Jumat, 11 September 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Dini Hari, Status Siaga dan Zona Bahaya Diberlakukan

Azizatul Khifdiyah - Wednesday, 09 September 2026 | 11:21 AM

Background
Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Dini Hari, Status Siaga dan Zona Bahaya Diberlakukan
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Rabu (9/9/2026) dini hari pukul 00.47 WIB. Simak laporan terbaru mengenai status Level III (Siaga), durasi letusan, hingga imbauan radius bahaya dari otoritas pemantau vulkanik di sini. (kompas.com/)

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami aktivitas erupsi pada Rabu, 9 September 2026, tepatnya pukul 00.47 WIB. Peristiwa yang terjadi di kawasan perairan Selat Sunda ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih berada pada tingkat yang cukup tinggi. Meskipun letusan terus berlangsung, visual letusan tidak dapat teramati secara langsung dari pos pemantauan karena terkendala kondisi di lapangan.

​Informasi mengenai letusan ini disampaikan oleh Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno. Berdasarkan laporan yang dirilis, erupsi yang terekam pada seismograf tersebut berlangsung relatif singkat dengan durasi selama 28 detik. Peralatan pemantauan vulkanik mencatat bahwa getaran gempa letusan tersebut memiliki amplitudo maksimum sebesar 51 milimeter.

​"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Rabu, 09 September 2026, pukul 00:47 WIB. Visual letusan tidak teramati," kata Suwarno, Rabu.

​Kendati visual erupsi tidak terlihat secara kasat mata, otoritas tetap mencatat peningkatan intensitas vulkanik melalui instrumen pemantauan otomatis yang terpasang di sekitar gunung. Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dipastikan masih berada pada Level III atau Siaga. Tingginya status tersebut mengindikasikan bahwa potensi bahaya akibat letusan susulan dapat terjadi sewaktu-waktu.

​Menanggapi kondisi darurat ini, otoritas vulkanologi mengimbau warga sekitar untuk selalu meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas. Petugas juga menetapkan zona bahaya yang melarang pemukiman, wisatawan, maupun nelayan untuk mendekati kawah dalam radius yang telah ditentukan. Langkah antisipasi ini diambil untuk mencegah timbulnya korban jiwa akibat lontaran material atau bahaya vulkanik lainnya di perairan.

​"Masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau diminta tetap waspada dan tidak mendekati gunung api maupun melakukan aktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi," ujarnya.

​Selain pembatasan radius aktivitas, warga juga diingatkan untuk selalu mengedepankan informasi resmi dari otoritas tepercaya guna mengantisipasi ancaman bahaya yang ada. Penjagaan ketat dan pemantauan berkala terus dilakukan untuk mengamati perkembangan erupsi yang menunjukkan peningkatan intensitas dalam beberapa hari terakhir. Suwarno menegaskan pentingnya menyaring setiap kabar angin agar tidak timbul kepanikan di tengah masyarakat.

​Masyarakat diharapkan tidak membagikan atau memercayai kabar simpang siur yang sumbernya belum terverifikasi secara jelas. Mengutip imbauan dari pos pengamatan, acuan utama bagi warga lokal maupun nelayan harus tetap bersumber dari otoritas resmi pemerintah. Erupsi pada Rabu dini hari ini menambah rentetan panjang erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih fluktuatif hingga saat ini.