM

Background
Memecah Keheningan: Mengapa Kita Tidak Boleh Lagi Menoleransi Pelecehan Seksual?
(stock.adobe.com/)

Pelecehan seksual sering kali terjadi di tempat yang tidak terduga, mulai dari transportasi umum, lingkungan kantor, hingga ruang digital. Masalahnya, masih banyak yang menganggap remeh tindakan tertentu dengan dalih "cuma bercanda" atau "salah paham".

Padahal, Winners, pelecehan seksual bukan soal gairah, melainkan soal kekuasaan dan pelanggaran batasan. Mari kita pahami lebih dalam agar kita bisa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.

1. Memahami Bentuk-Bentuk Pelecehan (Bukan Cuma Fisik!)

Banyak orang berpikir pelecehan baru terjadi jika ada sentuhan fisik. Ini adalah pemahaman yang keliru.

  • Pelecehan Verbal: Komentar berbau seksual, siulan (catcalling), atau lelucon porno yang membuat orang lain tidak nyaman.
  • Pelecehan Non-Verbal: Tatapan yang melecehkan, gestur tubuh yang tidak pantas, atau memperlihatkan materi seksual tanpa persetujuan.
  • Pelecehan Digital: Mengirim pesan atau foto tidak senonoh melalui media sosial (sering disebut cyber harassment).

2. Mengapa "Bystander Effect" Harus Dihentikan?

Pernahkah kamu melihat seseorang dilecehkan di ruang publik tapi semua orang hanya diam? Itulah yang disebut Bystander Effect—fenomena di mana orang tidak menolong korban karena merasa "pasti ada orang lain yang akan membantu".

  • Be an Active Bystander: Jika kamu melihat kejadian tersebut, lakukan teknik 5D:
  1. Ditegur (Direct): Tegur pelaku secara langsung jika merasa aman.
  2. Dialihkan (Distract): Alihkan perhatian pelaku (misalnya pura-pura tanya jalan ke korban).
  3. Delegasikan (Delegate): Cari bantuan dari pihak berwenang di lokasi.
  4. Dokumentasikan (Document): Rekam kejadian sebagai bukti (namun jangan sebar tanpa izin korban).
  5. Ditenangkan (Delay): Setelah kejadian, tanyakan kondisi korban dan tawarkan bantuan.

3. Pentingnya "Consent" (Persetujuan)

Kunci utama dalam setiap interaksi sosial adalah persetujuan. Winners, consent harus diberikan secara sadar, tanpa paksaan, dan bisa ditarik kembali kapan saja. Jika seseorang tidak mengatakan "Ya" secara antusias, itu berarti "Tidak". Menghargai batasan orang lain adalah standar dasar kemanusiaan.

4. Berhenti Menyalahkan Korban (Victim Blaming)

"Salah sendiri pakai baju begitu," atau "Kenapa jalan sendirian malam-malam?" Kalimat-kalimat ini harus segera kita hapus dari kamus. Pakaian atau waktu tidak pernah menjadi alasan seseorang untuk dilecehkan. Pelaku adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas tindakannya.

Menciptakan lingkungan yang aman adalah tanggung jawab kolektif. Dengan berani bicara, mendengarkan korban tanpa menghakimi, dan tidak menoleransi "lelucon" yang merendahkan, kita sedang membangun dunia yang lebih baik. Jangan pernah takut untuk berdiri di sisi yang benar, Winners.