Sering Lemas di Usia Senja? Kenali Sarcopenia dan Cara Ampuh Mengatasinya
Admin WGM - Friday, 29 May 2026 | 04:00 PM


Seiring bertambahnya usia, perhatian masyarakat terhadap kesehatan lansia biasanya berfokus pada penyakit degeneratif seperti hiperkolesterolemia, diabetes, atau hipertensi. Banyak orang tua yang merasa sudah cukup sehat hanya dengan menjaga pola makan dan rutin melakukan jalan kaki santai di sekitar rumah setiap pagi. Namun, ada satu ancaman senyap yang sering luput dari perhatian, yaitu penurunan kekuatan fisik secara drastis yang membuat lansia menjadi mudah jatuh, lemas, dan kesulitan berdiri dari kursi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lansia adalah kelompok orang yang telah mencapai usia lanjut, sedangkan otot adalah jaringan kenyal dalam tubuh yang berfungsi menggerakkan organ. Di dalam dunia medis, fenomena penyusutan massa, kualitas, dan kekuatan otot yang terjadi secara progresif akibat proses penuaan ini dikenal dengan istilah sarkopenia (sarcopenia). Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, sarkopenia akan menurunkan kualitas hidup lansia secara drastis dan menghilangkan kemandirian fisik mereka dalam melakukan aktivitas harian yang paling mendasar.
Secara biologis, manusia mulai kehilangan massa otot sekitar tiga hingga lima persen setiap dekade setelah memasuki usia tiga puluh tahun. Proses penurunan ini akan berjalan jauh lebih cepat ketika seseorang melewati usia enam puluh tahun. Penyebab utamanya adalah penurunan produksi hormon pertumbuhan, berkurangnya jumlah sel saraf yang mengirimkan sinyal dari otak ke otot, serta penurunan asupan protein harian. Kondisi ini diperparah oleh gaya hidup sedenter atau kurang bergerak yang sering kali dianggap wajar bagi orang tua.
Banyak keluarga yang menyarankan anggota keluarga mereka yang lansia untuk sekadar melakukan jalan kaki santai sebagai olahraga harian. Jalan kaki memang sangat baik untuk menjaga kesehatan sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) serta melancarkan sirkulasi udara di paru-paru. Namun, dari sudut pandang biomekanika dan pemeliharaan otot, aktivitas jalan kaki saja tidak cukup kuat untuk merangsang pertumbuhan atau mempertahankan massa otot rangka, terutama otot tubuh bagian atas dan otot inti tubuh.
Di sinilah letak pentingnya mengubah paradigma olahraga masa tua dengan mulai memperkenalkan latihan beban ringan (resistance training). Latihan beban tidak selalu identik dengan mengangkat alat-alat berat di pusat kebugaran seperti yang dilakukan oleh binaragawan muda. Bagi kelompok usia lanjut, latihan beban adalah aktivitas fisik yang menggunakan tahanan eksternal untuk memaksa otot berkontraksi, yang bisa memanfaatkan berat tubuh sendiri, pita elastis (resistance band), atau botol air mineral sebagai beban terukur.
Mengapa latihan beban ringan jauh lebih unggul dalam melawan sarkopenia dibandingkan sekadar jalan kaki?
1. Merangsang Sintesis Protein Otot secara Maksimal
Saat lansia melakukan latihan beban, terjadi robekan-robekan mikro yang aman pada serat otot. Proses penyembuhan dari robekan mikro inilah yang merangsang tubuh untuk melakukan sintesis protein otot secara aktif. Proses biologis ini memicu otot untuk mempertahankan volumenya bahkan bertambah kuat, sehingga proses penyusutan alami akibat penuaan dapat dihambat secara signifikan.
2. Meningkatkan Kepadatan Tulang (Bone Density)
Sarkopenia hampir selalu berjalan beriringan dengan osteoporosis atau pengeroposan tulang. Ketika otot dipaksa bekerja melawan beban, otot akan menarik tendon yang melekat pada tulang. Tarikan mekanis yang konstan ini mengirimkan sinyal kimiawi ke otak untuk mendepositokan lebih banyak kalsium ke dalam struktur tulang. Hasilnya, tulang menjadi lebih padat, kuat, dan tidak mudah patah saat terjadi benturan.
3. Memperbaiki Keseimbangan dan Mencegah Risiko Jatuh
Jatuh adalah salah satu penyebab utama cedera fatal dan penurunan kualitas hidup pada kelompok usia lanjut. Latihan beban seperti bodyweight squats (duduk-berdiri dari kursi tanpa berpegangan) atau calf raises (jinjit mandiri) secara spesifik melatih kekuatan otot paha, bokong, dan betis. Otot-otot inilah yang berfungsi sebagai fondasi utama penopang keseimbangan tubuh. Ketika otot bagian bawah ini kuat, lansia akan memiliki refleks yang lebih sigap dan postur yang lebih stabil saat berjalan di permukaan yang tidak rata.
Menerapkan latihan beban ringan pada lansia harus dilakukan secara disiplin, bertahap, dan di bawah pengawasan yang tepat, Winners. Mulailah dengan frekuensi dua hingga tiga kali seminggu selama lima belas hingga dua puluh menit saja per sesi. Pastikan setiap gerakan dilakukan dengan postur tubuh yang benar untuk menghindari cedera sendi.
Menua dengan kondisi fisik yang mandiri, kuat, dan bebas dari ketergantungan pada orang lain adalah sebuah kemewahan yang bisa diupayakan sejak dini. Jangan biarkan otot-otot berharga tersebut menyusut termakan usia. Mari ubah pola olahraga di rumah dan berikan stimulus yang tepat agar tubuh tetap bugar dan bertenaga di usia senja!
Next News

Tak Sekadar Ibadah, Ini Sisi Reflektif Spiritual-Medis Puasa Sebagai Restorasi Usus
7 hours ago

Sering Dialami Pencinta Kopi, Ini Beda Lactose Intolerance vs Alergi Susu Saat Minum Latte
8 hours ago

GERD Kambuh Tengah Malam? Ini Panduan Praktis Posisi Tidur dan Langkah Daruratnya
9 hours ago

Jangan Sampai Tertukar! Intip Komparasi Probiotik dan Prebiotik bagi Bakteri Baik
10 hours ago

Benarkah Perut Punya 'Otak' Sendiri? Mengenal Hubungan Erat antara Usus dan Kesehatan Mental
11 hours ago

Jangan Minum Es! Ini Alasan Kenapa Wajib Minum Air Hangat Setelah Makan Lemak
a day ago

Cuaca Ekstrem Mengancam, Ini Tips Kesehatan Praktis Bertahan di Terik Padang Arafah
3 days ago

Kelenjar Tiroid dan Perannya bagi Energi Tubuh, Ternyata Juga Berpengaruh pada Berat Badan
4 days ago

Hari Tiroid Sedunia Diperingati Setiap 25 Mei, Begini Sejarah dan Tujuan Awal Peringatannya
4 days ago

Jangan Diabaikan, Ini Risiko Penyakit yang Dapat Mengintai Kelenjar Tiroid
4 days ago





