Iran Rilis Daftar Enam Negara Prioritas di Selat Hormuz: Thailand Masuk, Posisi Indonesia Dipertanyakan
Admin WGM - Thursday, 26 March 2026 | 08:34 PM


Pemerintah Republik Islam Iran secara resmi mengumumkan daftar enam negara "sahabat" yang mendapatkan izin khusus bagi kapal-kapal komersial mereka untuk melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Dalam daftar yang dirilis otoritas Teheran, Thailand muncul sebagai salah satu negara yang berhasil mengamankan jalur pelayaran bagi kapal tangkernya, sementara posisi Indonesia hingga kini belum disebutkan.
Keberhasilan Thailand dalam melintasi jalur krusial perdagangan minyak dunia tersebut dilaporkan sebagai hasil dari lobi diplomatik yang intensif. Kapal tangker minyak milik Thailand dilaporkan telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan pengawalan minimal setelah adanya jaminan keamanan dari pihak Garda Revolusi Iran. Selain Thailand, lima negara lainnya yang mendapatkan konsesi serupa adalah Rusia, Tiongkok, Qatar, Oman, dan Pakistan.
"Pemberian izin lintas ini merupakan manifestasi dari hubungan diplomatik yang solid dan pengakuan atas posisi politik negara-negara tersebut yang dipandang tidak memusuhi kepentingan Iran di kawasan," ujar juru bicara otoritas maritim Iran dalam keterangan resminya yang dikutip pada Kamis (26/3).
Kebijakan diskriminatif ini memicu diskursus mengenai nasib kapal-kapal berbendera Indonesia yang juga bergantung pada jalur Selat Hormuz untuk pasokan energi nasional. Hingga saat ini, nama Indonesia tidak tercantum dalam daftar prioritas tersebut, meskipun Jakarta dikenal memiliki hubungan bilateral yang relatif stabil dengan Teheran. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai efektivitas diplomasi maritim Indonesia dalam menghadapi krisis di Timur Tengah.
Para analis ekonomi internasional memperingatkan bahwa ketidakhadiran Indonesia dalam daftar "jalur hijau" ini dapat berimplikasi pada peningkatan biaya asuransi pelayaran dan risiko keterlambatan pasokan komoditas energi. Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) vital yang melayani hampir sepertiga dari total perdagangan minyak mentah melalui laut di seluruh dunia.
Di sisi lain, keberhasilan Thailand menjadi preseden bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya bahwa pendekatan diplomatik pragmatis dapat menjadi kunci keselamatan aset maritim di zona konflik. Pemerintah Indonesia melalui kementerian terkait diharapkan segera melakukan langkah-langkah strategis untuk memastikan keamanan armada nasional yang melintas, mengingat ketergantungan sektor industri domestik terhadap stabilitas jalur logistik internasional di kawasan Teluk.
Next News

Seorang Perempuan Asal Pemalang Ditemukan Meninggal di Rumah Warga Karanganyar
in 6 hours

Geger Brankas Rahasia! Polisi Sita Emas 74 Kg dan Uang Rp543 Miliar Hasil Korupsi, Polri-KPK Buru Tersangka
in 7 hours

Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 3.889 Orang, PM Vietnam Apresiasi Ratusan Prajurit Evakuasi
in 6 hours

Kewalahan dengan Media Sosial? Coba Panduan Digital Detox untuk Kesehatan Mental
in 6 hours

Mens Rea Etik Suryani: KPK Sebut Korupsi di Sukoharjo Estafet Antarbupati
in 3 hours

Diserang Isu Money Laundering Raffi Ahmad, RANS Buka Suara di Tengah Persiapan Melantai di Bursa!
in 2 hours

Sogok Massal Penguasa Gerbang Negara: Bagaimana John Field dkk Membeli Kebijakan Bea Cukai Senilai Puluhan Miliar
in an hour

Rampung Seleksi Frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, Tiga Operator Raksasa Bersiap Dongkrak Jaringan
in 5 hours

Ingin Porsi Layak Seperti di Amerika, Prabowo Minta Daging Ayam Menu MBG Tak Dipotong Kecil-Kecil
in 4 hours

Kondisi Menurun Drastis, Wali Kota Bandung Farhan Mendadak Dilarikan ke IGD Rumah Sakit
in 2 hours





