Unik! Lopis Raksasa Krapyak Jadi Daya Tarik Syawalan di Pekalongan
Admin WGM - Friday, 27 March 2026 | 11:30 AM


Tradisi Lopis Raksasa di kawasan Krapyak, Kota Pekalongan, menjadi salah satu ikon perayaan Syawalan yang selalu dinantikan masyarakat setiap tahunnya. Digelar sekitar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri, tradisi ini tidak hanya menghadirkan kuliner khas, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang kuat.
Lopis merupakan makanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang dibungkus daun pisang, kemudian direbus dalam waktu lama hingga matang. Dalam perayaan Syawalan di Krapyak, lopis dibuat dalam ukuran yang tidak biasa, yakni raksasa, dengan berat yang dapat mencapai lebih dari satu ton.
Proses pembuatan lopis raksasa ini melibatkan partisipasi masyarakat secara luas. Warga setempat bergotong royong mulai dari tahap persiapan bahan, pembungkusan, hingga proses perebusan. Tidak jarang, proses memasak membutuhkan waktu hingga dua hari dua malam untuk memastikan lopis matang sempurna.
Pembuatan lopis raksasa biasanya dilakukan di halaman terbuka dengan menggunakan alat masak berukuran besar. Tumpukan kayu bakar digunakan untuk menjaga api tetap menyala selama proses perebusan berlangsung. Aktivitas ini menjadi pemandangan menarik sekaligus menunjukkan semangat kebersamaan warga.
Setelah lopis matang, acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan. Momen ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan Syawalan di Krapyak. Lopis raksasa kemudian dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan dibagikan kepada masyarakat yang telah berkumpul sejak pagi hari.
Pembagian lopis dilakukan secara gratis dan terbuka untuk umum. Ribuan warga, baik dari dalam maupun luar daerah, rela mengantre untuk mendapatkan bagian dari lopis tersebut. Bagi masyarakat, memperoleh potongan lopis raksasa diyakini membawa berkah dan menjadi simbol kebersamaan.
Secara filosofis, lopis memiliki makna yang erat dengan perayaan Syawalan. Bentuknya yang padat dan proses pembuatannya yang panjang melambangkan kesabaran dan ketekunan. Sementara itu, kebersamaan dalam proses pembuatan hingga pembagian mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Tradisi ini juga tidak lepas dari sejarah perkembangan budaya Islam di Jawa. Syawalan sendiri merupakan bagian dari rangkaian perayaan setelah Idulfitri, yang identik dengan kegiatan saling memaafkan dan mempererat silaturahmi. Kehadiran lopis raksasa menjadi simbol rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
Selain memiliki nilai budaya, tradisi Lopis Raksasa Krapyak juga memberikan dampak positif dari sisi pariwisata dan ekonomi. Setiap tahunnya, perayaan ini menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan langsung proses pembuatan hingga pembagian lopis. Hal ini turut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.
Pemerintah daerah bersama masyarakat terus berupaya menjaga kelestarian tradisi ini. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari pengemasan acara yang lebih tertata hingga promosi melalui media digital. Meski demikian, esensi dari tradisi tetap dipertahankan, yaitu kebersamaan dan rasa syukur.
Di tengah perkembangan zaman, Tradisi Lopis Raksasa di Krapyak tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Pekalongan. Keberadaannya menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat terus hidup dan berkembang tanpa kehilangan makna aslinya.
Dengan nilai-nilai yang dikandungnya, Lopis Raksasa tidak sekadar menjadi sajian kuliner, tetapi juga simbol persatuan dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa perayaan tidak hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang mempererat hubungan antar sesama.
Next News

Kilas Balik Hari Populasi Dunia: Menilik Tantangan Demografi Global Masa Kini
in 6 hours

Dari Sumpah Gajah Mada ke Ruang Angkasa: Asal-usul dan Filosofi Nama Satelit Palapa
2 days ago

Tiga Mahakarya Kuno Asia Tenggara: Menjelajahi Sejarah Agung Borobudur, Angkor Wat, dan Bagan
2 days ago

Serupa tapi Tak Sama: Menemukan Kemiripan Kosakata Bahasa Indonesia dan Tagalog Filipina
2 days ago

Terkubur di Bawah Hamparan Pasir, Kota Kuno dari Era Bizantium Ditemukan di Oasis Dakhla Mesir
4 days ago

Bukan Dongeng Pengantar Tidur Biasa, Ini Fungsi Tersembunyi Cerita Rakyat Zaman Dulu
4 days ago

Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah di Era Digital (Menjaga Identitas Bangsa)
5 days ago

Menolak Lupa: Peran Pahlawan di Balik Berdirinya Bank Nasional Pertama di Indonesia
6 days ago

Sempat Dicap Racun Revolusi, Primadona Pantura Kini Kembali Menjemput Takhta Tradisi
8 days ago

Batang Art Festival Berpeluang Masuk Kalender Event Nasional, Angkat Budaya Lokal ke Panggung Lebih Luas
12 days ago





