Senin, 6 April 2026
Walisongo Global Media
How's Going

Alot! Bahlil Akui Sulit Evakuasi Tanker Pertamina dari Selat Hormuz, Ini Langkah Pemerintah

Admin WGM - Saturday, 28 March 2026 | 12:00 PM

Background
Alot! Bahlil Akui Sulit Evakuasi Tanker Pertamina dari Selat Hormuz, Ini Langkah Pemerintah
Bahlil Akui Sulitnya Evakuasi Kapal Pertamina dari Selat Hormuz (tvOne /)

Pemerintah Indonesia mengakui adanya tantangan besar dalam upaya mengeluarkan dua kapal tanker milik Pertamina yang saat ini masih tertahan di perairan Selat Hormuz, Iran. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proses negosiasi untuk mendapatkan akses lintas bagi armada pengangkut energi nasional tersebut tidaklah mudah, mengingat ketatnya pengawasan maritim yang diterapkan otoritas Teheran di tengah eskalasi konflik regional.

Meskipun Iran telah merilis daftar negara sahabat yang mendapatkan izin melintas, Indonesia hingga kini belum masuk dalam daftar prioritas tersebut. Hal ini memaksa pemerintah untuk melakukan pendekatan diplomatik lapis kedua guna membujuk pihak Iran agar memberikan pengecualian bagi kapal-kapal pengangkut komoditas vital Indonesia. Hambatan ini memicu kekhawatiran akan stabilitas stok energi domestik jika pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk terus mengalami penundaan.

"Kami akui situasinya cukup kompleks. Tidak mudah membujuk otoritas di sana untuk membuka akses secara instan, namun komunikasi intensif terus dilakukan. Fokus utama kami adalah memastikan dua tanker Pertamina dapat keluar dengan aman tanpa mengganggu hubungan bilateral," ujar Bahlil dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (28/3).

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memberikan sinyal optimisme yang lebih moderat. Pihak Kemlu menyebut telah menerima tanggapan positif dari otoritas Iran terkait nasib kapal-kapal Pertamina tersebut. Respons ini dinilai sebagai langkah awal yang konstruktif menuju penyelesaian masalah melalui jalur "pintu belakang" diplomasi, meskipun implementasi di lapangan masih memerlukan koordinasi teknis yang mendalam.

Sebagai langkah antisipasi terhadap risiko krisis energi, pemerintah telah menyiapkan strategi mitigasi dengan mencari sumber pasokan alternatif dari wilayah Afrika dan Amerika Latin. Diversifikasi ini dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional apabila ketegangan di Selat Hormuz berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang diprediksi semula.

Hingga saat ini, tim gabungan dari kementerian terkait dan Pertamina terus memantau posisi kapal serta kondisi awak di lapangan. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan personel dan keamanan aset negara tetap menjadi prioritas tertinggi dalam setiap langkah lobi internasional yang diambil untuk menembus blokade terbatas di jalur pelayaran paling krusial di dunia tersebut.