Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Menolak Punah di Tengah Modernisasi, Telusur Jejak Jajanan Pasar Legendaris yang Tetap Memikat Lidah

Admin WGM - Friday, 13 February 2026 | 02:45 PM

Background
Menolak Punah di Tengah Modernisasi, Telusur  Jejak Jajanan Pasar Legendaris yang Tetap Memikat Lidah
Jajanan tradisional pasar khas Indonesia (RRI/)

Di tengah gempuran tren kuliner mancanegara dan invasi makanan cepat saji yang serba praktis, terdapat satu sudut di pasar-pasar tradisional yang seolah waktu berhenti berputar. Aroma harum daun pisang yang dikukus, gurihnya parutan kelapa, serta legitnya gula aren masih setia menyapa para pemburu rasa setiap fajar menyingsing.

Jajanan pasar, atau yang sering disebut sebagai kudapan tradisional, bukan sekadar pengganjal perut di pagi hari. Ia adalah manifestasi budaya, simbol keramahtamahan, dan rekaman sejarah rasa yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui tangan-tangan terampil para pembuatnya.

Keberadaan jajanan pasar yang masih eksis hingga saat ini membuktikan bahwa lidah masyarakat Indonesia memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan cita rasa autentik. Meski estetika penyajiannya kini mulai bersaing dengan kue-kue modern di gerai papan atas, jati diri jajanan tradisional tetap tidak tergantikan. Kekuatan utamanya terletak pada penggunaan bahan-bahan alami tanpa bahan pengawet sintetik, sebuah prinsip yang kini kembali dicari oleh masyarakat yang mulai sadar akan kesehatan.

Salah satu primadona yang wajib dicoba dan tetap menjadi penguasa meja makan adalah Klepon. Bulatan kecil berwarna hijau yang terbuat dari tepung ketan ini menawarkan sensasi kejutan di dalam mulut. Saat digigit, cairan gula merah yang hangat akan meletus, memberikan keseimbangan rasa manis di tengah gurihnya baluran parutan kelapa.

Warna hijaunya yang alami biasanya didapatkan dari ekstrak daun suji atau pandan, yang sekaligus memberikan aroma harum yang khas. Klepon bukan sekadar camilan; dalam filosofi Jawa, ia melambangkan kesederhanaan dan kelembutan lahiriah yang menyimpan kekayaan batin di dalamnya.

Tak jauh dari popularitas Klepon, terdapat Kue Lumpur yang menawarkan tekstur lembut dan lumer di lidah. Terbuat dari campuran kentang, tepung terigu, santan, dan telur, kudapan ini biasanya dihiasi dengan kismis di bagian atasnya. Teknik pemanggangan tradisional menggunakan tungku arang memberikan aroma asap yang tipis, menambah dimensi rasa yang tidak mungkin dihasilkan oleh mesin modern. Keberadaan Kue Lumpur di nampan-nampan pertemuan resmi hingga hajatan kampung menunjukkan fleksibilitas sosial dari jajanan ini; ia bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa memandang kasta.

Bagi pencinta rasa gurih, Lemper tetap menjadi pilihan utama yang sulit digoyahkan. Ketan putih yang dikukus dengan santan kental, lalu diisi dengan suwiran ayam atau abon sapi yang telah dibumbui, menciptakan perpaduan rasa yang mengenyangkan. Dibungkus rapi dengan daun pisang yang disemat lidi, Lemper membawa pesan tentang keeratan hubungan antarsesama, sebagaimana sifat ketan yang lengket satu sama lain. Aroma daun pisang yang layu terkena panas kukusan memberikan karakter wangi yang meningkatkan selera makan secara instan.

Selain itu, kita tidak boleh melupakan eksistensi Getuk yang merupakan bukti kreativitas nenek moyang dalam mengolah bahan pangan lokal seperti singkong. Getuk Lindri, dengan tampilannya yang berwarna-warni dan dicetak menyerupai mi yang dipadatkan, adalah ikon keceriaan di pasar tradisional. Teksturnya yang padat namun empuk, dipadukan dengan taburan kelapa parut yang sedikit asin, menciptakan harmoni rasa yang sangat membumi. Di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, Getuk bukan sekadar penganan, melainkan simbol ketahanan pangan yang telah menyelamatkan masyarakat di masa sulit.

Selanjutnya, terdapat Serabi yang kini mulai mengalami transformasi modern tanpa meninggalkan akar tradisionalnya. Serabi Solo yang tipis dan bersantan atau Serabi Bandung yang lebih tebal dengan kinca gula merah tetap memiliki basis penggemar yang militan. Rahasia kelezatan serabi yang melegenda terletak pada penggunaan tungku tanah liat. Pori-pori yang terbentuk di permukaan serabi akibat panas yang tidak merata dari kayu bakar menciptakan tekstur kenyal yang unik, sesuatu yang sulit direplikasi oleh kompor gas maupun induksi.

Namun, keberlanjutan jajanan pasar ini menghadapi tantangan besar, terutama terkait regenerasi pembuatnya. Proses pembuatannya yang memakan waktu lama dan membutuhkan ketelatenan tinggi sering kali membuat generasi muda enggan untuk menekuninya. Padahal, potensi ekonomi kreatif dari sektor kuliner tradisional sangatlah besar. Membeli jajanan pasar bukan sekadar mendukung pedagang kecil, melainkan juga turut serta dalam upaya konservasi budaya takbenda Indonesia.

Sebagai penutup, menjelajahi deretan jajanan pasar legendaris adalah perjalanan spiritual bagi indra perasa. Setiap gigitan membawa kita kembali pada kenangan masa kecil sekaligus memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Pastikan nampan di meja makan Anda sesekali dihiasi oleh warna-warni kue tradisional ini, bukan hanya karena rasanya yang nikmat, tetapi karena di dalam setiap potongannya terdapat doa dan harapan para perajin pangan lokal untuk tetap lestari.