Kamis, 19 Februari 2026
Walisongo Global Media
Foodhunt

Fenomena "War Takjil" 2026: Bukan Sekadar Rebutan Gorengan, Tapi Simbol Toleransi Masa Kini

Admin WGM - Wednesday, 11 February 2026 | 05:38 PM

Background
Fenomena "War Takjil" 2026: Bukan Sekadar Rebutan Gorengan, Tapi Simbol Toleransi Masa Kini
war takjil (kompasiana.com/)

Ramadan di Indonesia selalu punya cara unik untuk menyatukan masyarakat. Di tahun 2026 ini, fenomena "War Takjil" atau aksi berburu takjil di sore hari kembali menjadi sorotan utama di media sosial. Menariknya, aktivitas ini tidak lagi hanya didominasi oleh umat Muslim yang berpuasa, tetapi juga diramaikan oleh teman-teman non-Muslim (nonis) yang tak kalah antusias mengincar kolak dan gorengan sejak jam 3 sore. Apa yang awalnya dimulai sebagai konten jenaka di TikTok, kini telah bertransformasi menjadi salah satu potret toleransi beragama paling organik dan menyenangkan di Indonesia. Ramadan bukan lagi sekadar ritual ibadah satu golongan, melainkan festival kuliner dan budaya yang dinikmati semua orang.

1. "War Takjil": Diplomasi Lewat Kolak dan Gorengan

Fenomena ini membuktikan bahwa makanan adalah bahasa universal. Di berbagai pasar kaget Ramadan, pemandangan antrean panjang yang cair dan penuh canda antara mereka yang berpuasa dan yang tidak menjadi bukti nyata betapa kuatnya ikatan sosial kita. Media sosial berperan besar dalam membungkus interaksi ini dengan narasi yang positif dan menghibur.

2. Digital Detox: Tren Baru Menjaga Kekhusyukan

Selain keseruan di jalanan, ada budaya baru yang mulai tumbuh di kalangan anak muda: Digital Mindfulness. Banyak orang mulai membatasi penggunaan gawai menjelang berbuka (ngabuburit) untuk benar-benar menikmati momen kebersamaan nyata dengan keluarga atau teman, alih-alih hanya sibuk mendokumentasikan makanan untuk konten.

3. Kebangkitan UMKM Lokal yang Go-Digital

Budaya "War Takjil" ini juga menjadi nafas segar bagi ekonomi rakyat. Banyak pedagang musiman yang kini sudah melek teknologi, menyediakan pembayaran via QRIS dan sistem pre-order lewat WhatsApp untuk menghindari antrean "perang" yang terlalu padat. Ini menunjukkan bahwa tradisi Ramadan bisa berjalan beriringan dengan modernisasi.

4. Sisi Edukasi: Kebersihan dan Keamanan Pangan

Dengan masifnya fenomena ini, muncul juga kesadaran kolektif tentang pentingnya kebersihan pangan dan pengurangan sampah plastik. Komunitas-komunitas anak muda kini sering melakukan aksi bersih-bersih setelah "War Takjil" usai, membawa pesan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari semangat Ramadan.

Ramadan 2026 mengajarkan kita bahwa persatuan tidak harus selalu dibahas lewat diskusi berat, tapi bisa dimulai dari piring plastik berisi gorengan dan segelas es buah. Fenomena "War Takjil" adalah pengingat bahwa di balik perbedaan keyakinan, kita tetap bisa berbagi kegembiraan yang sama. Ingat ya, Winners, kemenangan sejati di bulan suci ini bukan hanya soal menahan lapar, tapi soal seberapa besar hati kita bisa merangkul sesama dalam kebersamaan. Selamat berburu takjil, tetap tertib, dan jangan sampai kehabisan ya!