Jumat, 20 Februari 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Ini Dia Perbedaan Ronde dan Sekoteng yang Sering Dikira Sama, Lengkap Panduan Resep Mantap Ala Wedang Nusantara

Admin WGM - Thursday, 29 January 2026 | 12:17 PM

Background
Ini Dia Perbedaan Ronde dan Sekoteng yang Sering Dikira Sama, Lengkap Panduan Resep Mantap Ala Wedang Nusantara
Foto Sekoteng (Pinterest.com/Widya/)

Aneka ragam minuman hangat di Indonesia selalu menempatkan dua nama besar di puncak klasemen. Wedang Sekoteng dan Wedang Ronde. Meski keduanya sering muncul di jam tayang yang sama, yakni saat suhu udara mulai turun di malam hari, mereka memiliki spesialisasi taktik dan susunan pemain yang sangat berbeda. Memahami anatomi keduanya bukan sekadar soal rasa, melainkan apresiasi terhadap akulturasi budaya yang menetap di dalam mangkuk.

Sekoteng: Si Ringan dengan Formasi Pemain Komplit

Sekoteng masuk ke arena sebagai kontestan yang mengandalkan keragaman tekstur. Dalam perspektif jurnalistik kuliner, Sekoteng adalah representasi minuman yang "ramai". Kuahnya cenderung jernih dengan dominasi rasa jahe emprit yang tajam dan pedas. Fokus utama Sekoteng bukan pada satu bintang utama, melainkan pada kerja sama tim antara berbagai bahan isian.

Susunan pemain inti dalam semangkuk Sekoteng terdiri dari kacang hijau, kacang tanah goreng yang memberikan sensasi renyah, pacar cina yang kenyal, hingga potongan roti tawar. Seringkali, kolang-kaling juga ikut turun ke lapangan untuk menambah tekstur. Tanpa isian yang lengkap ini, Sekoteng akan kehilangan identitasnya sebagai minuman yang menawarkan pengalaman mengunyah di setiap tegukan.

Ronde: Sang Maestro Tekstur dengan Akurasi Rasa

Berseberangan dengan Sekoteng, Ronde tampil dengan strategi yang lebih terpusat. Ia tidak butuh banyak pemain pendukung karena sudah memiliki bintang utama yang sangat kuat yaitu bola-bola ketan. Berakar dari tradisi Tangyuan asal Tiongkok, Ronde adalah hasil evolusi budaya yang sangat sukses di tanah Jawa. Bola ketan ini memiliki tekstur kenyal di luar namun menyimpan kejutan manis di dalam berupa pasta kacang tanah yang gurih.

Kuah Ronde biasanya menggunakan gula merah (wedang), memberikan warna yang lebih gelap dan rasa manis yang lebih legit dibandingkan Sekoteng yang seringkali menggunakan gula pasir. Jika Sekoteng adalah tentang keramaian, Ronde adalah tentang kedalaman rasa. Fokus penikmatnya hanya satu yaitu memastikan bola ketan pecah di mulut dan menyatu dengan hangatnya kuah jahe.

Panduan Eksekusi Resep di Dapur Sendiri

Berikut adalah instruksi teknis untuk menyiapkan dua racikan legendaris ini agar performanya maksimal saat disajikan.

Bahan Dasar Kuah Jahe

  • 150 gram jahe (bakar dan memarkan)
  • 2 batang serai (geprek)
  • 1 liter air
  • Gula (Gula pasir untuk Sekoteng, Gula merah untuk Ronde)
  • Sedikit garam untuk penguat rasa

Bahan Isian Sekoteng

  • Pacar cina (rebus matang)
  • Kacang tanah sangrai
  • Kacang hijau (rebus empuk)
  • Roti tawar (potong dadu)

Bahan Isian Ronde

  • 200 gram tepung ketan
  • 150 ml air hangat
  • Isian: Kacang tanah sangrai hancur dicampur sedikit gula pasir dan garam

Langkah Pembuatan:

  1. Masak Kuah: Rebus air bersama jahe dan serai hingga mendidih dan aroma pedasnya "menendang". Masukkan gula sesuai jenis wedang yang dibuat.
  2. Bentuk Ronde: Campur tepung ketan dengan air hangat sedikit demi sedikit hingga kalis. Ambil sedikit adonan, isi dengan pasta kacang, lalu bulatkan. Rebus dalam air mendidih hingga mengapung sebagai tanda sudah "siap tempur".
  3. Penyajian: Tata isian sesuai kategori (Sekoteng atau Ronde) di dalam mangkuk, lalu siram dengan kuah jahe panas.