Tiga Bulan Menjabat, PM Jepang Sanae Takaichi Resmi Bubarkan DPR!
Admin WGM - Friday, 23 January 2026 | 11:15 AM


Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara resmi membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Jumat (23/1/2026) untuk membuka jalan bagi pemilihan umum dini (snap election) yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Februari 2026.
Langkah itu diumumkan setelah Takaichi mengonfirmasi rencananya untuk mengakhiri masa kerja parlemen lebih cepat dari jadwal reguler tahun ini. Dengan pembubaran DPR, seluruh 465 kursi di majelis Jepang akan diperebutkan dalam pemilu mendatang.
"Saya mempertaruhkan masa depan politik saya sendiri sebagai perdana menteri pada pemilihan ini. Saya ingin publik menilai secara langsung apakah mereka akan mempercayakan pengelolaan negara kepada saya," ujar Takaichi dalam konferensi pers pada Senin (19/01) dikutip dari BusinessTimes.com.
Keputusannya membubarkan DPR datang hanya sekitar tiga bulan sejak ia menjabat, yaitu Oktober 2025. Hal ini menjadi sorotan di tengah dinamika politik nasional. Takaichi mengatakan pembubaran ini diperlukan agar rakyat dapat menilai secara langsung kepemimpinannya dan memberi mandat baru kepada pemerintahan yang dipimpinnya. Menurut rencananya, masa kampanye resmi akan dimulai pada 27 Januari 2026, beberapa hari setelah pembubaran parlemen.
Melansir dari CGTN News pada Jumat (23/1), Takaichi juga menjelaskan bahwa dengan pemilu ini, Jepang akan memperoleh mandat yang lebih jelas untuk melanjutkan kebijakan ekonomi dan pertahanan di tengah tantangan.
Pemilu ini menjadi ujian elektoral pertama bagi Takaichi sejak menjabat. Ia berharap mendapatkan dukungan publik yang lebih besar untuk program peningkatan belanja negara, pembentukan stimulus ekonomi melalui pemotongan pajak, dan penguatan kebijakan pertahanan di tengah ketegangan regional.
Menurut sejumlah laporan internasional, Takaichi bahkan menawarkan penangguhan pajak konsumsi 8 persen untuk makanan selama dua tahun sebagai bagian dari paket kebijakan yang dipromosikan menjelang pemilu, meskipun hal ini diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap pendapatan negara.
Pembubaran parlemen dan pemilu dini ini menarik kritik dari kubu oposisi yang menilai langkah tersebut adalah strategi politik untuk menguatkan posisi Takaichi dan partai penguasa, bukan sekadar respons terhadap kebutuhan legislatif rakyat.
Bagi partai oposisi, isu ekonomi, khususnya biaya hidup yang meningkat menjadi senjata utama dalam kampanye mereka untuk menarik suara pemilih. Sementara itu, Takaichi menegaskan rakyatlah yang akan menjadi hakim atas arah pemerintahan Jepang melalui pemilu ini.
Next News

Fenomena Pemadaman Listrik Bergilir Resahkan Warga, Waka MPR Desak PLN Benahi Infrastruktur
in 5 hours

Gelar Aksi di Kantor DPRD Sementara, Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya Suarakan Isu Lokal dan Nasional
in 5 hours

Zona Merah Lahan Hijau Pekalongan Terancam Proyek PSEL, Wali Kota Pekalongan Soroti Darurat Sampah
in 5 hours

Motor Diangkut Dishub Saat Ambil Pesanan, Driver Ojol Menangis dan Mohon Kendaraannya Dikembalikan
in 5 hours

Video Aksi Diduga Mata Elang di Rawamangun Viral, Disebut Meresahkan Pengendara Perempuan
in 5 hours

SPPG di Jateng Wajib Serap Telur dan Daging Ayam Peternak Lokal untuk Program MBG
in 4 hours

BMKG Catat Rentetan Gempa Dangkal di Sesar Kendeng, Warga Diminta Tetap Waspada
in 5 hours

Jembatan Garuda Merah Putih Capai 70 Persen, Akses Kendal-Batang Segera Lebih Mudah
in 4 hours

Urai Kemacetan Akhir Tahun, 10 Ruas Jalan Tol Baru Siap Dibuka Fungsional Jelang Nataru!
in 4 hours

Teken Damai dengan Iran, Donald Trump Dihujani Kritik Pedas dari Internal Partai Republik
in 3 hours





