Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Iran Rilis Daftar Enam Negara Prioritas di Selat Hormuz: Thailand Masuk, Posisi Indonesia Dipertanyakan

Admin WGM - Thursday, 26 March 2026 | 08:34 PM

Background
Iran Rilis Daftar Enam Negara Prioritas di Selat Hormuz: Thailand Masuk, Posisi Indonesia Dipertanyakan
Lobi Diplomatik Berhasil, Kapal Thailand Bebas Melintasi Selat Hormuz Iran (Kalimantan Live /)

Pemerintah Republik Islam Iran secara resmi mengumumkan daftar enam negara "sahabat" yang mendapatkan izin khusus bagi kapal-kapal komersial mereka untuk melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Dalam daftar yang dirilis otoritas Teheran, Thailand muncul sebagai salah satu negara yang berhasil mengamankan jalur pelayaran bagi kapal tangkernya, sementara posisi Indonesia hingga kini belum disebutkan.

Keberhasilan Thailand dalam melintasi jalur krusial perdagangan minyak dunia tersebut dilaporkan sebagai hasil dari lobi diplomatik yang intensif. Kapal tangker minyak milik Thailand dilaporkan telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan pengawalan minimal setelah adanya jaminan keamanan dari pihak Garda Revolusi Iran. Selain Thailand, lima negara lainnya yang mendapatkan konsesi serupa adalah Rusia, Tiongkok, Qatar, Oman, dan Pakistan.

"Pemberian izin lintas ini merupakan manifestasi dari hubungan diplomatik yang solid dan pengakuan atas posisi politik negara-negara tersebut yang dipandang tidak memusuhi kepentingan Iran di kawasan," ujar juru bicara otoritas maritim Iran dalam keterangan resminya yang dikutip pada Kamis (26/3).

Kebijakan diskriminatif ini memicu diskursus mengenai nasib kapal-kapal berbendera Indonesia yang juga bergantung pada jalur Selat Hormuz untuk pasokan energi nasional. Hingga saat ini, nama Indonesia tidak tercantum dalam daftar prioritas tersebut, meskipun Jakarta dikenal memiliki hubungan bilateral yang relatif stabil dengan Teheran. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai efektivitas diplomasi maritim Indonesia dalam menghadapi krisis di Timur Tengah.

Para analis ekonomi internasional memperingatkan bahwa ketidakhadiran Indonesia dalam daftar "jalur hijau" ini dapat berimplikasi pada peningkatan biaya asuransi pelayaran dan risiko keterlambatan pasokan komoditas energi. Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) vital yang melayani hampir sepertiga dari total perdagangan minyak mentah melalui laut di seluruh dunia.

Di sisi lain, keberhasilan Thailand menjadi preseden bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya bahwa pendekatan diplomatik pragmatis dapat menjadi kunci keselamatan aset maritim di zona konflik. Pemerintah Indonesia melalui kementerian terkait diharapkan segera melakukan langkah-langkah strategis untuk memastikan keamanan armada nasional yang melintas, mengingat ketergantungan sektor industri domestik terhadap stabilitas jalur logistik internasional di kawasan Teluk.