Minggu, 5 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Ambisi Israel Tak Pandang Bulu, Tiga Prajurit TNI Perdamaian Lebanon Gugur saat Kawal Logistik di Lebanon Selatan

Trista - Tuesday, 31 March 2026 | 03:29 PM

Background
Ambisi Israel Tak Pandang Bulu, Tiga Prajurit TNI Perdamaian Lebanon Gugur saat Kawal Logistik di Lebanon Selatan
Prajurit TNI gugur saat melaksanakan tugas UNFIL (Jatimnow /)

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia mengonfirmasi kabar duka yang dua prajurit TNI dalam tugas Perdamaian PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) di Lebanon Selatan akibat serangan intens Israel ke wilayah Lebanon, Senin (30/3/2026). Insiden tragis ini terjadi ketika prajurit tengah konvoi kendaraan logistik UNIFIL (United Nation Interim Force in Lebanon) dengan ledakan di dekat Bani Hayyan. 

Sebelumnya, serangan yang menewaskan juga menyasar seorang penjaga perdamaian Indonesia lainnya akibat proyektil yang menghantam pangkalan misi di Ett Taibe dan korban luka kritis lainnya langsung dilarikan ke rumah sakit Beirut. PBB menyatakan serangan Israel yang menewaskan prajurit Indonesia merupakan pelanggaran hukum dan akan melakukan investigasi atas dua serangan tersebut. 

"Belasungkawa sedalam-dalamnya kepada Pemerintah Indonesia dan keluarga tiga penjaga perdamaian UNIFIL yang tewas dalam dua hari terakhir. Para penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target," ungkap Jean-Pierre Lacroix, Kepala Operasi Perdamaian PBB kepada jurnalis dalam jurmpa pers di Markas Besar PBB di New York, dilansir dari laman BBC Indonesia, Senin (30/3/2026). 

Diketahui bahwa prajurit TNI yang meninggal dunia saat menjalankan tugas perdamaian di Lebanon Selatan pada serangan Minggu (29/3/2026), yakni Farizal Rhomadhon. Farizal berpangkat Prajurit Kepala, saat ini  tengah disemayamkan di East Sector Headquarters untuk menunggu penyelesaian administrasi pemulangan ke Indonesia. Sementara itu, untuk prajurit TNI yang gugur atas serangan Israel, Senin (30/3/2026) belum dikonfirmasi resmi identitasnya. 

Pemerintah Indonesia menuntut untuk adanya penerapan hukum yang seimbang dan meminta investigasi menyeluruh serta transparan untuk bisa menemukan sumber dari insiden tragis. Melalui Kemlu, Indonesia mendesak untuk dihentikannya ketegangan konflik dan menyerukan seluruh pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas seluruh wilayah. 

"Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukan penyelidikan yang menyeluruh dan transparan," tulis Kemlu melalui akun X resmi @Kemlu_RI, (30/3/2026). 

Sementara itu, kondisi di Lebanon dilaporkan terus memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Baku tembak lintas batas dan serangan udara semakin intensif sehingga penempatan pasukan perdamaian dalam zona rentan. Meskipun UNIFIL memiliki protokol keamanan yang ketat dan dasar hukum yang kuat tetapi serangan Israel di bawah rezim Netanyahu menunjukan mereka tidak peduli dengan hukum internasional, personel PBB, dan nyawa manusia yang mendedikasikan diri untuk perdamaian. 

"Dalam segala upaya yang dapat kami lakukan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada mereka, baik melalui lembaga kemanusiaan maupun melalui penghubung dan koordinasi. Ini telah menjadi 24 jam yang sangat memilukan bagi kami di Lebanon Selatan, situasinya sangat tidak menentu, sangat berbahaya," ungkap Kandice Ardiel, Juru bicara UNIFIL melalui akun resmi X @UNGeneva, (30/3/2026). 

Kondisi demikian tentunya menjadi alarm merah untuk seluruh negara bahwa ambisi Israel untuk penguasaan wilayah tidak sesuai dengan hukum yang berlaku serta tidak pandang bulu siapapun yang diserang. Sudah seharusnya semua otoritas dunia turut serta dalam mendukung dan mewujudkan perdamaian dunia.