Tantang Tiongkok, Presiden Taiwan Pertegas Eksistensi di Afrika lewat Kunjungan Eswatini
Admin WGM - Tuesday, 05 May 2026 | 04:00 PM


Ketegangan di Selat Taiwan kembali memuncak seiring dengan langkah diplomatik agresif yang diambil oleh Pemerintah Taiwan di tengah kepungan pengaruh Tiongkok. Presiden Taiwan, Lai Ching-te, secara resmi melakukan kunjungan kenegaraan ke Eswatini, salah satu sekutu diplomatik terakhir Taiwan di benua Afrika. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis Taipei untuk mempertahankan eksistensi kedaulatannya di panggung internasional, meskipun Tiongkok terus memperketat isolasi politik dan militer terhadap pulau tersebut.
Kunjungan ini menandai babak baru dalam konfrontasi retorika antara kedua belah pihak, di mana Taipei memilih untuk "mencari kawan" guna mengimbangi dominasi Beijing yang kian masif.
Tantangan Diplomatik ke Benua Afrika
Kunjungan Presiden Lai ke Eswatini bukan sekadar seremoni kenegaraan biasa, melainkan simbol perlawanan terhadap tekanan Tiongkok yang terus membujuk sekutu-sekutu Taiwan untuk berpindah haluan. Melansir laporan Metro TV, Presiden Lai Ching-te menegaskan bahwa Taiwan tidak akan tunduk pada intimidasi dan akan terus memperkuat kerja sama dengan negara-negara yang menghargai nilai demokrasi dan kebebasan.
Eswatini tetap menjadi mitra kunci bagi Taiwan di Afrika, di mana kerja sama kedua negara mencakup sektor kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur energi. Langkah berani ini menunjukkan bahwa Taiwan tetap berupaya mencari celah diplomatik di tengah upaya Beijing yang ingin menghapus jejak pengakuan internasional terhadap pemerintahan di Taipei.
Narasi "Mencari Kawan" di Tengah Isolasi
Posisi Taiwan yang kian terjepit secara geopolitik memaksa pemerintahannya untuk lebih aktif di kancah global. Melansir ulasan Kompas Video, Taiwan kini sedang gencar melakukan diplomasi "pintu belakang" dan memperkuat hubungan nonformal dengan negara-negara Barat serta sekutu di Pasifik. Narasi mencari kawan ini menjadi sangat krusial mengingat tekanan militer Tiongkok di sekitar Selat Taiwan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Upaya ini mencakup penguatan kerja sama teknologi dan rantai pasokan semikonduktor, yang menjadi kartu as Taiwan dalam menarik dukungan internasional. Taipei berharap ketergantungan dunia pada produk teknologinya dapat menjadi tameng keamanan ( silicon shield) yang efektif dalam meredam potensi agresi militer dari Beijing.
Kecaman Keras dan Retorika Tiongkok
Langkah diplomatik Presiden Lai memicu respons yang sangat keras dari Beijing. Pemerintah Tiongkok melalui kantor urusan Taiwan memberikan kecaman yang merendahkan terhadap pemimpin Taiwan tersebut. Melansir laporan Sindonews, pihak Tiongkok bahkan mengeluarkan pernyataan provokatif dengan menyebut Presiden Lai Ching-te bertindak "seperti tikus" yang mencoba mencari perlindungan di tengah kejaran hukum internasional versi Beijing.
Tiongkok secara konsisten menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang membangkang dan menegaskan bahwa kunjungan diplomatik semacam itu adalah pelanggaran terhadap prinsip "Satu Tiongkok". Beijing memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mencari dukungan kemerdekaan di luar negeri hanya akan membawa Taiwan ke dalam situasi yang lebih berbahaya dan mempercepat proses "reunifikasi" dengan cara apa pun.
Ketidakpastian Stabilitas Regional
Eskalasi kata-kata ini dikhawatirkan akan memicu respons militer di lapangan, seperti latihan tempur skala besar yang sering dilakukan Tiongkok sebagai balasan atas aktivitas diplomatik Taiwan. Para analis internasional menilai bahwa meski kunjungan ke Eswatini memberikan kemenangan moral kecil bagi Taipei, risiko konfrontasi langsung tetap tinggi.
Hingga berita ini diturunkan, Presiden Lai dijadwalkan akan melanjutkan rangkaian diskusinya mengenai kerja sama ekonomi sebelum kembali ke Taipei. Dunia kini memantau dengan cermat apakah kunjungan ini akan memicu sanksi ekonomi tambahan dari Tiongkok atau justru memicu konsolidasi dukungan yang lebih kuat dari negara-negara demokrasi terhadap status quo di Selat Taiwan.
Next News

Banjir Bandang Terjang Padang Usai Hujan Deras: Belasan Warga Terjebak di Loteng Rumah, Jalan Utama Lumpuh Total
in 7 hours

Sedang Tiduran Main HP, Pemilik Bengkel Tambal Ban di Boyolali Diberondong Tembakan Senjata Airsoft Gun
in 7 hours

Polisi Usut Kasus Berdarah Ambokembang Pekalongan: 4 Tersangka Ditangkap, Penyebab Kematian Masih Misteri
in 7 hours

Buntut Pembatalan Bebas Bersyarat Indra Kenz & Bechi, Kemenkumham Periksa Seluruh Petugas Lapas!
21 hours ago

Harga Minyak Dunia Meroket, Indonesia Bersiap Hadapi Imbas Inflasi dan Beban Subsidi.
21 hours ago

Status Gunung Anak Krakatau Naik Jadi Level III Siaga, Warga Dimbau Tak Panik
14 hours ago

Rumah Dinas Perwira TNI Diduga Jadi Markas Judol, 11 Orang Warga Sipil Diamankan
14 hours ago

Rombongan Pemuda Bawa Celurit Nabrak Gerobak Sate di Kedungwuni, Satu Meninggal Dunia
17 hours ago

Geger Belatung di Menu Makan Bergizi Gratis Banyuwangi, SPPG Beri Klarifikasi
2 days ago

Kasus Pengeroyokan Usai SKNC 2026 Memanjang, Polisi Tetapkan 9 Tersangka
2 days ago





