Sekoteng: Minuman Tradisional Penghangat Tubuh yang Tetap Digemari
Admin WGM - Friday, 03 April 2026 | 05:30 PM


Sekoteng merupakan salah satu minuman tradisional Indonesia yang hingga kini masih digemari masyarakat. Dikenal dengan rasa hangat dan manis, sekoteng sering menjadi pilihan untuk dinikmati pada malam hari atau saat cuaca dingin.
Keberadaan sekoteng tidak hanya sebagai minuman pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari warisan kuliner yang terus bertahan di tengah modernisasi.
Asal-usul Sekoteng
Sekoteng memiliki akar budaya yang dipengaruhi oleh tradisi Tionghoa. Nama "sekoteng" diyakini berasal dari istilah "si guo tang", yang berarti minuman dengan empat bahan utama.
Seiring waktu, minuman ini mengalami adaptasi dengan bahan-bahan lokal di Indonesia, sehingga menciptakan cita rasa yang khas dan berbeda dari versi aslinya.
Komposisi dan Cita Rasa
Sekoteng biasanya disajikan dalam keadaan hangat dengan bahan utama berupa air jahe. Kuah jahe ini memberikan sensasi hangat yang menjadi ciri khas utama.
Beberapa bahan yang umum digunakan dalam sekoteng antara lain:
- Jahe
- Gula merah atau gula pasir
- Kacang tanah sangrai
- Roti tawar
- Pacar cina
- Kolang-kaling
Perpaduan bahan tersebut menghasilkan rasa manis, sedikit pedas dari jahe, serta tekstur yang beragam.
Cara Penyajian
Sekoteng biasanya dijual oleh pedagang kaki lima, terutama pada malam hari. Minuman ini disajikan dalam mangkuk atau gelas dengan kuah jahe panas yang dituangkan ke atas bahan-bahan pelengkap.
Aroma jahe yang kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya.
Manfaat bagi Kesehatan
Selain nikmat, sekoteng juga memiliki manfaat kesehatan. Jahe sebagai bahan utama dikenal memiliki khasiat untuk:
- Menghangatkan tubuh
- Membantu meredakan masuk angin
- Meningkatkan daya tahan tubuh
- Melancarkan peredaran darah
Hal ini menjadikan sekoteng tidak hanya sekadar minuman, tetapi juga berfungsi sebagai minuman herbal tradisional.
Eksistensi di Era Modern
Di tengah maraknya minuman modern, sekoteng tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Bahkan, beberapa pelaku usaha mulai mengemas sekoteng dengan konsep kekinian tanpa menghilangkan cita rasa tradisionalnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Sekoteng merupakan minuman tradisional yang memiliki nilai budaya, cita rasa khas, serta manfaat kesehatan. Keberadaannya yang masih bertahan hingga kini menjadi bukti bahwa warisan kuliner Indonesia tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Dengan menjaga dan melestarikannya, sekoteng dapat terus dinikmati oleh generasi berikutnya.
Next News

Tasty Tuesday: 5 Ide Masakan Serba 15 Menit untuk Bekal Kerja Hari Selasa
13 days ago

Masak Bebas Ribet: Cara Membuat Bumbu Dasar Merah, Putih, dan Kuning yang Tahan Lama
18 days ago

Mengenal Tradisi Jumat Berkah: Makna Sosial dan Ide Menu Praktis untuk Berbagi
24 days ago

Menikmati Kehangatan Tradisi Berbagi Makanan Gratis Saat Agustusan di Pekalongan
a month ago

Penawar Stres Paling Ampuh! Alasan Kelembutan Fluffy Cake Sukses Bikin Suasana Hati Langsung Naik Class
a month ago

Cegah Lonjakan Gula Darah! Strategi Menukar Nasi Putih dengan Pangan Lokal
a month ago

Bebas Gluten dan Lezat! Panduan Mengolah Tepung Mocaf dan Sagu Jadi Kue Kekinian
a month ago

Superfood Lokal! 6 Makanan Pokok Indonesia Pengganti Nasi yang Lebih Rendah Glikemik
a month ago

Kenyang Tak Harus Nasi! Mengenal Konsep Diversifikasi Pangan untuk Ketahanan Keluarga
a month ago

Bebas Tekstur Lembek dan Berair, Menguasai Trik Mengolah Jamur Agar Tetap Kenyal dan Kaya Rasa Umami
a month ago





